Bahan Bakar B30 Pengganti Solar Menghemat Devisa Rp 63 Triliun

31

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) resmikan implementasi program bahan bakar B30 atau solar dengan kandungan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) 30 %. Jokowi mengatakan, program itu mempunyai potensi mengirit devisa seputar Rp 63 triliun, hingga  dapat mengakhiri permasalahan defisit neraca perdagangan serta transaksi berjalan (CAD).

Menurut Presiden, kalkulasinya bila  berkelanjutan mengaplikasikan B30 ini, negara akan menghemat devisa kira-kira sebesar Rp 63 triliun/tahun. Jumlah yangcukup besar.

 B30 merupakan campuran  bahan bakar diesel atau solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dengan formasi 70 % serta 30 %.

FAME ini didapat dari kelapa sawit. Kelapa sawit diproses jadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester), yakni bahan bakar nabati.

Seperti dikutip dalam situs Kementerian ESDM, solar punya cetane number (CN) 48, sedang minyak sawit CN 41. Dengan komposisi di atas yang membuat B30, jadi CN-nya cuma sedikit lebih baik dibanding solar.

Sangat penting untuk diketahui, makin tinggi angka CN,  bahan bakar semakin lebih gampang terbakar.

Tetapi angka CN yang tambah tinggi pada B30 tidak langsung membuat perform mesin bertambah. Mengingat yang dipunyai B30 sedikit lebih rendah dibanding solar serta karakter alami biosolar yang membuat gel.

“Sifat alamiah itu membuat filter solar alami penurunan waktu pakainya. Pendapat pabrikan perubahan dikerjakan pada setiap 30.000 km., tetapi sekarang entrepreneur bisa mengubah filter setiap 5.000 – 20.000 km.,” kata Ketua Biasa Ikatan Entrepreneur Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan.

Walau demikian, faksi Tubuh Riset serta Peningkatan (Balitbang) Kementerian ESDM menyebutkan, pemakaian B30 pada kendaraan tidak jadi masalah. Ini merujuk hasil dari uji jalan bahan bakar yang diklaim lebih ramah lingkungan .

Sesudah implementasi B30 di tahun 2019, Jokowi memberi saran pada Menteri Koordinator Bagian Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri ESDM Arifin Tasrif, serta barisan direksi Pertamina untuk percepat implementasi B50 pada awal 2021. (E-002/BBS)***