Ada yang Kekeringan Ada yang Kebanjiran

12

MUSIM kemarau panjang yang berakibat  hampir seluruh Jawa Barat mengalami krisis air,  masih akan berlanjut. Diperkirakan, kemarau panjang ini akan berakhir pada  akhir November, bahkan diduga akan tembus ke awal Desember. Musibah kekeringan melanda daerah Jabar dari bagian utara sampai pesisir selatan. Krisis air bersih terjadi bukan saja di daerah pesisir, hampr semua kota dan daerah mengalami sulit air.

Di tengah kemarau panjang yang  berakibat pada  gagal panen atu puso, justru terjadi banjir di Kampung Muara Cibuni, Dersa Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Banjir yang menarik perhatian warga itu makin lama makin besar itu diperkitrakan sebagai akibat aliran Sungai Cibuni terhambat. Di bagian hilir, yang tidak terlalu jauh dari muara, aliran sungai tertutup pasir. Selama musim kemarau, sedimentasi terjadi terus menerus dan menghambat air masuk ke laut. Masyarakat setempat menyebut banjir yang merendam persawahan dan perkampungan itu  “banjir bugel”.

Sebetulnya bukan fenomena alam yang mengagetkan karena beberapa daerah terutama yang dekat ke muara, suka mengalami banjir bugel tersebut,  di beberapa daerah di Jabar ada kampong atau sungai yang bernama Cibugel. Sedimen yang menumpuk di muara menutup aliran sungai. Akibatnyua air meluap dan menggenangi dataran di sepanjang sungai tersebut.  Peristiwa di Kampung Muara Cibuni itu justru terjadi pada musim kemarau panjang. Daerah di sekitar kampung itu masih mengalami kekeringan bahkan krisis air.

Kemarau panjang melanda daerah Jawa Barat sejak Juni tahun ini. Pada cuaca normal, kemarau akan berakhir pada bulan Oktober dan mulai November terjadi musim hujan sampai memasuki bulan Januari bahkan Februari. Sampai akhir November ini diprakirakan, Jabar belum masuk musim hujan. Akibatnya terjadi krisis air. Kekeringan terus nmeluas melanda daerah pertanian produktif, termasuk gudang pangan terutama padi. Pantai utara dari Karawang hingga Indramayu-Cirebon, disebut-sebut merupakan daerah yang paling parah.  Semua waduk yang menjadi tumpuan cadangan air, kini mengalami penyuisutan yang cukup signifikan. Aliran irgasi yang airnya bersumber di Jatiluhur, Tarum Barat dan Tarum Timur makin menyusut bahkan kering.

Apabila hujan belum juga turun hingga Desember ini, ketetapan status darurat kekeringan di Jabar harus diperpanjang. Tetapi bukan statusnya yang penting. Pemerintrah  harus fokus menangani akibat kemarau panjang in. Bagaimana upaya distribusi air bersih sampai ke perkampungan, apa saja bantuan yang dapat diberikan menolong rakyat yang menderita krisis air. Selanjutnya, pemerintah harus segera menghitung luas persawahan yang dipastikan puso akibat gagal panen. Berapa pula persediaan yang dimiliki pemerintah (Bulog) sebagai cadangan untuk menutupi kekurangan stok pangan.

Sedangkan fenomena alam yang terjadi di Muara Cibuni, Sukabumi, merupakan peristiwa lumrah yang dapat kita gunakan sebagai pembelajaran. Pertama, perubahan cuaca dapat terjadi kapan dan di mana saja. Kedua, pemeliharaan lingkungan, terutama sungai, tidak boleh berhenti. Sedimentasi akan terus terjadi selama kita tidak peduli terhadap sungai dari hulu hingga mauara. ***