Retno Utaminingsih, STp. – Bermanfaat Dalam Membantu Perekonomian Keluarga

10

Retno Utaminingsih, STp., kelahiran Jakarta 24 November 1982, dan anak dari pasangan Ismo bin Kanyar (69) dengan Tati Sutirah (almh.) ini, berprofesi sebagai pengusaha sepatu di Kota Bandung.

Istri dari Karel Rusbianto (39) ini menuturkan, usahanya dimulai saat ia mengandung anak ketiga. Ketika itu ia kewalahan mengurus orderan sepatu “reseller”, karena Retno masih menjadi reseller produk orang lain, dan harus mengambil barang dari suplier setiap hari. Ketika kandungannya semakin membesar, ia pun memutuskan berhenti melakukan bisnis online, dan fokus menjadi ibu rumah tangga, mengurus suami beserta ketiga anaknya. Namun, disaat itulah justru semakin banyak ibu-ibu rumah tangga yang mendaftar untuk menjadi reseller. Retno kemudian berpikir bahwa, usaha reseller ini ternyata bermanfaat juga bagi ibu-ibu rumah tangga lain yang ingin membantu perekonomian keluarganya, sambil tetap mengurus keluarga di rumah.

“Saya pun berdiskusi dengan suami, yang merupakan mentor bisnis eksklusif saya. Menurut suami, saya akan semakin repot wira-wiri ambil barang di suplier, sementara anak ketiga sebentar lagi akan lahir, termasuk mengurus 2 anak lainnya. Lebih baik membuat merk sendiri saja, dan lagi reseller saya sudah cukup banyak.  Namun bagi saya, untuk membuat merk dan produksi sepatu tentu membutuhkan modal yang besar. Saya tidak memiliki modal besar dan bukan berasal dari keluarga pengusaha sepatu. Akhirnya ridho dari suami saya ternyata terwujud, ketika tiba-tiba ada yang menawarkan kepada saya untuk membuat sepatu dengan merk sendiri. Setelah melakukan negosiasi, akhirnya orang yang menawarkan itu mau membuatkan contoh sepatu untuk diproduksi dalam skala kecil, dengan dana Rp 600.000 yang saya miliki. Usaha ini ternyata bisa berjalan hingga kini, dan tetap dengan perajin yang sama sejak Oktober 2016 dalam memproduksi sepatu, ” tutur Retno kepada BB.

Usaha yang dijalani Retno ini tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikan maupun keluarganya, karena keluarga besarnya adalah PNS dan karyawan swasta.

Retno pindah ke Bandung untuk mengikuti tugas suaminya, yang mana sebelumnya ia merupakan karyawan BRI Magetan Jawa Timur.  Teman-teman mantan rekan kerjanya di BRI sering menanyakan tempat untuk membeli sepatu yang “fashionable” di Bandung, karena Bandung merupakan surganya fashion. Retno menjadi reseller sepatu dari teman suaminya yang juga reseller sepatu. Tanpa sengaja, saat ia sedang mencari kebutuhan display baju, karena ia juga pernah mencoba berjualan baju, di sana Retno menemukan tempat berkumpulnya suplier yang menerima reseller. Selama 2 tahun Retno menjadi reseller dari suplier, hingga ia memutuskan untuk berhenti dan fokus dengan sepatu yang diproduksinya sendiri.

Tempat produksinya berada di Cibaduyut. Dalam sebulan, produksi sepatunya mencapai lebih dari 1000 unit, dengan bahan baku dari bahan kanvas dan sintetis impor, karena lebih awet. Untuk material lainnya, tetap menggunakan bahan lokal berkualitas tinggi.

Ibu dari Nandia Raya Rusbianto (12), Abyan Raka Rusbianto (9) dan Nadine Raida Rusbianto (4) ini mengklaim, dalam sebulan ia mampu menjual sekira 500 pasang sepatu. Segmen pasarnya tertuju bagi konsumen di usia 25 – 45 tahun. Produknya dijual dengan harga Rp 95.000 – Rp 255.000, dan omset per-bulannya sekira Rp 100 juta.  Pemasarannya dilakukan secara online dan juga offline dari basecampnya di Cipadung, Bandung (Eastern Hill Regency). Juga melalui pameran dan ekspo yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta yang tersebar di Indonesia maupun di luar negeri, seperti Kairo (Mesir), Malaysia dan Hongkong.

“Persaingan untuk produsen sejenis cukup banyak, dari lokal maupun luar negeri. Ini menandakan, marketnya sangat bagus dan menjanjikan,” ungkap Retno.

Retno mengatakan, banyak pengalaman menarik yang diperolehnya, yang mana sering mempraktekkan teori afirmasi. Misalnya, ketika ia membutuhkan perajin yang dapat membuat sepatu lebih feminin dan beda dari biasanya.  “Saya terus mencari dan berdoa kepada Allah SWT. Tak lama kemudian, ketika saya sedang menjaga toko, tiba-tiba ada perajin yang menawarkan karyanya yang ternyata sesuai dengan yang saya cari. Bahkan, ketika saya sedang membutuhkan dana untuk melunasi pembayaran yang jatuh tempo, namun saldo kas tidak mencukupi, tiba-tiba saja ada agen baru yang setor besar tanpa banyak konsultasi,” cerita Retno.

Merk dagang “Biantes” milik Retno sudah memiliki hak paten, dan terdaftar HaKI. Keunggulan produk sepatu milik Retno adalah, merupakan sepatu buatan perajin lokal dengan model terbaru yang kasual, nyaman dipakai serta fungsional.

Menurut Retno, saat ini pemerintah sangat gencar membantu wirausaha kecil, untuk memperluas wawasan dan bisa berkembang. Bantuan pemerintah sangat membantu bagi pengusaha pemula yang sebagian besar otodidak, yakni melalui program WUB (Wirausaha Baru), UMKM Juara serta pelatihan, maupun juga dengan pelayanan pengurusan surat dan sertifikat usaha secara gratis, serta membuka peluang kerjasama pihak swasta dengan UMKM. Dari pihak perbankan juga banyak menawarkan program-program pembiayaan bagi pengusaha kecil dengan administrasi ringan.

“Saya harap, program yang sudah berjalan baik dan direspon UMKM dengan sangat apresiatif, serta didukung dengan hasil data pertumbuhan ekonomi yang meningkat, bisa tetap dilanjutkan dan dikembangkan lagi, melalui program advance bagi UMKM yang serius mengikuti serta ingin berkembang. Jika ada bantuan alat yang sifatnya non pengembalian dana, sebaiknya diinfokan melalui akses UMKM secara lebih luas lagi,” pungkas penggemar warna hijau ini. (E-018)***