Laba Roti Bakar Masih Tetap Hangat

12

SEBELUM muncul camilan kekinian yang makin marak, mulai kue hingga sosis, roti bakar seolah menjadi kudapan utama dalam setiap kesempatan. Juga, jadi teman kala menyeruput kopi atau minuman hangat lain.

Inilah yang membuat gerai roti bakar begitu mudah Anda jumpai. Kedai ini ada di pinggir jalan raya sampai kompleks perumahan. Situasi ini membuat pengusaha roti bakar menawarkan kemitraan usaha sebagai salah satu upaya berekspansi bisnis.

Langkah tersebut sempat mendapat hasil positif beberapa tahun yang lalu. Kedai atau warung roti bakar marak di mana-mana. Namun belakangan, pamor kedai roti bakar mulai kalah dengan bisnis kuliner kekinian yang semakin tersebar di mana-mana.

Dalam Rubrik Review Waralaba pekan ini, KONTAN mencoba melihat kembali potensi bisnis dari kemitraan gerai roti bakar. Apakah masih bisa bertahan atau mulai kalah bersaing? Untuk lebih jelas, berikut ulasannya:

Roti Bakar Ladzidz

Ini adalah usaha yang dinakhodai Raihan Bahrul Ilmi asal Bogor. Roti Bakar Ladzidz sudah ada sejak awal 2017. Saat redaksi mengupasnya pada 2017, Roti Bakar Ladzidz punya 17 gerai. Perinciannya: 15 gerai mitra dan dua gerai milik pusat.

Dua tahun berlalu, jumlah gerai Roti Bakar Ladzidz bertambah banyak. Gerai mitra ada 20 unit dan milik pusat 10 outlet yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya serta Bogor. “Mitra sekarang ada 20 gerobak dan mereka pakai nama sendiri. Cuma, roti ambil dari kami,” kata Raihan.

Di sistem kemitraan yang Raihan tawarkan, mitra bebas memakai nama usaha roti bakar sendiri. Asalkan, mau membayar paket investasi yang sudah dia tentukan. Kalau sebelumnya Roti Bakar Ladzidz menawarkan paket kemitraan sebesar Rp 3 juta saja, mulai tahun ini naik menjadi Rp 3,5 juta akibat kenaikan harga bahan baku. “Fasilitas yang mitra dapat masih sama,” ujarnya.

Mitra yang bergabung akan mendapatkan gerobak, perlengkapan usaha, roti 100 pak, lima topping roti bakar, margarin, serta susu.

Untuk harga jual roti bakar, hingga kini belum mengalami kenaikan harga. Masih mulai Rp 3.000 per porsi sampai Rp 15.000 per porsi. Bedanya, Raihan mengurangi ketebalan roti. Tapi, dia membebaskan mitra untuk memberi banderol harga roti bakar.

Meski semakin tipis, Raihan mengklaim, rotinya berkualitas karena buatan sendiri. Dan, rasa roti bakar semakin yahud saat ditambah dengan beragam isian atau topping. Misalnya, cokelat, kacang, melon, mesis, nanas, kacang, stroberi, serta keju.

Dengan keunggulan tersebut, Raihan menargerkan para mitra yang mau bergabung dengannya bisa balik modal dalam tempo dua bulan saja. Sayang, ia tidak memerinci omzet yang para mitra bisnisnya dapatkan saat ini.

Yang jelas, kendala yang kerap terjadi di bisnis roti bakar sudah Raihan pecahkan. Yaitu, seputar karyawan untuk mendongkrak produktivitas. Ia pun mulai menerapkan sistem bonus bagi karyawan yang punya kinerja oke.

Dengan upaya itu, Raihan pun optimistis di akhir tahun ini, yang tinggal hitungan satu bulan, bisa menambah lima mitra sampai 10 mitra.

Roti Bakar Nusantara

Pelaku usaha kemitraan roti bakar lainnya adalah Fahri Nugroho asal Yogyakarta. Ia merintis bisnis Roti Bakar Nusantara sejak 2012. Saat redaksi menulisnya Desember 2018, Roti Bakar Nusantara sudah punya 40 gerai.

Saat ini, Roti Bakar Nusantara memiliki 56 gerai mitra dan tiga gerai pusat yang terfokus di Yogyakarta. Dan sejauh ini, Fahri masih memfokuskan usaha roti bakarnya di sekitar Kota Gudeg. Tujuannya, untuk lebih memudahkan menjaga kualitas dan hubungan dengan para mitra bisnis. “Baru pada 2020, kami akan ekspansi keluar Yogyakarta dengan manajemen yang lebih baik,” imbuh Fahri.

