Romi Guandi ; Bantuan dan Perhatian Tidak Hanya ke Pengusaha yang Itu Saja

26

Romi Guandi, lahir di Majalaya, Kabupaten Bandung 21 Februari 1990, dan kini menekuni usaha kuliner khas Jepang, yakni sushi.  Anak dari pasangan Bobi Setiawan (alm) dan Teti Listra (52) ini, menganut motto hidup “Orang sukses adalah orang yang bisa memberikan manfaat pada banyak orang”.  Ia menekuni usaha kuliner, karena berawal dari kesukaannya pada cemilan, dan ketika ia mengalami sakit, sangat sulit baginya untuk menemukan cemilan yang sehat dan enak. Dari sinilah mulai terpikir olehnya untuk membuat usaha makanan sehat dan  murah.

“Kebetulan saudara saya memiliki usaha restoran sushi,  dan saya terdorong untuk ikut mencoba juga usaha kuliner tersebut dengan harga yang lebih terjangkau bagi banyak orang. Modal awalnya sekitar Rp 7.000.000 yang berasal dari uang pribadi dan pinjaman dari saudara,” cerita Romi mengenai awal usaha kulinernya.

Romi  mengaku, usaha yang dijalaninya saat ini tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikan maupun keluarganya, namun memang karena ia senang memasak dan  ingin  membuka usaha  jajanan sehat.  Kemampuannya memproduksi makanan sushi ini merupakan hasil observasi sebelumnya, yang kemudian dipraktikkannya sendiri.  Dalam sebulan, Romi mampu memproduksi sekitar 950 porsi sushi  yang dikerjakan oleh dua orang pekerja, ditambah dirinya.

Menurut Romi, untuk memproduksi  sushi, tidak memerlukan keahlian khusus.  Bahan baku yang digunakan, sebagian merupakan bahan baku lokal dan sebagian lagi impor, karena belum ada yang memproduksinya di dalam negeri.  Segmen pasarnya  tertuju bagi anak-anak dan remaja.  Ia memilih segmen tersebut,  karena  merupakan segmen pasar yang paling besar.  Sushi hasil produksinya dijual pada kisaran harga Rp 11.000 – Rp 30.000.  Omzet perbulannya sekira Rp 7.000.000, dan rumah produksinya berada di komplek Bumi Harapan, Cibiru Kota Bandung.

“Keunggulan sushi buatan saya bila dibandingkan dengan produk sushi yang beredar di pasaran, tentunya dari harganya yang lebih terjangkau, dan persaingan pasarnya juga belum begitu banyak,” papar Romi kepada BB.

Penggemar warna putih ini mengungkapkan, selama kurang lebih setahun menggeluti usaha sushi, banyak pengalaman yang didapat, antara lain, ketika mengalami kesulitan mencari pekerja serta mencari bahan baku (nori).  Selain itu juga bisa menambah pengalaman dan menambah relasi di bidang kuliner.  Romi  juga mengungkapkan, selain menjadi pengusaha, ia juga bekerja sebagai guru gambar.

“Dikarenakan jadwal mengajar saya fleksibel, saya tidak mengalami kesulitan dalam membagi waktu.  Pagi hari sampai siang saya mengajar, dan sore hari hingga malam saya berjualan. Tidak ada yang menjadi prioritas, karena keduanya bisa berjalan beriringan.  Namun jika harus memilih antar mengajar dan berjualan,  maka saya memilih mengembangkan usaha,” ujar Romi

Menurutnya, agar produk tetap berdaya saing, perlu adanya kreatifitas dan pengembangan usaha yang berkesinambungan.  Oleh karena itulah, ia banyak membangun relasi dengan sesama pengusaha maupun pelanggan, selain terus belajar dan mengikuti pelatihan, seminar atau membaca buku.

“Mengenai hak paten / merk dagang produknya, saat ini sedang diproses untuk menggunakan nama “Sushi & Tale”.  Nama tersebut saya pilih, karena selain membeli dan makan makanan yang sehat, saya ingin pelanggan juga bisa sambil berbagi cerita, sehingga dapat terjalin relasi yang berkesinambungan.  Produk sushi buatan saya harganya lebih murah, dan sesuai dengan selera masyarakat Indonesia,” tutur Romi.

Pemilik “Sushi & Tale” ini menambahkan, sejauh ini, usaha miliknya belum mendapatkan perhatian dari pemerintah.  Romi berharap, pemerintah bisa lebih mendukung UMKM, agar mampu berkembang, dan juga mendorong perangkat terkait untuk lebih aktif terjun ke lapangan, sehingga bantuan dan perhatian yang diberikan oleh pemerintah bisa tepat sasaran. ”Tidak hanya kepada pengusaha yang itu-itu saja,” pungkas Romi kepada BB. (E-018)***