Wisatawan Tetap Waspadai Mengisi Liburan Akhir Tahun

6

BISNIS BANDUNG – Dalam menikmati keindahan pemandangan  alam yang indah di wilayah  Jawa Barat,  para wisatawan  yang liburan  hari Natal dan Tahun Baru 2020, tetap harus wadpasa  mengingat provinsi ini  memiliki banyak  potensi  bencana.

“Di musim hujan, Jawa Barat rawan bencana terutama banjir, longsor, dan angin puting beliung,” tutur Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Tony Agus Wijaya  di acara Jabar Punya Informasi (Japri)  di  Gedung Sate Jl Diponegoro, Bandung, Jumat (27/12/2019).

Tony menjelaskan, secara umum musim hujan sudah tiba di Jawa Barat. Tepatnya, sejak dua minggu terakhir, di bulan Desember 2019, ini. “Sifat hujannya masih terakumulasi. Kalau satu dua hari tidak turun hujan, besoknya saat hujan akan secara terus menerus,” katanya.

Waktu hujannya juga banyak datang pada siang, sore dan malam hari. Jadi bila warga ingin menggelar kegiatan, sebaiknya dilakukan pagi atau siang, saja.

Puncak musim penghujan, diperkirakan pada bulan Januari hingga Februari 2020. Dan pada puncak musim penghujan itu juga, biasanya juga akan dibarengi dengan munculnya bencana.

Kasi Rehabilitasi BPBD Provinsi Jawa Barat, Adwin Singarimbun, mengatakan di musim penghujan seperti sekarang ini,  BPBD Jabar melakukan pemantauan selama 24 jam. “BPBD tidak bekerja sendirian, tetapi berkoordinasi kesiapsiagaan bersama 1800 personel dari pemerintah, TNI/Polri, hingga relawan,” katanya.

Adwin juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi bencana. “Kepada masyarakat, kami imbau jangan jadi obyek. Tapi jadi subjek berdaya. Mereka harus mampu mengurangi risiko bencana di wilayahnya, karena yang terpenting kesiapsiagaan masyarakat,” katanya.

Kesiapsiagaan bisa menyelamatkan mereka dari bencana. Penelitian di Jepang bahkan menyebut kesadaran sendiri berperan 90 persen terhadap keselamatan saat bencana. “Jadi masyarakat harus tahu potensi ancaman atau bencana di mana pun,” ujarnya.

Adwin menambahkan, penanggulangan juga dilakukan dengan konsep Pentahelix yang melibatkan akademisi, media, pebisnis, komunitas, dan pemerintah. “Jika kita bisa mengurangi risiko bencana, dampak bencana juga bisa dikurangi,”ucapnya. (B-002)***