ANIMO WARGA TUMPAH RUAH DI GELARAN COKLAT KITA NAPAK JAGAT PASUNDAN MILANGKALA PANGANDARAN KE-7

17

Banyak ragam cara, untuk membuat sesuatu event menjadi sangat istimewa dan berkesan, khususnya kegiatan pelestarian kebudayaan yang ada di daerah tertentu dan sudah dicintai oleh masyarakat luas. Salahsatunya gelaran Coklat Kita Napak jagat Pasundan yang tahun ini kembali hadir di Kabupaten Pangandaran dalam rangka Milangkala Kabupaten Pangandaran yang ke-7. Adapun gelaran ini merupakan kerjasama Coklat Kita dengan Pemerintah daerah Kabupaten Pangandaran, sehingga kegiatan Napak Jagat Pasundan pada Minggu, 3 November 2019 lalu, merupakan malam puncak dan rangkaian kegiatan milangkala Kabupaten Pangandaran, yang berlokasi di Lapangan Grand Pangandaran, tepatnya setelah Gerbang Utama Wisata Pangandaran. Siangnya kemeriahan Karnaval Milangkalanya pun mulai digelar dari pawai budaya, fashion dan kendaraan hias yang tidak hanya di ikuti oleh Kecamatan dan kelurahan/Desa dari Kabupaten Pangandaran saja, melainkan kabupaten Kota di Jawa Barat seperti Purwakarta, Garut, Tasik dan Kabupaten Kota Iainnya, yang di buka langsung oleh Bupati Pangandaran, beserta staf pemkab  serta beberapa stage holder.

Yoga selaku Pihak EO 6 Communication, menyebutkan bahwa Untuk seni budaya yang ditampilkan pun ada 9 sanggar/paguron yang semuanya dari Pangandaran dan selebihnya yang bobotnya mencapai 70 persen menampilkan talent-talent utama dari NJP.

Sementara Ariella Davina Sahertian sebagai Pihak Coklat Kita Rso Bandung, menambahkan selain menjadi permintaan bupati dan masyarakat Pangandaran, “spesialnya NJP ini karena menampilkan talent-talent baru seperti Mang Ohang dan Mang Saswi” ujarnya.

Alhasil sore harinya dilanjutkan dengan kegiatan Napak Jagat Pasundan Pagelaran MilangkaIa Kabupaten Pangandaran yang dibuka dengan Tari Kreasi dari Ega Robot Ethnic Percussion di floor area dan seni Lebon dari Lingkung Seni Jembar Mustika yang dipandu MC Prima Ramadhan & Reva Widi, dilanjut dengan penampiIan dari Sanggar Dangiang Mustika sari yang menampilkan celempung dan kecapi biolanya. Kemudian terdapat penampilan kolaborasi Kecapi rajah Tunggal dengan Eok dan Gondang dari Padepokan Seni Jenggala manik dan Sanggar ligar Munggaran di area mini stage, berlanjut ke panggung utama dengan iringan musik Ega Robot Ethnic Percussion, pembacaan puisi dari kang Dodi Kiwari, tari ethnic koIaborasi Sanggar Algia dan Sanggar Putra Rengganis, sambutan dari Coklat kita dan Bapak Bupati Pangandaran H. Jeje Wiradinata. Lalu acara dilanjutkan dengan penampilan angklung benjang batok dari Sanggar Mang Koko, Jimbot & Friend yang berkolaborasi dengan Mang Saswi, Ega Robot Ethnic percussion yang berkolaborasi dengan Kendangers Pangandaran.

Sementara itu, selain hiburan Budaya, ribuan warga Pangandaran & sekitarnya juga dimanjakan dengan booth lain yaitu booth Kaulinan Lembur, seperti Bedil Karet dan Bedil Jepret, serta photo booth bareng Talent NJP, Ega Robot, Mang Saswi, dan Ohang serta ada satu bangunan yang banyak menjadi Objek foto para pengunjung yaitu Leuit (bangunan lumbung padi).

Giwa Rahman Selaku Deputy Marketing Manager Coklat Kita DSO Banjar menyebutkan, bahwa NJP di Pangandaran ini merupakan NJP yang spesial. Karena rangkaian NJP 2019 sendiri sudah selesai dilaksanakan 3 titik yakni Kabupaten Bandung Barat, Subang, dan Garut, dengan rangkaian penggalian seni budaya dilaksanakan di 13 kabupaten kota.

“Karena selain gelaran NJP, Coklat Kita juga kerja sama menggelar hajat laut di 16 titik. Dan ada even-even silaturahmi budaya. Tampak saat karnaval siang tadi dari 10 kecamatan yang ikut karnaval itu berhasil membuat masyarakat antusias. Semoga ini jadi tontonan yang luar biasa,” imbuhnya.

Sementara itu, Ega Robot selaku Seniman/ Duta Coklat Kita Napak Jagat Pasundan menambahkan bahwa perjalanan NJP di Pangandaran sangat luar biasa dan selalu membuat tantangan baru. Dan ia mengatakan bahwa NJP kali ini formasinya telah berubah. “Kebetulan di Pangandaran disatukan dengan momentum milangkala. Luar biasa, NJP selalu buat tantangan. Jika sebelumnya NJP selalu diperkuat Doel Sumbang tapi sekarang dengan generasi baru,” jelasnya.

Semoga seni Budaya tatar Pasundan bisa selalu bertahan dan tetap kokoh seiring perkembangan zaman dan menjadi salah satu value untuk pariwisatanya. (E-009)***