Ekspor Otomotif Tulang Punggung Ekonomi

8

TIBA-tiba saja Nisan sebagai pabrikan yang turut memproduksi dan memasarkan mobil Datsun, menyatakan, berhenti memproduksi Datsun. Mobil SUV berukuran kecil  dengan CC 1.000 – 1.300 itu tidak lagi diproduksi dan dipasarkan di Indonesia. Menurut Nisan, Pemasaran Datsun masih berjalan, mungkin sampai  stok di pabrik dan diler habis. Para pengguna Datsun akan tetap mendapat pasokann suku cadang dan fasilitas lainnya untuk mobil tersebut.

Sebetulnya Datsun memiliki sejarah sebagai kendaraan pribadi di Indonesia. Sejak tahun 60-an Datsun susdah meramaikan jalanan di kota-kota besar di Indonesia. Datsun kotak, termasuk  banyak penggemarnya. Namun pabrikan justru menghentikan produksinya. Datsun lama tidak muncul di pasar Indonesia. Baru kemudian muncul lagi di bawah naungan Nisan dengan desain yang lebih ramping dan menarik. Datsun Go+  1000 CC mendapat pasar lumayan besar. Melihat peluang pasar yang terbuka, Datsun masuk pasar dengan kapasitas yang lebih besar yakni 1.300 CC. Banyak pemilik Datsun yang menggunakannya sebagai mobil sewa, baik masuk brand Grab maupun Gojek. Banyak pula yang menggunakannya sebagai alat transportasi di luar aplikasi.

Di pasar domestik dan global, Datsun tidak mampu bersaing dengan merk lain yang sudah lebih dulu masuk pasar. Akhirnya Datasun harus mundur dari kancah persaingan.  Amat disayangkan. Di pasar domestik, Datsun masih punya peluiang  dapat bersaing dengan merk lain, apalgi bila Datsun berani tampil denghan desain yang lebih berani,  modrn, dan sesuai dengan gaya hidup dan selera kaum milenial, baik domestik maupun global. Sekarang semua pebrikan yang memproduksi otomotif di Indonesioa tengah berlomba memasuki pasar global. Ekspopr mobil Indonesia bahkan menjadi andalan pendapatan negara di samping komoditsa nonmigas andalan lainnya. Orang menyuebutnhya, mobil merupakan tulang punggung eknomi Indonesia.

Ekspor  mobil Indonesia terus meningkat sejak tahun 2013. Tahun ini ekspor mobbil Indonesia terdiri atas dua jenis yakni built-up dan knock-down. Ekspor completely builtup (CBU) mencapai  264.553  unit. Sedangfkan completely knock down (GKT) sampai  82.0028 set, ditambah  ekspor komponen 86,63 juta buah.  Ekspor itu terutama ke Filipina, Arab Saudi, Jepang, Meksiko, dan Vietnam. Pasar di Timur Tengah dan Afrika masih terbuka. Tidak berlebihan apabila Indonesia menargetkan ekspor CBU akan mencaopai 400.000 unit dan bahkan tahun 2025 ditargetkan mencapai angka 1 juta unit.

Benar, penjualan mobil di dalam negeri tahun 2019 ini melandai dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pasar domestikmelesu karena berbagai hal, antara lain pertuimbuhan ekonomi yang melambat, situasi politik yang berpengaruh besar tehadap pertumbuhan ekonomi ditambah hasil panen yang juga menurun akibat perubahan cuaca.  Faktorlain, kemacetan yang luar biasa di Jakarta dan Bandung serta beberapa kotra besar lainhjya, berpengaruh negarif terhadap  pasar mobil dalam negeri.  Banyak orang yang memilih menggunakan angkutan sewa, seperti Grab dan Gojek, daripada membawa mobil pribadi. Konsumsi BBM tinggi akinat kemacetan di semua jalur jalan.

Diharapkan ekspor mobil Indonesia dalam situasi perang dagang AS-China justru meningkat, Banyak negara yang menunda impor barang dari Chona dan Amerika  akibat situasi pasar yang tidak menentu.  Biarlah rakyat Indonesdia menunda niat membeli mobil dan menggunakan kendaraan massal ketika bepergian. Efektif dan efisien serta mengurangi kemacetan. ***