Belajar melestarikan tanaman buah khas Kalimantan

51

Alam Indonesia memang amat kaya raya dengan berbagai flora dan fauna. Salah satunya Kalimantan. Di pulau terbesar se-Nusantara ini, ada ribuan jenis buah khas pulau yang juga disebut Borneo tersebut.

Fakta inilah yang membuat  Muhammad Hanif Wicaksono jadi kesengsem dengan tanaman buah-buahan khas Kalimantan. Caranya adalah dengan membudidayakan ragam jenis tanaman buah khas Kalimantan.

Saat ini, sudah ada 160 spesies buah langka endemik khas Kalimantan yang sudah ia budidayakan.  “Itu tahun lalu. Dan luas lahan bibit saya kecil, sekitar 8 m x 8 m dan 6 m x 12 m,” kata Hanif.

Jangan salah, upaya budidaya tanaman buah langkah Kalimantan itu tidaklah semudah membalikkan tangan. Usaha tersebut sudah berlangsung selama tujuh tahun, atau tepatnya dimulai 2012 hingga akhirnya ia mempunyai pusat penelitian tanaman buah Kalimantan yang ada di Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Awalnya, saat hijrah dari Blitar ke Kalimantan Selatan bersama sang isteri, Hanif menemukan beberapa buah unik di pasar yang tidak pernah ia temui di Jawa. Lucunya, saat mencari tahu keberadaan pohon dari buah unik tersebut, para pedagang di pasar tidak ada yang tahu.

Rasa penasaran pun bergemuruh di dalam hatinya. Apalagi dirinya memang punya hobi di bidang pertanian. Ia pun mencari tahu keberadaan pohon buah khas Kalimantan. “Saya cari pohonnya, dan makin luas menjelajahnya,” tuturnya.

Ada enam kabupaten di Kalimantan Selatan yang ia sambangi untuk mencari tahu keberadaan tanaman buah khas dan langka di daerah tersebut. Dan banyak masyarakat setempat yang tidak tahu soal potensi ekonomi dari buah khas tersebut.

Setelah mendapat tanaman buah, ia pun langsung membudidayakan. Awalnya hanya sepuluh bibit tanaman buah saja yang ia budidayakan di pekarangan rumah. Makin lama, makin berkembang hingga mencapai 160 spesies tanaman buah khas dan langka dari Kalimantan.

Apa saja buahnya? Ternyata ada yang sama dengan buah di Jawa. Seperti ada buah mangga atau nangka. Tapi jenis mangga di Kalimantan bisa mencapai 20 jenis. Nangka bisa 17 jenis dan durian ada sembilan jenis. “Rasanya enak. Ada durian Lahong rasanya seperti dicelup minyak telon. Enak,” pujinya.

Hebatnya, tanaman buah yang ia budidayakan tidak lah ia komersialkan meski bisa saja ia jual ke luar negeri. Siapa saja yang ingin bibit tanaman buah khas Kalimantan darinya bisa mendapatkan secara gratis. Karena ia ingin tanaman khas ini eksis dan tidak punah.

melalang buana di hutan Kalimantan Selatan tentu menciptakan banyak pengalaman bagi Muhammad Hanif Wicaksono. Pria asal Blitar, Jawa Timur ini mulai melakukan budidaya buah endemik langka di Kalimantan sejak 2012.

Saat berkelana keluar masuk hutan, tentu banyak cerita yang ia alami. Pernah suatu saat ketika ia mencicipi buah-buahan di hutan, lidahnya menjadi mati rasa selama tiga hari. “Awalnya gatal dan kebas selama tiga hari. Saya suka icip buah yang ditemui di hutan,” katanya.

Sayang, sampai sekarang, dirinya tidak mengetahui jenis buah yang membuat lidahnya mati rasa itu. Yang jelas, dirinya tidak kapok untuk terus bergerilya mencari buah-buah langkah dan khas Kalimantan.

Saat menemui sebuah tanaman pohon buah di hutan, ia langsung mengobservasinya lebih lanjut. Caranya dengan memotret dari berbagai sudut. Mulai dari daunnya, batang, pohon secara utuh, bunga, hingga buah. Termasuk juga lokasi tempat si pohon buah tersebut ditemukan.

Tujuannya agar bisa datang  lagi lagi di lokasi tersebut untuk bisa melakukan upaya budidaya. Mulai dari pencangkokkan dan cara lainnya.

Namun, kerap kali, dirinya langsung patah hati tatkala kembali ke hutan untuk melakukan budidaya terhadap satu tanaman buah, ternyata pohon bersangkutan sudah tidak ada lagi. Entah itu ditebang, tumbang atau habis karena terbakar.

