Green Canyon , Semula Angker Kini Jadi Tempat Mendulang Uang

480

Cijulang berada kurang lebih 50 kilometer ke arah selatan dari Kota Ciamis. Daerah ini memiliki morfologi yang khas, berupa perbukitan kars yang tersebar secara luas terutama di bagian tenggara dan barat laut. Dicirikan dengan relief kasar, bukit-bukit kecil  serta saluran bawah permukaan, seperti goa dan sungai bawah tanah, disamping banyak terdapat lembah-lembah kars.

Singkapan kars di sungai terbuka Cijulang (sekarang Kab. Pangandaran) terlihat  berlapis, menandakan hasil proses erosi oleh air, transportasi, sortasi dan terakhir sedimentasi. Selama proses tersebut banyak minera-mineral lain yang terbawa menjadi pengotoro,sehingga bisa dijumpai adanya variasi warna di batugamping.  Di aliran sungai  Cijulang, dijumpai tebing tegakan dan  bongkahan batugamping yang berserakan di dasar sungai, kemungkinan merupakan lorong panjang sungai bawah tanah ambruk.  Sungai ini kemudian dimanfaatkan menjadi tujan wisata body rafting, oleh beberapa pengelola di Cijulang yang menawarkan petualangan pengarungan mulai dari hulu Cijulang,  berakhir di Cukangtaneuh atau kini populer dengan nama Green Canyon, sejaruh 5 kilometer.

Semula , hanya kesenangan yang dinikmati oleh tiga sahabat; yakni  Baban, Rahmat dan Muhajar, ketika mengisahkan awal mula usaha body rafting di sungai Cijulang, Kabupaten Pangandaran. “Saat itu saya dibayar lima ribu rupiah” tandas Baban yang dikenal Bacin, salah satu pendiri BARAJA Body Rafting. Awal mulanya pertengahan 1997 mengajak tamu asing mengunjungi goa kars di ujung sungai Cijulang, yaitu Guha Bau. Penduduk setempat, lokasi tersebut dianggap angker, namun sang tamu bersikeras untuk terjut ke sungai,  hingga 3 km penelusuran dan tiba di Cukang Taneuh. Pesona lingkungan kars tersebut kemudian dijuluki Green Canyon oleh turis dari Amerika, Bill John dan pasangan Frank dan Astrid dari Perancis. Dikawasan ini dtemukan panorma khas goa kars, yaitu kolom, draphery, flowstone, stalactite, stalacmite dan material runtuhan dinding serta atap goa. Awal tahun 2000-an, Baban, Rahmat dan Muhajar, mendirikan usaha bernama Jungle and River Tour, kemudian diganti menjadi BARAJA Body Rafting. Wisata alternatif petualangan ini kini kian berkilau dengan jumlah pengunjung antara 300 – 600 orang yang datang, umumnya pada setiap akhir pekan dan hari libur panjang . Obyek wisata ini telah mendongkrak laju ekonomi Cijulang  yang disebut produk ekonomi kreatif yang diawali tanpa sengaja.(Deny Sugandi/Aktivis Lingkungan) ***