Panjang Jimat Di Keraton Kasepuhan Magnet Kedatangan Pengunjung  

31

           Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau  lazim disebut Muludan di Keraton Cirebon, puncaknya dilambangkan dengan sebuah prosesi yang disebut Panjang Jimat . Prosesi Panjang Jimat atau Pelal yang digelar setiap 12 Mulud merupakan puncak perayaan Maulud Nabi Muhammad. Meski digelar malam hari, Pelal sampai saat ini masih menjadi magnet bagi ribuan warga yang datang dari berbagai pelosok negeri, bahkan tidak sedikit  wisatawan asing yang datang untuk menyaksikannya.Di Keraton Kasepuhan, perangkat Pelal diarak , mulai dari Keraton Kasepuhan menuju Mesjid Agung Keraton yang berjarak sekitar 300 meter. Ada 16 simbol arak-arakan yang menceritakan drama kelahiran Nabi Muhammad.Diawali dari rombongan pembawa payung keropak, tunggul manik, lilin dan damar kurung sampai pembawa tujuh nasi jimat di atas piring besar atau panjang. Ini menggambarkan kesiapan Abdul Mutholib, menyambut kelahiran Nabi Muhammad, cucunya.Keindahan puluhan damar kurung-semacam lampion warna-warni yang mengawali arak-arakan menjadi daya tarik tersendiri. Prosesi diakhiri dengan pembacaan barjanji (asrakalan) dan salawat untuk Nabi Muhammad  SAW.

            Tradisi Panjang Jimat memiliki kekuatan menghadirkan orang untuk berada dalam satu ruang publik , tempat terjadinya interaksi sosial sehingga masyarakat bisa bersilaturahim langsung dengan sultan. Peristiwa Muludan pun berada dalam waktu yang sakral yang diyakini kalau berdoa memiliki kekuatan tersendiri. Maka, berbondong-bondonglah  masyarakat datang untuk memanjatkan doa, berzikir penuh dengan keyakinan dan semangat hidup. Doa, keyakinan dan harapan yang menjadi kekuatan hidup. Di Keraton Kasepuhan, sejumlah benda pusaka, termasuk piring serta perabotan dapur buatan Tiongkok dihiasi tulisan Arab berupa ajaran tauhid bertuliskan Syahadat yang diyakini dibawa langsung oleh Sunan Gunung Jati , diarak dari Bangsal Prebayaksa ke Langgar Agung Keraton untuk dibacakan Barzanji. Jimat sendiri merupakan akronim dari kata “diaji” dan “dirumat” yang artinya ajaran-ajaran Islam dipelajari dan diamalkan dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW. Sebuah pesan simbolik untuk mempertahankan tauhid sepanjang hayat.

            Pada masa lalu, muludun memiliki fungsi ekonomi. Ini dikarenakan pada masa itu muludan menjadi ajang jual beli hasil panen, ikan tangkapan, kerajinan dan sebagainya yang dilakukan  para petani, nelayan, pengrajin dan lainnya. Muludan menjadi ajang bagi masyarakat untuk berkumpul sekaligus memiliki fungsi dalam mempertautkan silaturahim pihak keraton dengan masyarakat. Selain itu Muludan , juga berfungsi untuk mempertahankan eksistensi keraton.  (E-001) ***