Kisah sukses tunarungu mendirikan gerai kopi dengan brand Kopi Tuli

19

Berbisnis di bidang kopi saat ini memang punya peluang yang besar untuk dijalani. Apalagi kini generasi milenial juga sudah mulai menyukai kopi-kopi kekinian sehingga pasarnya semakin meluas.

Kali ini, ada yang unik dan berbeda dari pelaku bisnis kopi yang baru saja membuka gerai kopinya pada 2018 silam. Kopi ini dinamakan Kopi Tuli yang didirikan oleh ketiga pemiliknya yang tuli atau penyandang disabilitas.

Salah satu pemilik Kopi Tuli yakni Mohammad Andhika Prakoso bercerita bahwa dirinya saat kecil pernah jatuh sakit hingga menyebabkan dirinya mengalami gangguan dalam pendengarannya alias tuli.

Ia juga mengaku begitu sulit untuk bersosialisasi dengan teman-teman lainnya semasa sekolah mulai dari SD,SMP, SMA hingga kuliah. Ia merasa dirinya sulit untuk mengikuti proses pemelajaran selama sekolah karena ternyata penjelasan dari gurunya yang begitu cepat sedangkan ia harus secara pelan-pelan untuk dapat mengikuti apa yang dibicarakan.

Hingga saat itu, Andhika meminta kepada orang tuanya untuk dimasukkan ke dalam bimbel private agar lebih dapat mengerti apa yang diajarkan. Tak berhenti di masa sekolah saja, dirinya juga merasa kesulitan saat di bangku kuliah, ia bilang saat itu sulit sekali bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya bahkan tersulitnya kalau sudah dalam pembagian kelompok untuk mengerjakan tugas.

“Ketika mereka tahu saya tuli, semakin sulit saya untuk diterima dikelompok tersebut,” Jelas Andhika.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya sempat sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan setelah melamar di berbagai tempat. Bahkan setelah dihubungi untuk di interview, perusahaan tersebut bisa langsung menolaknya karena dirinya memiliki keterbatasan.

“Saya dulu pernah lamar ke lebih dari 200 perusahaan. Saat itu ada sekitar enam perusahaan yang memanggil lagi untuk di interview. Tapi begitu mereka tahu saya tuli mereka menolak saya,” tambahnya.

Hingga saat itu, Andhika tak berhenti mencari ide dan pekerjaan apa yang bisa dirinya lakukan. Sampai akhirnya, muncul ide untuk bagaimana membuka bisnis kekinian dengan tujuan yang mulia untuk bisa juga memberdayakan orang-orang disabilitas khususnya tuli untuk mudah mendapatkan pekerjaan.

Saat itu, Andhika memiliki ide bisnis untuk membuka Kopi yang bernama Kopi Tuli.

Uniknya Kopi Tuli ini sangat berbeda dari gerai kopi lain pada umumnya. Gerai ini menjadi salah satu gerai kopi yang pendirinya hingga karyawannya merupakan 100% orang yang tuli atau keterbatasan dalam mendengar.

“Kita juga tidak menyediakan wifi di gerai kita, karena kita mau pembeli juga bisa berinteraksi dengan karyawan disana,” Tambahnya.

Andhika saat ini tengah mempekejakan 10 orang tuli yang terbagi atas barista, pelayan dan kasir. Ia juga bilang, bahwa dirinya tidak akan menerima karyawan yang normal melainkan memang Kopi Tuli ini untuk memberdayakan orang-orang yang memiliki keterbatasan pendengaran.

Selama masa pendirinya Kopi Tuli ini, Andhika beserta dua rekannya hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu tahun untuk mendirikan gerai pertamanya di Depok. Ketiganya aktif dan semangat untuk membuka bisnis ini dengan mencari tahu bagaimana cara pembuatan kopi, survei kopi-kopi yang enak dan layak hingga berdirilah Kopi Tuli.

“Kita buka gerai pertama di Depok itu Mei 2018, dan cabang kedua alhamdullilah sudah buka Jakarta Selatan,” Ujarnya.

Ia juga bilang Kopi Tuli justru mendatangkan animo dan respon yang baik dari masyarakat. Mereka bisa menjual 100-200 cup per hari dan 200-400 cup di hari libur.

“Alhamdullilah selalu ramai, antusias dari pembeli juga begitu tinggi untuk ingin belajar bahasa isyarat dan berinteraksi,” Tambahnya.

Menu-menu yang disajikan juga terbilang unik yakni memiliki 12 menu yang terdiri dari lima non kopi. Menu tersebut antara lain Kosu Koso, Daun Susu, Marmer Hitam, atau Kopi Awan. Harga yang dibanderol mulai dari Rp 19.000 sampai Rp 21.000 per cup.

Nama menu ini sengaja dirancang dengan nama yang berhubungan dengan alam agar ketika pembeli datang mereka akan penasaran dan bertanya sehingga timbul interaksi dengan para karyawan yang tunarungu.

Andhika menjadi salah satu bukti dan contoh bagi para tunarungu dan disabilitas bahwa keterbatasannya tidak menjadi penghalang untuk sukses. Bahkan dirinya sudah membuktikan dengan juga memberdayakan orang yang tunarungu sebagai karyawannya.

Ia juga memiliki target untuk kedepannya bisa membuka empat cabang lagi di area Jabodetabek serta 1.000 titik cabang di daerah-daerah. (C-003)***