Kisah Sukses Berbisnis Aksesori Perhiasan

9
Kisah Sukses Berbisnis Aksesori Perhiasan

AKSESORI perhiasan hingga kini masih menjadi bahan pelengkap tampilan kaum hawa. Dengan aksesori, termasuk juga perhiasan di dalamnya, penampilan perempuan sudah pasti jadi semakin menawan.

Inilah yang membuat bisnis tersebut masih eksis hingga kini. Malah, tidak sedikit dari pebisnis aksesori perhiasan yang menuai hasil positif. Salah satunya Zetria Dharma, pemilik Ria Jewellery.

Perempuan ini membuat ragam produk aksesori perhiasan, mulai dari bros, kalung, gelang, cincin, dan anting. Bahan baku produk tersebut juga aneka macam. Tak cuma emas atau perak saja, tapi juga ada mutiara, termasuk didalamnya mutiara barok, hingga bebatuan.

Kebetulan, Ria memang hobi mengutak-atik bentuk desain aksesori perhiasan tersebut. Tak heran, ragam bentuk dan motif produk aksesori perhiasan tersebut kerap tercipta. “Saya hobi, jadi tangan suka iseng merakit-rakit eh pas dilihat bagus ya jadi lah produk baru kaya bros atau kalung,” kata Zetria.

Adapun untuk mencari bahan baku produk perhiasan tersebut, ia sudah punya jalur, seperti mutiara dari Lombok Nusa Tenggara Barat. Begitu juga dengan perajin aksesori dan perhiasan yang tersebar di sejumlah tempat. Maklum, di tangan merekalah ragam motif perhiasan dan aksesori dari Ria Jewellry bisa dibuat.

Hasilnya, dalam satu hari ia bisa membuat hingga 100 produk aksesori perhiasan dengan ragam motif.  Ia pun membanderol harga mulai dari Rp 500.000 sampai Rp 5 juta per item. Sayang, Zetria tidak merinci rerata pendapatannya. “Yang jelas, lumayanlah,” tuturnya.

Ia sendiri sudah memulai usaha ini sejak 25 tahun lalu. Awalnya, di era 1990-an, saat ikut suami ke luar kota, terlihat pasangan suami-isteri belanja, tapi hanya sang suami yang kerap belanja. Sedangkan si isteri cuma menemani saja. Rupanya di era itu masih jarang produk aksesori perhiasan dijual.

Melihat hal itu, terbesitlah ide untuk memulai usaha produk aksesori perhiasan. “Awalnya membuat aksesori yang kecil-kecil untuk langsung dijual,” katanya.

Saat awal usaha pada 1994, memang tidak berjalan mulus. Terutama untuk mendapatkan bahan baku. Mulai dari mencari batu untuk perhiasan, perak, hingga mencari tukang pahat dan tetek bengek lainnya.

Tanpa patah arang, semua kendala tersebut coba diatasi. Dan secara perlahan bisa teratasi. Hingga akhirnya ia bisa membuat produk aksesori perdana yaitu bros dan gelang. “Modalnya dulu sedikit, karena masih coba-coba,” kenangnya.

Makin lama, usaha aksesori Zetria makin berkembang. Ini tidak terlepas dari segmen pasar yang pas ia bidik yakni menengah atas.

Menjalani bisnis aksesori perhiasan selama 25 tahun hingga kini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Zetria Dharma, pemilik Ria Jewellry. Fakta tersebut tidak terlepas dari hobi beratnya yang suka terhadap produk aksesori perhiasan.

Inilah yang membuat dirinya kerap kali membuat dan merancang ragam bentuk dan motif aksesori perhiasan.  Apalagi produk yang ia buat terbilang spesial karena menyasar segmen menengah atas. Buktinya, banderol produk aksesori perhiasan di gerainya yang ada di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur berkisar antara Rp 500.000 sampai Rp 5 juta per item.

Dan salah satu hal penting di bisnis aksesori perhiasan ini adalah kehadiran motif dan desain baru yang terus ada. Tujuannya adalah supaya para pelanggan tidak hilang dan terus datang.  “Kebetulan saya hobi dan tangan suka iseng rakit-rakit, eh jadi produk aksesori perhiasan,” jelasnya.

Seluruh pekerjaan pembuatan produk perhiasan ia serahkan ke para perajin aksesori yang sudah bermitra dengannya. Bisa tukang ukir, pemahat dan lainnya.

Tanpa menyebut jumlah pasti, para perajin atau mitra kerjanya, Zetria memastikan bahwa upah yang diberikan ke para pekerja atau perajin tersebut memadai. Terlebih jika mereka mendapat banyak order darinya.

Adapun proses pembelian produk dari Ria Jewellry bisa dilakukan dua cara. Ada yang langsung ke toko offline, atau bisa melakukan pemesanan via Whatsapp.

Khusus untuk pembelian secara pesanan, artinya si konsumen sudah punya desainnya sendiri, proses pengerjaannya diklaim tidak terlalu lama. Paling cepat bisa satu hari dan yang terlama sampai tiga hari. “Itu semua tergantung dari motif dan tingkat kerumitan aksesorinya,” jelasnya.

Dari desain yang ada, tugas Zetria adalah memberi arahan kepada para perajin atau juga pemahat. Misalnya, ada produk aksesori dari bebatuan, ia tinggal memberikan batu yang ukurannya memadai.

Uniknya, meski saat ini sudah eranya teknologi digital, Zetria masih enggan memanfaatkannya untuk ekspansi pasar atau sekedar promosi. Justru pemasaran digital bisa mengancam eksistensi produk aksesori dan perhiasannya. Ia takut, desain produknya bisa langsung ditiru.

Maklum saja, produk jualannya menyasar segmen menengah atas. Antara motif yang satu dengan lainnya bisa berbeda dan punya ciri khas. Inilah yang membuat produk Ria Jewellry selalu direspon positif oleh pasar.

Adapun salah satu upaya untuk pemasaran produknya adalah dengan mengikuti ragam pameran atau bazar. Misalnya Indocraft 2019. “Ketemu banyak pelanggan,” ucapnya.                               (C-003/BBS)***