Pinsa Anhari Yusuf, S.ST. Usaha Mandiri Karena Sulit Mencari Pekerjaan

17

Pinsa Anhari Yusuf, S.ST., lahir di Jakarta 26 April 1988, adalah sosok muda yang menekuni usaha kuliner .

Anak dari pasangan H. Bakhrudin Yusuf (57) dengan Bunyanah (50), serta suami dari Nurita, S.ST. (29) ini menjelaskan, ide usahanya berawal dari sulitnya ia mencari pekerjaan pada tahun 2014, hingga ia memutuskan untuk terjun menjadi seorang entrepreneur.

“Berbekal pelajaran usaha yang diberikan oleh sahabat saya yang juga adalah seorang pengajar dalam dunia usaha, ditambah modal usaha tidak lebih dari Rp 500.000, pemberian dari sepupu dan istri, saya memulai usaha membuat keripik bakso goreng, dan Alhamdulillah hingga sekarang usaha ini sudah berjalan selama 5 tahun,” ungkap Pinsa Anhari.

Pinsa Anhari juga mengakui, profesi / usaha yang dijalaninya saat ini, tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikan maupun keluarganya. Alasan ia memilih usaha tersebut adalah, karena ia senang dengan dunia kuliner  dan hobi memasak, serta mencoba hal-hal baru dalam bentuk kuliner yang kekinian.

“Kemampuan memproduksi didapat dengan belajar dari sahabat, sedangkan design produk saya kerjakan sendiri dengan berbekal kemampuan dalam bidang design editing di komputer secara otodidak. Kemasan produk dibuat secara berbeda, dan saya juga membuat inovasi terbaru berupa keripik bakso goreng ramen instan, yang diseduh dengan kuah bercitarasa khas nusantara,” tutur Pinsa.

Workshop atau tempat produksinya berada di Cimahi.  Dalam sebulan, ia mampu memproduksi kurang lebih 3.000 pieces. Produk keripik bakso goreng buatan Pinsa menggunakan bahan baku lokal, dengan harapan bisa turut membantu dan memajukan ekonomi para nelayan ikan.  Setiap bulan, Pinsa mampu menjual sekitar 1000 pieces hingga 2000 pieces bakso goreng.  Dalam proses produksinya, ia mempekerjakan lima orang tenaga kerja.

Pinsha juga mengatakan, segmen pasarnya adalah pelajar dan wisatawan, karena produknya lebih banyak diminati oleh anak muda yang gemar dengan kuliner kekinian, juga wisatawan yang ingin mencoba makanan khas Jawa Barat. Produk keripik bakso goreng buatan Pinsa dijual dengan kisaran harga Rp 13.000 – Rp 15.000 / pieces.  Pemasarannya juga dilakukan melalui jalur online, dengan segmentasi pasar lokal maupun mancanegara. Produknya sudah pernah diexpor sampai ke Hongkong dan Taiwan.  Omzet perbulannya mencapai Rp 30.000.000 hingga Rp 50.000.000.

Ayah dari Syafira Octaviani Sundari (4,5) dan Syahira Nazwa Aprilia (3 Bulan) ini mengklaim, keunggulan dari produk keripik bakso gorengnya adalah, dari cita rasanya yang khas, yaitu merupakan produsen keripik bakso goreng ramen pertama di Indonesia, dengan inovasi basreng serta ramen (mie), dan juga kuah ramen dengan rasa khas Nusantara, yaitu super pedas, soto koya, kari pedas, dan rendang. Outlet / resellernya terdapat di sejumlah kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Pekanbaru, Payakumbuh, Jambi, Bandar Lampung dan lain-lain.

“Persaingan pasar tidak terlalu berat, karena produk buatan saya termasuk sebagai pionir keripik bakso goreng pertama di Indonesia,” klaimnya.

Hal positif yang diperoleh selama menjalani usaha adalah, jiwa wirausaha semakin kreatif, dan semakin bersemangat dalam menekuni bisnis kuliner. “Pernah suatu hari kami mengikuti suatu bazar di suatu tempat dengan persaingan produk yang banyak, namun Alhamdulillah, kami tetap mendapatkan buyer yang memiliki beberapa outlet di beberapa kota, yang mana ownernya lebih tertarik pada produk kita, sehingga produk kita bisa dipasarkan di outletnya.  Di tahun 2016, saya berhasil mendapat penghargaan terkait sekira 100 pelaku usaha di Jawa Barat yang terinspirasi usahanya,” tutur Pinsa kepada BB di Cimahi.

Menurut penganut motto hidup “Yakusa” (Yakin, Usaha Pasti Bisa) ini, agar produknya bisa tetap berdaya saing, ia berupaya untuk selalu berinovasi dan membuat ide-ide bisnis yang kreatif serta inovatif, sehingga produknya tetap bisa diterima oleh masyarakat.  Pinsa mengakui, hak paten produknya sedang dalam proses, disertai ciri khas produknya, yakni kemasan yang bagus dan logo brand yang menarik. Minat pasar terhadap produknya cukup baik, karena memiliki citarasa yang berbeda dengan kemasan modern lainnya.  Penggemar warna merah ini juga mengatakan, saat ini perhatian pemerintah, perbankan maupun pihak swasta terhadap sektor wirausaha sudah cukup baik.

“Harapan saya, pemerintah dapat lebih memperhatikan kembali para pelaku usaha terutama UMKM, supaya perekonomian kita bisa terus tumbuh dan berkembang,” pungkasnya  kepada BB. (E-018)***