Ketahanan Energi Indonesia Dalam Posisi Net Importir

8

BISNIS BANDUNG —- Pakar Perdagangan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad),  Yayan Satyakti PH.d mengemukakan, saat ini posisi ketahanan energi Indonesia sudah dalam posisi net importir sejak tahun 2003. Berdasar data Statistik British Petroleum (BP) yang memiliki data energi Indonesia sejak tahun 1965 , masa ke emasan migas Indonesia terjadi tahun 1973 hingga tahun 1997. Waktu itu harga minyak dunia US$50/barrel hingga harga tertinggi pada tahun 1976 sebesar US$ 110/ barrel. Sampai tahun 1998, produksi minyak bumi terus menurun sampai harga US$35 , pada tahun 2003 ketika Indonesia menjadi net importir,  harga minyak bumi  US$ 80. Produksi minyak bumi tertinggi Indonesia terjadi pada tahun 1976 dengan produksi  84.96 juta ton oil ekuivalen, hingga tahun 2002  sebesar 63.38 juta ton oil ekuivalen.

Menurut Yayan, sejak tahun tahun 2003 kesenjangan konsumsi dengan produksi terus membengkak dari -2.73 juta ton setara minyak bumi (MToE) menjadi -43.885 juta ton setara minyak bumi (MToE).  Konsumsi minyak bumi Indonesia sebesar 83.40 MToE dengan produksi sebesar 39.523 MToE , jika dibandingkan antara kesenjangan -43.885 dengan jumlah produksi sebesar 39.523, kesenjangan antara penawaran dengan permintaan jumlah kesenjangannya telah 1.1 kali lipat terhadap total produksi. ”Artinya total konsumsi  sudah 1.1 kali lebih banyak dari produksi,” ungkap Yayan .

Indikator ini , lanjut Yayan , menunjukan Indonesia sudah sangat tergantung terhadap ketersediaan energi dari luar serta memiliki tingkat kerentanan eksternalitas yang tinggi jika terjadi hambatan perdagangan internasional serta lonjakan tingkat nilai tukar. Jika melihat harga minyak bumi tertinggi pada tahun 2010  sebesar US$124/ barrel, harga minyak mengalami penurunan hingga tahun 2016 , yakni US$30/barrel . Dikemukakan Yayan , jika kita melihat siklus harga sejak tahun 1965 dan terjadi kembali pada tahun 1980, 2010 kemungkinan siklus akan terjadi pada kembali dalam tengat waktu 20-30 tahun mendatang dengan harga yang akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini disebabkan teknologi fossil fuel tetap ada permintaan karena teknologi fossil fuels akan bertahan selama 30 – 40 tahun ke depan. Walaupun menurut Yayan , teknologi terbarukan terus berkembang dalam lingkup industri dan  teknologi  bahan bakar fossil  .

Jika merujuk pada outlook energi Indonesia ke depan baik menurut versi Kemenkeu dan IMF dengan pertumbuhan ekonomi dikisaran 5-6% serta meningkatnya middle income class dan bonus demografi ,konsumsi energi di Indonesia akan semakin meningkat. Bahkan jika kita lihat dari sisi konsumsi minyak bumi pada tahun 2018  sebesar US$83.409 juta ton setara minyak bumi, jumlah ini mendekati jumlah produksi pada tahun 1974 yaitu US$ 84.9. Artinya, ungkap Yayan ,  konsumsi minyak bumi Indonesia akan semakin meningkat dengan signifikan dan  akan semakn tergantung terhadap migas, jika tidak ada perubahan teknologi untuk menggantikan energi alternatif fossil.

