Dallas Kota Legenda Film Western Turis  Bebas Membeli Senjata

38

SESAMPAI di  Los Angeles , saya , Andreas dan Hengky  , melakukan perjalanan   selama empat jam penerbangan  untuk sampai ke   Dallas ,  negara bagian Texas.  Kota ini merupakan kota tua di Amerika Serikat yang  pada beberapa kawasannya dijadikan lokasi syuting  film western/ film koboy . Jadi tak heran , jika di kota ini kita  melihat sosok koboy berkuda atau menggunakan “bendi”  dengan baju rompi , topi dan senjata tergantung di ikat pinggangnya. Karena Kota  Dallas, merupakan kota  negara bagian Texas yang  memiliki undang- undang  tersendiri mengenai kepemilikan senjata api dibanding dengan negara-negara  bagian lain di Amerika Serikat . Di kota ini , turis bisa  membeli senjata api dengan bebas.  Syaratnya,  memperlihatkan paspor. Bayar , sesuai  jenis senjata yang dibeli .

Sebagai kota tua dan bersejarah terutama dalam dunia perfilman  , di Dallas terdapat sebuah kawasan  bernama  Fort Worth Stockyard  . Sebuah  tempat pengambilan adegan  untuk film-film koboy. Di  kawasan  ini, bisa kita lihat pampangan  tulisan   “Texas Rodeo Cowboy” . Juga terdapat bangunan museum yang berisi aneka peralatan yang digunakan dalam pembuatan film koboy masa lampau.

Ada hal yang unik dan menarik di kota koboy ini , sebagai sebuah kota metropolitan , penganut agama Islam disini cukup banyak. Bahkan ada suatu kawasan yang penduduknya semua beragama Islam dengan bangunan masjid  berdiri cukup representatif . Warga muslim disini , bekerja di berbagai sektor usaha ,    di sejumlah kontraktor , sopir taksi ( private taxi ) , di restoran/pengusaha restoran. Mereka umumnya berasal dari Afrika , Banglades dan Timur Tengah .

Saya yang memiliki “lidah”citarasa Indonesia dalam soal makanan , di kota ini tidak terlalu sulit untuk menyantap nasi . Karena ada restoran yang menyediakannya , walau lauk- pauk pada umumnya berasal dari daging sapi (steak) . Mungkin karena di Kota  Dallas banyak  peternakan sapi.

Dikemudikan pemiliknya

Hal lain yang menarik  di kota ini, pengendara taksi  umumnya dikemudikannya langsung oleh pemiliknya (private taxi). Mobil sedan yang digunakan cukup mentereng dan mewah, seperti Cadilac, Limousin dan Buick. Secara kebetulan, taksi yang saya tumpangi dari Bandara Dallas menuju tempat penginapan pernah ditumpangi  aktor Hollywood terkenal, Tom Cruise dan Paris Hilton. Hal itu, saya ketahui dari sang sopir bernama Mochamad Islam, pemilik taksi yang berasal dari Daka Banglandes. saat ngobrol “ngalor-ngidul” selama perjalanan dari bandara ke penginapan. Taksi disini, tidak dibayar seberapa jauh dari asal sampai tujuan, tidak sebagaimana di negara kita umumnya, pembayaran penggunaan taksi dihitung jarak/jauh.

Di Dallas dihitung berdasar lama waktu penggunaan (sekian menit atau jam) . Sampai di penginapan, saya harus merogoh kocek untuk bayar taksi sebesar  175 dollar AS atau sekitar Rp 2 juta untuk waktu penggunaan kurang lebih satu jam dari bandara dan mampir di restoran. Di  Dallas , saya , Andreas dan Hengky  menginap semalam. Perjalanan berlanjut menuju Arkansas , negara bagian yang terletak di sebelah timur Amerika Serikat  dengan jarak tempuh sekitar 800 kilometer.

Dengan masing-masing menggunakan sepeda motor Harley Davidson yang disewa USD 115 atau  Rp 1,5 juta/hari,  berangkat dari penginapan pukul tujuh pagi waktu setempat . Kami sengaja menggunakan sepeda motor dengan maksud agar lebih bisa menikmati suasana perjalanan. Wilayah yang kami lalui, merupakan  kawasan hutan pinus . Dengan cuaca  dingin  sekitar tujuh derajat celsius, ditambah angin kencang, cukup mengganggu perjalanan kami yang terbiasa dengan iklim  Indonesia. Terpaan angin sangat terasa sekali  pada helm yang saya gunakan dan bibir yang “gemeretak” kedinginan.

Sekitar jam 10 malam, kami tiba di Arkansas. Di kota ini, kami menginap untuk memulihkan stamina yang terkuras saat menempuh perjalanan  jauh dan menembus dinginnya udara, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Tampa Florida, sebuah kota pelabuhan. Dari Arkansas ke Tampa menempuh perjalanan  sekitar 600 kilometer melintas jalan bebas hambatan (Free Way) dan hutan pinus yang dipinggirnya terdapat rawa-rawa yang sesekali terlihat Aligator (buaya) sedang berjemur, Antelope (rusa)  dan  burung elang. Beberapa bangkai Antelope yang tertabrak  kendaraan, tampak tergeletak  di pinggir jalan. Batas kecepatan melaju di jalur Free Way  100 km/jam.  Tampa yang memiliki suhu udara antara 14 – 16 derajat celsius,  merupakan daerah pemukiman orang Indian suku Micco Sukke.

(Dudi dari Amerika Serikat)***