Disesalkan Gedung Heritage Menjadi Pusat Kebugaran

7

BISNIS BANDUNG – Bangunan  sekitar gedung negara bekas kantor Badan Koordinasi Pemerintahan  dan Pembangunan (BKPP) Wilayah III Kabupaten Cirebon  bakal disulap menjadi pusat kreativitas (creative center).

Padahal  gedung negara yang telah dinobatkan sebagai bangunan heritage tersebut merupakan bangunan bernilai sejarah tinggi peninggalan Belanda. Namun  kenyataan saat ini dalam proses pengerjaan pusat kebugaran, sehingga  tidak sinkron dengan bangunan utama yakni gedung  negara.

Sekretaris Komisi I DPRD Jabar,  Sadar Muslihat menyesalkan pemanfaatan aset Pemdaprov Jabar tidak sesuai dengan bangunan utamanya.

” Gedung negara ini sebagai heritage, tentu dalam ukurannya sudah ditentukan dalam undang-undang. Kami menyesalkan pemanfaatan aset pemorov tak sesuai denagn bangunan utamaya,” ujar Sadar, Kamis (7/11/2019).

Dia menyebutkan tidak diperbolehkan dalam ukuran apapun mengubah apalagi merusak sebelum ada kesesuaian dengan peraturan perundangan yang berlaku.  Sebab heritage ini harus dipertahankan kontruksinya seperti sediakala.

“Jangankan merusak bangunan, merubah kontruksinya pun harus diperhitungkan sesuai peraturan yang berlaku,” katanya.

Sadar menambahkan, terlebih dengan adanya rencana perubahan nama bangunan tersebut dengan istilah asing yakni creative center. Padahal, bangunan utama tersebut sudah terkenal dengan Gedung Negara setelah BKPP di bubarkan semenjak UU no. 23 Tahun 2014 diberlakukan.

“Termasuk dengan penamaannya jangan sampai dirubah, enggak usah pakai istilah Bahasa Inggris, udah aja Gedung Negara,” ucapnya.

Di sisi lain, tambah politisi PKS itu, pembangunan disekitar bangunan Gedung Negara yang tengah digarap seharusnya menyesuaikan dengan bangunan utama. Sementara, dari kontruksinya bangunan yang saat ini dalam tahap pengerjaan, dapat dikatakan tidak mengikuti bangunan utama dan lebih modern.

“Harusnya ada konekting antara bangunan utama dengan bangunan yang sedang digarap. Kalau seperti ini yang ada malah menjadi timpang dengan konsep kontruksi bangunan seperti itu,” tambah dia.

Kendati demikian, ia  menyebutkan, rencana pembangunan seharusnya menyesuaikan dengan bangunan asal. Konsep pusat kebudayaan lebih cocok untuk dijadikan sarana destinasi wisata yang menyediakan hasil kerajinan khas Kacirebonan ketimbang sarana olahraga. Terlebih dengan adanya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dapat berpotensi pariwisata yang menjanjikan.

“Ke depannya tidak menutup kemungkinan dapat menarik minat pengunjung baik lokal maupun internasional untuk datang ke Cirebon, termasuk Gedung Negara. Apalagi aksesnya dipermudah dengan adanya Bandara Kertajati,” ucapnya.

Secara fungsi, anggota yang juga Ketua Persatuan Futsal Jawa Barat itu manambahkan, dengan adanya bangunan tambahan di sekitar Gedung Negara tidak mengurangi nilai estetika dan tidak menyalahi peraturan penganggaran.

“Kalau soal asetnya sudah aman, tetapi jangan sampai ada permasalahan dikemudian hari setelah adanya bangunan tambahan ini yang status bidangnya dibawah Dinas Pemukiman Dan Perumahan (Diskimrum),” tandasnya.

Kepala Bidang Aset, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Jawa Barat,  Yadi Cahyadi menyebutkan, gedung negara ini nantinya akan dimanfaatkan sebagai wahana kebudayaan. Kelak dapat mendukung pariwisata dan pengembangan budaya Kota Cirebon. “Mudahan aset tersebut dapat dimanfaatkan, lantaran  punya nilai sejarah yang tinggi,” tuturnya. (B-002)***