Yayan menyebutkan ,  pada kondisi ini jargon ketahanan energi berbasis regionalism bagi Indonesia sudah berakhir sejak 15 tahun lalu. Artinya, ketahanan energi Indonesia sudah tidak lagi berorientasi ke dalam negeri tetapi penyediaan energi harus berorientasi ke luar negeri. “Ada beberapa skenario yang ingin dilakukan rejim pemerintah saat ini , yakni meningkatkan kinerja industri migas  melalui peningkatkan kinerja rejim fiscal dengan gross split maupun hal sejenisnya. Kebijakan rejim fiskal pada saat ini, hanya bersifat temporer dan masih belum mampu memberikan benefit yang paling maksimal bagi peningkatkan kinerja prpduksi minyak bumi  Indonesia,” ungkap Yayan , baru-baru ini .

Ditutup dengan impor

Akademisi Unpad ini menegaskan,  saat ini rejim manajemen energi Indonesia bukan lagi bersifat trade manajemen, tetapi  sudah beranjak pada investment manajemen. Artinya manajemen energi di Indonesia sudah tidak bersifat menutupi kesenjangan konsumsi dengan impor, tetapi manajemen ketahanan energi melalui peningkatan produksi dengan melakukan investasi migas di seluruh dunia.

  1. Pertamina sebagai salah National Oil Companies diharapkan memiliki orientasi yang sama seperti yang dilakukan oleh Petronas, Petrobras atau PTT yang melakukan manajemen ketahanan energi berbasis investasi. Indonesia melakukan investasi di luar negeri untuk memperoleh minyak lebih murah dan meningkatkan efisiensi Pertamina sebagai National Oil Company.

Keuntungan dari kebijakan ini disebut Yayan ,  akan memperoleh dua manfaat , yakni meningkatkan produksi migas dengan biaya yang relatif murah dan meningkatkan international exposure bagi Pertamina untuk melakukan efisiensi dan bersaing dengan National Oil Companies lain,  seperti Petronas – Malaysia, Petrobras-Brazil, atau PTT – Thailand. Walaupun pada saat ini lifting migas masih dijadikan sebagai salah satu asumsi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). PNBP migas ke depan adalah produksi migas Pertamina berasal dari sumur-sumur migas di Afrika Utara, Asia Tengah, atau Timur Tengah. Hal ini sebetulnya telah dilakukan Pertamina sejak tahun 2010 dengan melalukan investasi di negara seperti Libya, Uzbekistan maupun Irak.

Yayan Satyakti mengungkapkan, keuntungan investasi dari luar negeri ini akan memperoleh produksi minyak lebih murah dan menghemat produksi minyak nasional yang memiliki kualitas minyak lebih baik dibandingkan dengan produk minyak Timur Tengah. Selain untuk menghemat produksi migas nasional yang semakin berkurang, international exposure akan meningkatkan kinerja Research and Development dari Migas Nasional sehingga di masa depan investasi migas nasional akan dikendalikan oleh National Oil Company , yaitu Pertamina. Hal ini penting , karena investasi migas Indonesia ke depan masanya investasi mahal dan sulit. Investasi teknologi migas Indonesia akan semakin mahal karena risiko migas akan membutuhkan biaya explorasi yang lebih sulit lebih dan berisiko tinggi. Walaupun  memiliki potensi migas yang masih besar, namun teknologi eksplorasi ini harus dikuasi oleh Indonesia untuk menurunkan biaya invetasi migas . Teknologi ini dapat dikembangkan dengan melalukan banyak exercise melalui pengalaman eksplorasi dan pengembangan Research and Development migas . Hal ini sangat mirip seperti yang dilakukan oleh Royal Shell maupun BP , orientasi investasi internasionalnya lebih meningkatkan kinerja migas nasional dan kiprah industri migas Indonesia di dunia internasional. Yayan menambahkan , harus diingat bahwa Royal Shell – Belanda adalah perusahaan Multinasional Migas dunia, dimana teknologi minyak yang dimilikinya berdasarkan pengalaman dari ladang-ladang migas Indonesia. “Sudah saatnya industri migas Indonesia berkiprah di dunia Internasional untuk meningkatkan kedaulatan negara akan ketahanan energi dan menghemat sumber daya migas dalam negeri,” pungkas Yayan.  (E-018)***