Daya Serap Lulusan  STAI Sabili Capai 80 %

22

BISNIS BANDUNG – Daya serap  lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sabili mencapai 80 persen, termasuk alumni yang diterima menjadi karyawan di berbagai lembaga, pemerintahan dan perusahaan. Bahkan, banyak para lulusan yang sudah mendapatkan pekerjaan sebelum diwisuda, seperti memiliki usaha mandiri atau  entrepreneur.

“Rata-rata perusahaan menawarkan langsung ke mahasiswa bersangkutan atau meminta kepada pihak kampus. Setelah melihat kompetensi mereka selama proses magang,” ujar  Ketua STAI Sabili, Dr Yus  Hermansyah, MSi  dalam acara wisuda di Gedung Balai Sartika, Jln. Suryalaya, Kota Bandung, Selasa (12/11/2019).

Sebanyak 346 lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sabili mengikuti sidang terbuka senat, dalam rangka prosesi wisuda sarjana tahun akademik 2018/2019. Mereka berasal dari prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah).

Dalam menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0,  menurut Yus, pihaknya melakukan penyesuaian kurikulum, terutama dengan kebutuhan perusahaan. Seperti melalui program pendidikan jarak jauh, termasuk pemenuhan sarana dan prasarana yang sesuai perkembangan teknologi digital.

“Kami juga terus berupaya meningkatkan kompetensi SDM, baik mahasiswa maupun para dosen, sehingga jumlah guru besar kami saat ini berjumlah enam orang,” katanya.

Yus menjelaskan, untuk lulusan dari prodi PAI, telah tersebar di sejumlah wilayah di Jawa Barat, mulai menjadi tenaga pendidik atau guru, baik di jenjang PAUD, TK, SD, dan SMP.

“Ada juga yang beberapa di antaranya menjadi wirausaha dengan mendirikan yayasan bagi PAUD maupun TK,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Kadin Jabar, Tata Pria Sudjana berharap para lulusan jangan terlena dengan gelar yang didapatnya, namun harus mereformasi diri. Apalagi era industri 4.0 ini menuntut banyak hal terhadap kemampuan para sarjana.

“Kalau mau sarjana hanya biasa-biasa saja malah menjadi penyakit bukan solusi bagi bangsa ini,” katanya seraya menambahkan sarjana yang dibutuhkan adalah memiliki kualitas akademik dan keterampilan sesuai dengan ilmunya.
“Namun yang lebih penting adalah soft skill baik kemampuan komunikasi, menjalin jejaring, kerja sama, maupun empati dan kepedulian,” katanya.

Selain itu, sikap dan akhlak juga tak boleh dipinggirkan karena sikap ini menentukan kualitas seseorang.

“Bisa saja sarjana memiliki kemampuan yang hebat, namun sikap dalam bekerja kurang baik sehingga kurang disukai rekan-rekan kerja lainnya,” ujarnya dalam acara dihadiri Koordinator Kopertais Jabar dan Banten, Mahmud.

Dalam kesempatan itu juga dilakukan kerja sama antara STAI Sabili dengan Kadin Jabar dan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jabar.

Kerja sama dengan Kadin Jabar untuk memperluas jaringan sekaligus pembinaan kewirausahaan mahasiswa sejak dini. Sarjana lulusan STAI Sabili jangan hanya sebatas mencari pekerjaan melainkan juga membuka lapangan kerja minimal untuk dirinya.

Sedangkan kerja sama dengan Pergunu  Jabar, akan memberikan fasilitas lebih luas kepada para guru honorer.  Nantinya para guru anggota Pergunu Jabar bisa kuliah dengan biaya ringan di STAI Sabili sehingga nantinya semua guru bisa sarjana. (B-002)***