Selain gerai yang bertambah, paket investasi kemitraan di Roti Bakar Nusantara juga berubah. Kalau dahulu cuma ada dua paket kemitraan dengan investasi Rp 3,3 juta dan Rp 5,3 juta. Kini, ada tiga paket investasi kemitraan yang Fahri tawarkan. Ada paket hemat senilai Rp 2,3 juta, paket mantap Rp 2,9 juta, dan paket super dengan nilai investasi Rp 5,6 juta.

Perbedaan dari ketiga paket tersebut adalah, untuk paket hemat hanya mendapatkan peralatan dan training, sedangkan paket mantap ada tambahan gerobak portabel. Lantas, paket super memperoleh tambahan gerobak serta teknik promosi digital.

Bagaimana perkembangan bisnisnya saat ini? Beruntung, ada layanan pesan antar makanan dari ojek online yang memberikan efek positif bagi penjualan Roti Bakar Nusantara. “Jelas berpengaruh, konsumen kami cukup berimbang antara yang langsung ke gerai dan pesan melalui ojek online, bisa dibilang fifty-fifty (50:50),” sebut Fajri

Hanya, Fahri mengakui, kompetitor di usaha sejenis saat ini memang banyak bermunculan. Oleh karena itu, inovasi, kualitas roti, topping, kebersihan, tampilan kemasan, dan pelayanan yang baik selalu dia utamakan.

Tak lupa, inovasi rasa juga ia tampilkan. Misalnya, rasa  abon mayones, abon pedas, abon manis, choco crunchy green tea, dan lainnya. “Best seller abon mayones dan choco crunchy green tea untuk saat ini,” ungkapnya.

Selain itu, saban dua minggu sekali tim Roti Bakar Nusantara selalu menyambangi mitra untuk mengetahui perkembangan bisnis mereka. Itulah mengapa, Fahri menyebutkan, tahun ini hanya terfokus di Yogyakarta saja.

Hingga akhir tahun nanti, Fahri menargetkan, hanya menambah tiga gerai mitra Roti Bakar Nusantara lagi. Untuk rencana ekspansi di tahun depan, Roti Bakar Nusantara berencana melebarkan sayap ke Semarang, Solo, dan kemungkinan Jakarta. “Permintaan di luar kota banyak dan baru saya setujui pada 2020,” katanya.

Roti Bakar 88

Pemain usaha kuliner roti bakar lainnya datang dari Roti Bakar 88 asal Tangerang, Banten, yang berdiri sejak 2002 milik Irwan Tanusolihin. Roti Bakar 88 juga sempat menawarkan kemitraan pada 2010. Namun, sudah sejak 2015, Irwan tidak lagi menawarkan paket kemitraan usaha.

redaksi menulisnya tahun lalu, jumlah mitra yang bergabung masih ada tujuh gerai dan 10 gerai pusat. Tahun ini, total keseluruhan gerai berjumlah 36 gerai. Perinciannya, gerai milik mitra tinggal tiga yakni di Pamulang, Kota Bumi, dan Tomang (Jakarta). Sisanya merupakan gerai milik pribadi.

Salah satu hal yang membuat Irwan tidak lagi menawarkan paket kemitraan gerai usaha adalah karena mulai saat ini ia justru lebih senang memperbanyak cabang Roti Bakar 88 milik pribadi ke kota-kota lainnya. “Kami fokus penambahan cabang sendiri saja. Karena itu, Roti Bakar 88 sejak tahun 2015 sudah tidak menawarkan franchise,” katanya.

Selain itu, Irwan merasa kesulitan mengatur manajemen kemitraan, terutama untuk bisa menjaga kualitas makanan yang tersaji serta mengikuti prosedur operasional standar (SOP) yang sudah ia tetapkan. Sebab, “Para mitra sulit menjaga kepatuhan SOP dan menjaga konsistensi mutu makanan,” jelasnya.

Supaya bisnis Roti Bakar 88 tetap hangat, Irwan terus melakukan inovasi menu. Bedanya dengan pebisnis yang lain adalah, bukan dari variasi rasa, tapi tambahan menu di luar roti bakar. Contoh, sate taichan, ayam geprek, roti John, mi instan, hingga cheese tea, dengan harga mulai Rp 2.000 sampai Rp 25.000.

Dengan upaya tersebut, Irwan menargetkan bisa menambah satu cabang lagi di daerah Tangerang. Dan tahun depan, ia memasang target pembukaan 10 cabang. (C-003)***