Pengusaha Aqiqah Kumpul di Bandung Ekonomi Mengarah Kolaboratif

9

BISNIS BANDUNG– Sekretaris Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Rully Indrawan menilai  koperasi lebih baik dari usaha murni. Untuk itu, keinginan Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia (Aspaqin) untuk berkoperasi, adalah pilihan yang tepat, dan patut diapresiasi.

“Pilihan untuk berkoperasi merupakan  keputusan luar biasa. Karena dunia saat ini bergerak ke arah ekonomi kolaboratif. Perusahaan-perusahaan sebesar apapun, saat ini rasanya tidak mungkin bermain sendir,”  kata Rully dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Aspaqin di Bandung, Selasa (26/11/2019) yang dihadiri Asisten Deputi Standarisasi dan Sertifikasi Sitti Darmawasita, Presiden Aspaqin Hasan Al Banna, Dewan Pendiri Aspaqin Doddy ‘Domba’ Lubis.

Rully menjelaskan, secara kultural bisnis muslim saat ini berkembang luar biasa. Hal itu menjadi bukti bahwa penduduk Indonesia yang sebagian besar muslim, ikut andil dalam menumbuhkembangkan ekonomi halal dan bisnis halal bangsa Indonesia.

“Dunia sangat mengapresiasi perkembangan itu, termasuk juga bisnis yang dikembangkan Aspaqin. Persoalannya, ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dihadapkan pada dua persoalan,” ujarnya.

Pertama adalah, pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Kedua adalah bagaimana neraca perdagangan Indonesia menjadi positif. Karena saat ini masih negatif. “Hal itu disebabkan oleh impor kita yang lebih besar daripada ekspor. Banyak sekali dari komponen-komponen kita yang masih harus impor. Dan itu sulit sekali kita hindari,” ungkapnya.

Untuk itu bila Aspaqin ingin membentuk koperasi, maka akan sangat didukung. Sebab keinginan tersebut termasuk langkah yang luar biasa. Mengingat bisnis anggota Aspaqin adalah bisnis yang produksinya, tidak mengandalkan komponen impor.

“Domba bisa diternakkan disini, dikembangkan disini dan muatan impornya tidak ada. Sama dengan ikan. Ini adalah langkah yang luar biasa. Bandingkan dengan sapi dan ayam, yang pakannya saja sangat tergantung dari impor,” ungkapnya.

 “Semua berkolaborasi, bersinergi. Diksi-diksi yang sudah kita sering dengar belakangan ini, saat kita berkelompok, sebenarnya bisa mendapatkan nilai tambah dari sebuah praktek produksi kita,” tandasnya.

Sementara bagi pebisnis yang berkecimpung dalam syariah, kolaborasi juga ada nilai tambahnya. Selain mendapatkan keuntungan ekonomi, juga mendapatkan pahala silaturahmi.

“Nah asosiasi-asosiasi ini kan selama ini dianggap kecil. Salah satunya, koperasi. Kalau bicara koperasi kesan yang muncul pasti kecil, kumel dan kucel. Padahal tidak, justru margin koperasi lebih tinggi dari usaha murni,” ucapnya.

Dasarnya, jumlah koperasi di Indonesia 126 ribu. Sebanyak 500 diantaranya adalah koperasi besar, yang nilai asetnya di atas Rp 20 miliar. Dengan demikian, rasionya 0,39 persen koperasi yang masuk katagori usaha besar.

Disebut demikian karena dari 64 juta perseroan yang masuk kategori usaha besar, hanya tercatat 6 ribu usaha. Berarti, rasio perseroan hanya 0,01 persen. “Jadi UMKM kita 99,98 persennya masuk kategori usaha besar, yang kecil hanya 0,39 persen,” tukasnya.

Belum Dilirik

Adapun Presiden Aspaqin Hasan Al Banna mengatakan, aqiqah saat ini memang belum banyak dilirik orang. Tetapi setidaknya market bisnis ini sangat besar.

“Bisa kita maklumi, sebab aqiqah ini, pada dasarnya masih perlu terobosan, masih perlu inovasi sehingga industri aqiqah ini bisa tumbuh dan berkembang serta dilirik investor dan seluruh pihak,” tuturnya.

Sedangkan Doddy ‘Domba’ Lubis mengatakan, Aspaqin akan membentuk koperasi. Hal itu agar asosiasi ini bisa terus berkembang dan punya cabang di beberapa negara muslim dunia.

“Kami butuh bantuannya untuk menjadi besar. Kami butuh fasilitasnya, policy-nya, kami butuh uluran tangan dari pemerintah. Banyak teknologi yang kami butuhkan yang murah meriah,” jelasnya.

Sementara, Asisten Deputi Standarisasi dan Sertifikasi Sitti Darmawasita siap membantu Aspaqin untuk membentuk koperasi. Tetapi nantinya, pengusaha aqiqah juga harus segera melakukan standarisasi dan sertifikasi bagi produk KUMKM.

“Agar bisa menjamin posisi usaha dan menjadi lebih aman,” terangnya. Dengan mengurus standarisasi dan sertifikasi, Aspaqin bisa terhindar dari, pelanggaran kekayaan intelektual, dan kekayaan intelektual yang dihasilkannya diakui oleh negara.

“Juga kemudahan dalam pengembangan, usaha antara lain melalui waralaba dan lisensi sehingga menghasilkan profit,” imbuhnya. (B-002)***