Tahun 2020 Tahun Lari Cepat

52

TINGGAL  menghitung hari, kita sampai pada penghujung tahun dan memulai perjalanan masuk ke tahun berikutnya. Sepanjang tahun 2019 merupakan perjalanan panjang yang sungguh sangat berat.  Baru pada tahun 2019 kita mengalami kegetiran politik yang laur biasa Serbagai manusia beragama yang dididik oleh orang tua berkehidupan yang bersih, sopan santun, berbicara halus, tidak boleh suudzon apalagi fitnah, segalanya berantakan. Kita terjebak dalam situasi yang nyaris perang baratayudha. Saling maki, saling cerca , saling gibas. Kita sebagai bangsa beradab nyaris kehilangan adab. Bangsa ini seolah hidup pada masa jahiliah, masa-masa prabudaya. Perilaku kita semua tidak lagi berada dalam tuntunan budaya bahkan agama. Hampir saja kita menjelma menjadi manusia liar tanpa kendali.

Pertanyaan berkecamuk dalam diri sebagian orang, harus seperti itukah kita hidup berdemokrasi?  Apakah itu hakikat kebebasan yang kita dambakan dan perjuangkan melalui reformasi? Sepanjang tahun 2019 klita hidup dalam situasi demokrasi yang nyaris kebabalasan. Kepentingan politik menjadi panglima yang membolehkan segala cara kita gunaka untuk mencapai tujuan politik. Cara-cara yang digunakan sebagian besar kaum politisi kita pada tahun politik kemarin itu sungguh di luar pagar dan aturan berdemokrasi. Kita semua terbius dengan kepentingan kekuasaan. Kita tinggalkan norma agama, meninggalkan sikap sunudzon dan saling hormat dengan sikap suudzon dan saling futnah.

Demokrasi, secafra filosofis merupakan kebabasan yang beraturan. Negara dan bangsa Indonesia memiliki pagar berupa tatanan hukum yang jelas berdasarkan kesepakatan politik. Namun selama tahun 2019 ini, semua itu kita tanggalkan dan tinggalkan. Kita lupakan semua ketentuan hukum dan etika. Kita semua terfokus pada kedudukan  dan terlibat dalam  hiruk pikuk politik. Kita semua mengabaikan imbas perilaku politik itu. Pendidikan, hubungan sopsial, kebudayaan, dan ekonomi terdampak bahkan terpapar situasi dan paham poliik.

Pertuimbuhan ekopnomi Indonesia benat-benar terkoreksi. Kita tidak dapat mencapai target pertumbuhan yang sebentuilnya tidak terlalu tinggi. Produk domestic bruto (PDB) tahun 2019 melandai dari triwulan ke triwulan.  Investasi juga menurun.  Pertumbuhan yang melambat itu selain terpapar situasi politik, juga terdampak faktor eksternal. Pengaruh ekstrernal itu .berupa ketuidak-pastian ekonomi global, proteksionisme yang diterapkan negara besar, serta perang dagang AS-China, sungguh menekan perekonomian hampir semua negara, termasuk Indonersia. Beruntung nilai ekspor Indonesia masih bertahan  bahkan merangkak naik.

Ketika ingar bingar politik mereda, Indonesia berkesempatan menata ulang ekonomi. Dalam situasi perekonomian global yang masih belum menguntungkan, Indonesia punya kesempatan yang cukup prospektif. Nilai ekspor yang mulai naik, mendorong laju partumbuban ekonomi. Terbentuknya pemerintahan hasil pemilu, berpengaruh positif pada perekonomian. Diharapkan investasi yang sudah mulai masuk, dapat mendorong pertumbuihan industri dan pembvanbgunan infrastruktur.

Kita berharap, hiruk pikuk politik tahun 2019 tidak terbawa ke tahun 2020 yang tinggal beberapa hari ke depan ini. Kita berharap pemerintah dapat segera melangkah, tidak tersandera dengan  pembentukan struktur pemerintahan.

Mari kita hentikan sentimen dan perseteruan politik. Kita bersama-sama berderap melangkah, menuju masa depan Indonesia yang lebih aman, nyaman, dan sejahtera. ***