Anas Bunyamin, S.TP., MSi. – Mengamalkan Tridharma Perguruan Tinggi

23

Anas Bunyamin, S.TP., MSi., adalah Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, yang lahir di Sumedang tanggal 22 Februari 1983.  Suami dari Susi Susanti, S.Pd, M.Pd ini mengungkapkan, dirinya menjadi dosen sejak tahun 2012, setelah sebelumnya ia bekerja di Pertamina West Madura Offshore dan Surfactant and Laboratory Research Center – Institut Pertanian Bogor, serta Biomac Corp SDN.BHD.  Motivasinya menjadi dosen adalah untuk mengamalkan Tridharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian serta pengabdian pada masyarakat.

“Latar belakang keluarga saya memang dari bidang pendidikan.  Ayah dan ibu saya berprofesi sebagai guru. Disamping itu, saya juga berharap untuk bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat ,” ungkapnya kepada BB di Bandung.

Anas Bunyamin saat ini sudah 7 tahun bekerja pada bidang pendidikan.  Untuk bidang teknologi, ia sudah bekerja selama 15 tahun.  Ia tertarik menekuni bidang yang berkaitan dengan UKM, karena Indonesia kaya dengan sumberdayanya, sehingga pengembangan teknologi merupakan proses yang menarik untuk dilakukan.  Hingga saat ini, Anas sudah menghasilkan lima scopus indexed dan satu buku.  Ia mengaku, tulisannya yang paling berkesan adalah tulisan dalam bukunya yang membahas bio energi di Indonesia Timur (pulau 3 T).  Wilayah Indonesia bagianTimur seharusnya dapat mandiri energi dengan menggunakan energi terbarukan.

Ayah dari Ainy (9),  Khalifa (5), Maryam (3,5) dan Alfath (1) ini menuturkan, sebelum  menjadi dosen, pada tahun 2013 dirinya termasuk salah satu dari 105 inovasi Indonesia paling prospektif dari Kementerian Ristekdikti.  Selama menggeluti profesi akademisi,  ia mendapat pengalaman menarik, yakni ketika harus mengubah mindset mahasiswa tentang teknologi proses, dari suatu hal yang menjemukan menjadi suatu hal yang sangat menarik, terutama ketika membahas aplikasinya di dunia industri pemula. Pengalaman negatif bisa dikatakan tidak ada.  Kalaupun ada, lebih bersifat tantangan, seperti turun ke desa atau menghadapi para pemuka adat di pedalaman Papua,  serta ketika harus berkomunikasi dengan masyarakat perdesaan Ethiopia yang tidak mengerti bahasa Inggris.

Penganut motto hidup “Never complain” ini akan menekuni profesi akademisi sampai akhir hayatnya, karena di dunia pendidikanlah ia bisa menemukan kebahagiaan yang dicari.  Dengan menjalani profesi sebagai akademisi, Anas memperoleh banyak manfaat, yakni bisa bertemu banyak orang dan belajar banyak hal dari mereka,  serta bisa pergi ke banyak tempat.

“Selain menekuni profesi sebagai akademisi, saya juga merupakan co-founder dari komunitas kewirausahaan The Local Enablers.  Saya pun tidak mengalami kesulitan untuk membagi waktu, karena semua aktivitas saya sejalan dengan inti kegiatan. Bila disuruh memilih, tentu saya akan memilih bidang akademik, karena merupakan basis dari segalanya. Untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, saya melanjutkan pendidikan lagi ke jenjang S3.  Saya berharap, anak saya ada yang bisa meneruskan profesi saya sebagai akademisi, walau tidak semuanya.  Karena saya sendiri merasa sangat berbahagia menjadi seorang dosen.  Ayah dan Ibu saya merupakan sosok yang paling berjasa dalam menjalani kehidupan.  Sedangkan, dosen-dosen saya adalah yang paling banyak memberi inspirasi untuk karier saya sebagai dosen.  Hingga saat ini tidak ada rencana saya untuk beralih profesi, tetap menjadi dosen saja,” tutur Anas kepada BB.

Menurut penggemar warna hitam ini, di masa mendatang dunia pendidikan akan semakin berat, yang mana saat ini gawai sudah semakin diandalkan untuk mengakses ilmu pengetahuan.  Ke depannya, Indonesia harus menguasai teknologi produksi komoditas, karena menurut Anas, pada dasarnya Indonesia merupakan negara komoditas, dan bukan hanya sebatas sebagai negara pasar.  Tanpa penguasaan teknologi proses dan pengolahan, kekayaan komoditas yang dimiliki Indonesia akan sia-sia, bahkan malah akan dikeruk oleh negara lain.

“Faktor yang menyebabkan Indonesia mengalami kondisi seperti saat ini adalah, karena kurangnya kepercayaan diri bangsa Indonesia.  Untuk membenahi kondisi ini, dibutuhkan modal percaya diri dan kemauan untuk maju, sehingga Indonesia mampu bersaing dengan negara berkembang lainnya,” pungkas Anas Bunyamin. (E-018)***