Terkadang dirinya tidak bisa langsung melakukan pembibitan saat menemukan pohon buah langka karena harus menunggu waktu yang pas. “Melihat hal ini membuat saya sedih. Apalagi jika si pohon buah itu sudah sulit ditemukan,” lirihnya.

Supaya kesedihannya tidak belarut-larut, ia pun mendokumentasikan seluruh hasil penelitian dan budidaya tanaman buahnya dalam dua buah buku hasil rangkumannya. Pertama berjudul Potret Buah Nusantara Masa Kini dan kedua buku tujuh seri berjudul Buah Hutan Kalimantan Selatan.

Ia berharap buku karyanya bisa bermanfaat bagi generasi penerus. “Buku ini banyak gambar. Anak SD pun bisa paham,” terangnya.

Efeknya, makin banyak orang yang mulai peduli terhadap tanaman buah endemik khas Borneo, termasuk pemerintah setempat. Tak hanya itu, permintaan dari mancanegara untuk bisa mendapatkan bibit tanaman buah khas Kalimantan kerap datang.

Namun ia menolak menjual bibit buah khas Kalimantan ke pihak luar. Justru ia berharap potensi tanaman endemik khas Kalimantan ini dijaga dan dilindungi. Salah satunya dengan membuat aturan khusus untuk melindunginya.  “Tingkat kepedulian orang lokal kurang,” keluhnya yang mewanti-wanti buah lokal diambil pihak lain.

Mengenalkan buah langka asli Kalimantan ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Inilah yang dirasakan Muhammad Hanif Wicaksono yang sudah tujuh tahun berjuang membudidayakan buah khas Borneo.

Semenjak mencari tahu keberadaan endemik pohon ini sejak 2012, Hanif menyadari masyarakat setempat kurang peduli terhadap tanaman tersebut, terlebih mau membudiyakan. Padahal dengan cara ini bisa melestarikan tanaman tersebut.

Akhirnya ia mulai membudidayakan tanaman buah khas Kalimantan di 2016 di Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan. Selain bisa melestarikan si tanaman, ia juga berharap bisa membantu sebagian masyarakat desa ini yang masih pra sejahtera. Jika kita menelaah, buah khas Kalimantan ini punya nilai ekonomi yang cukup tinggi. “Jadi saya membuat pelatihan pembibitan dan memanfaatkan sumber daya genetik seperti ecoprint,” tuturnya.

Hasilnya memang sudah terlihat. Semakin banyak masyarakat setempat yang mengikuti program budidaya ini. “Peduli dulu, ekonomi akan beriringan,” tuturnya.

Ia pun tertantang untuk terus menginformasikan tanaman buah langka Kalimantan ini ke pihak lain. Tidak sebatas di daerah tempat tinggalnya, beberapa pemangku kepentingan ia harapkan bisa terlibat dalam program budidaya tanaman tersebut. Tak cuma pemerintah daerah setempat tapi juga perusahaan swasta dan instansi lainnya.

Sedangkan untuk pengembangan Desa Marajai sendiri, ia  bersama beberapa warga desa lainnya kini tengah mengembangkan ekowisata dengan memanfaatkan hutan beserta tanaman buah khas Kalimantan. “Adapun saat ini kalau mendengar nama Marajai pasti tertuju pada penghasil buah dan jadi ikon buah lokal Kalimantan Selatan,” tuturnya.

Adapun konsep ekowisata yang ditawarkan adalah tur melihat dari dekat hutan desa dengan beragam tanaman endemik di sana, termasuk juga pohon buah khas daerah tersebut. “Jadi istilahnya adalah bio tour dan akan terus kami kembangkan,” ucapnya.

Untuk menarik minat, mulai tahun lalu pihaknya mulai menggelar festival buah khas Kalimantan Selatan. Hasilnya langsung kentara, para turis yang datang tak cuma dari lokal saja tapi juga mancanegara, seperti Jepang dan China. Sayang, Hanif tidak merinci jumlah kunjungan pelancong di desa tersebut.

Uniknya, setiap tamu atau pelancong yang datang di desa terebut tidak dikenakan tarif khusus. Semua diserahkan ke masing-masing pelancong secara sukarela. Ke depan, pihaknya berencana membuat tarif standar bagi para pelancong.

Akhirnya, Desa Marajai makin dikenal. Program pembangunan pun mulai mengalir. Meski begitu, Hanif masih akan terus bergerilya mencari tanaman endemik khas lainnya.  (C-003/Bbs)***