Teknologi Tepat Guna Bagi UKM Mengolah Bahan Pangan Alternatif

23

BISNIS BANDUNG — Pengamat Teknologi Tepat Guna, Fakultas Teknologi Industri Pertanian  Universitas Padjadjaran (Unpad), Anas Bunyamin, S.TP., M.Si mengungkapkan, di Indonesia, beberapa upaya peningkatan dukungan terhadap UKM melalui peningkatan kapasitas dan akses UKM terhadap teknologi dilakukan oleh beberapa Kementerian dan Lembaga terkait  maupun oleh pihak swasta yang memiliki program sejenis.

“Beberapa jenis program tidak secara eksplisit menyebut peningkatan aplikasi teknologi tepat guna, namun jika dilihat dari programnya secara saksama dapat kita lihat bahwa program tersebut menekankan pada pentingnya penguasaan teknologi oleh para industriawan pemula (startup industries). Contoh, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam beberapa tahun terakhir  gencar menggulirkan program pendanaan bagi industriawan pemula yang berbasis teknologi, seperti Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT), Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) dan Industri Berbasis Teknologi (IBT). Di tingkat masyarakat sendiri, penumbuhan teknologi diinisiasi oleh pembentukan Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) yang ada mulai di tingkat desa sebagaimana halnya Posyandu yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat luas,”ungkap Anas.

Secara kuantitas, lanjut Anas , program-program sejenis sudah dilaksanakan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Selain program pemerintah, saat ini berbagai perusahaan swasta , terutama perusahaan skala usaha besar, mulai melakukan pendampingan alih teknologi kepada masyarakat yang aplikasinya disesuaikan dengan bisnis utama perusahaan yang bersangkutan. Program aplikasi teknologi tepat guna bagi produk UKM yang selama ini dijalankan dalam bentuk bimbingan teknis dan workshop. Mulai dari teori penganekaragaman bahan pangan, pencarian alternatif bahan pangan, evaluasi keunggulan dan kelemahan masing-masing bahan sampai pada praktek pembuatan berbagai olahan pangan dengan menggunakan bahan pangan alternatif seperti pembuatan mie dari tepung ganyong.

Menurut Anas Bunyamin, S.TP., M.Si, tren kewirausahaan yang saat ini begitu merebak dimana-mana menjadikan kebutuhan terhadap pelatihan-pelatihan aplikasi teknologi tepat guna meningkat. Sebab program aplikasi teknologi tepat guna merupakan paket yang tidak terpisah dari program penumbuhan kewirausahaan .

Di Jawa Barat , khususnya di Bandung penggunaan tehnologi tepat guna masih stagnan. Hal itu terindikasi dari lambatnya perkembangan teknologi tepat guna yang digunakan oleh UKM. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir , teknologi proses yang digunakan oleh UKM masih menggunakan teknologi proses yang telah digunakan selama lima sampai sepuluh tahun lalu. Contoh, teknologi ekstraksi minyak atsiri, teknologi penggorengan, pengeringan, pembekuan dan lainnya masih menggunakan teknologi sekitar 10 tahun lalu, bahkan beberapa di antaranya merupakan teknologi yang sudah lama sekali.

Dikemukakan Anas, saat ini banyak program yang dilaksanakan tidak dirumuskan dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata dari para pelaku usaha. Hal ini dikarenakan perumusan program  dirumuskan sebagai penjabaran dari misi atau janji politik para pemangku kepentingan. Di Provinsi Jawa Barat ada Pemda yang begitu gencar untuk mengembangkan industri digital di daerahnya karenan hal tersebut  merupakan janji politik dan tematik yang dipilih oleh kepala daerahnya sejak mencalonkan diri menjadi Kepala Daerah. Ketika ditelisik ,  banyaknya pelaku usaha digital di daerah tersebut tidak sampai 10% dari jumlah pelaku usaha yang ada. Sehingga secara legal formal unit usaha digital yang digadang-gadang  tersebut tidak berkontribusi  terhadap pendapatan daerah .

Anas menyebut, teknologi tepat guna (Appropriate Technology) diperlukan tidak hanya oleh UKM dan industri pemula, tetapi juga  diperlukan oleh industri besar . Secara sektoral tidak ada sektor tertentu yang menjadi prioritas utama. Pada dasarnya sektor apa pun memerlukan aplikasi teknologi tepat guna, sektor industri kecil maupun pangan. Khusus untuk kedua sektor tersebut banyak dilakukan oleh para pelaku usaha skala kecil (bahkan mikro) yang teknologinya dapat dimodifikasi dengan mudah. Namun pada industri besar,seperti tekstil, perubahan sedikit saja pada bagian mesin dan pabrikasi tidak dapat dilakukan dengan sembarangan. Karena setiap bahan yang digunakan sudah memiliki spesifikasi yang sulit dimodifikasi.

Industri agro

Menurut Anas , saat ini industri yang menjadi fokus pemerintah dalam aplikasi teknologi tepat guna adalah industri agro dan sejenisnya dengan membangun pusat penelitian dan pengembangan teknologi tepat guna (TTG) yang berada di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di antaranya di Subang, Jawa Barat. Walau  program aplikasi teknologi proses tepat gunanya sudah berjalan hampir di seluruh provinsi, tapi di pulau Jawa sudah relatif maju dalam mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi tepat guna.

Menjawab ada indikasi ego sektoral yang tumpang tindih kewenangannya, antara Kementerian,Instansi, Pemerintah pusat, Provinsi dan kab/kota terhadap mitra binaannya. Dijelaskan Anas , hal itu terjadi karena belum adanya koordinasi yang mantap antara pemilik program yang pada akhirnya program yang berjalan terkesan  sebagai formalitas dan penyerap anggaran .  (E-018)***