METALHEAD ASAL KALTIM TERSERET JADI TERDAKWA PENGADILAN MUSIK

9

Perkembangan musik metal, bukan hanya di Jawa Barat, tapi tersebar di seluruh Indonesia. Salah satunya grup Kapital yang sebelumnya bernama The Pistol (2004) dari Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, lewat karya-karya mereka dapat respon positif masyarakat, hingga akhirnya Metalheads Indonesia melirik potensi grup dari Borneo ini. Awalnya, rock jadi pilihan mereka, namun akhirnya gabungan heavy metal dan hardcore jadi pilihan mereka.

Setelah mengalami bongkar pasang personel, hingga pada tahun 2008 namanya berubah dari The PIstol menjadi Kapital dengan personel, Akbar Haka (vokal), Arie Wardhana (gitar), Baken Nainggolan (gitar), Arriezky Pratama (bass) dan Ewien Saputra (drum) yang merilis album ke-tujuh bertajuk Mantra (Armstrech Records/2019). Meski diwarnai dinamika di perjalanan bermusiknya, mereka tak patah arang hingga berhasil menginjak usia ke-15 pada tahun 2019 . Sampai akhirnya aktivitas Kapital menarik perhatian para perangkat persidangan DCDC Pengadilan Musik episode ke-38 pada 29 November 2019 di Kantin Nasion Rumah The Panas Dalam, jalan Ambon No. 8A, Bandung, bertindak sebagai Jaksa Penuntut – Budi Dalton dan Pidi Baiq,  Pembela  dipercayakan pada Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung,  persidangan dipimpin Hakim Man (Jasad) dan Eddi Brokoli sebagai Panitera. Agus Danny Hartono dari pihak DCDC mengatakan, DCDC menghadirkan Kapital ke Pengadilan Musik karena mereka keluar sebagai  salah atau finalis ajang Rock and Metal Battle 2018. Kendati mereka lahir di Kalimantan, Kapital mampu menunjukan kemampuannya.

“Ini adalah bentuk apresiasi kami kepada band dari luar Jawa. Kami tahu metal di Kalimantan masihkurang direspons kecil.  Ini dalam rangka memperkenalkan metal di Indonesia. Karena selama ini mayoritas band adai pulau Jawa,” ujar Danny.

Sementara itu, album Mantra disebut-sebut akan melampaui ekspektasi para Peluru Tajam Indonesia (sebutan untuk fans Kapital), sekaligus sebagai masterpiece. Formasi termutakhir  yang kini hadir dalam Kapital memberi kekuatan penuh untuk menyajikan karya-karya yang padat dan berdesing super keras. Tak hanya raungan distorsi, mereka menyertakan unsur orkestrasi yang megah sekaligus kelam, juga mengalunkan alat musik etnik Dayak hingga rapalan mantra-mantra mistis dari Suku Dayak dan Kutai, tak ayal mereka jadi bulan-bulanan pertanyaan perangkat persidangan, uji kompetensi, hingga uji kelayakan salahsatu personilnya yang merupakan resedivis  yang sebelumnya pernah diadili di Pengadilan Musik. (E-009) ***