Tidak Ada Impor Pangan

10

      MENTERI Perdagangan, Agus Suparmanto memyatakan, hingga akhir tahun 2019, Indonesia tidak akan melakukan impor pangan. Kebutuhan pangan menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru) memang meningkat. Apabila menjelang Nataru stok pangan di pasar berkurang, Kementerian Perdagangan akan melakukan operasi pasar. ”Kemendag akan terus melakukan penetrasi pasar sebagai antisipasi  meningkatnya kebutuhan Nataru,”kata Agus di Jakarta, seperti dimuat PR  14/11.

        Pemerintah, menurut Mendag, akan terus melakukan pemantauan pasar tetapi tidak akan mengimpor pangan sampai akhir tahun 2019. Mendag menjamin ketersediaan pangan dan kebutuhan pokok masyarakat, jelang Nataru, aman. Pasokan pangan pokok dalam negeri dinilai masih mencukupi kebutuhan masyarakat.  “Meskipun demikian pamarintah  terus memantau stok pangan,”kata Mendag.

          Biasanya menjelang hari raya keagamaan, masyarakat selalu dihadapkan pada kenaikan harga pangan akibat kelangkaan stok dan keterlambatan distribusi. Pasokan berkurang, dipastikan harga akan naik. Untuk menutupi kelangkaan dan keterlamabatan pasokan barang, pemerintrah meningkatkan stok pangan, antara lain dengan meningkatkan volume inmpor.  Tahun ini, kebijakan impor pangan itu mulai ditata disesuaikan dengan ketersediaan pangan nasional. ”Pemerintah tidak antiimpor. Namunn kebijakan impor itu juga harus mempertimbangkan waktu panen,”kata Agus.

          Seperti disampaikan Prersiden, Indonesia masih harus mengimpior beberaspa jenis pangan  sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Sesuai dengan  arahan Presiden, kita harus lebih selektif. Jangan sampai pada saat panen, kita masih impor sehingga pasokan bisa berlebihan,”ujar Mendag lagi. Kebijakan itu tampaknya mulai diterapkan pada awal kerja Kabinet Jokowi. Kebijakan impor benar-benar selektif agar para petani tidak dirugikan, masyarakat konsumen tidak kekurangan pasokan.

          Pembatasan impor pangan sudah lama menjadi harapan dan aspirasi masyarakat, khususnya para petani. Pada musim panen, barang melimpah, mengakibatkan harga merosot apalagi dengan masuknya barang impor. Hasil panen para petani terdesak barang impor yang masuk pasar dengan harga yang lebih murah. Karena itu para petani berharap, impor pangan tidak dilakukan pada saat panen raya. Kebijakan pemerintah meningkatkan stok sebagai cadangan, pada kenyataannya, stok barang impor itu secara bersama-sama, masuk pasar.  Para importrir tidak mungkin menahan barang impornya di gudang mereka. Barang itu harus segera terjual.

          Menjelang Taharu 2019/2020, Kemendag akan melakukan operraski pasar di 15 provinsi di Indonesdia yang warganya banyak yang merayakan Natal dan Tahun Baru. Menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, operasi pasar kali ini tidak akan lepas dari pemantauan. Penetrasi pasar dilakukan langsung oleh pejabat Kemendag Eselonm I dan Eselon II.

        Masyarakat berharap, operasi pasar itu dilakuan secara serentak dan merata. Agar operasi pasar dan penetrasi pasar berjalan sesuai harapan, selain pengawasan yang lebih ketat, penegakan hukum juga harus dijalankan sesuai aturan. Penegak hukum harus berani menindak para spekulan dan pengganggu pasar sejak distribusi hingga ke tingkat konsumen. ***