Gerakan Tanah Sebuah Ancaman Malapetaka KBU Kembali Menjadi Sorotan

4311

Dibanding bahaya geologi lain (gempa bumi, tzunami atau letusan gempa bumi),   gerakan tanah  lebih sering terjadi  di daerah perbukitan. Dan hampir semua peristiwa gerakan tanah rata-rata menimbulkan korban jiwa dan harta benda. Setelah sekian lama dan sudah beberapa kali pergantian Gubernur Jawa Barat masalah kondisi kritis lahan di wilayah Bandung Utara, sejauh ini seolah tidak ada selesainya.  Walau sudah banyak diterbitkan berbagai aturan, namun aturan tersebut tidak mempan untuk mengatur dan menata lahan Bandung Utara, khususnya  sebagai resapan air. Perubahan fungsi lahan di Bandung Utara semakin marak. Siapa yang salah dan lalai dalam mengawasi pelaksanaan aturan. Sulit diduga-duga siapa yang salah. Dinas/instansi terkait, pemilik uang  atau  ”tangan-tangan” yang mampu melemahkan aturan. Kawasan Bandung Utara (KBU) memasuki  fase kritis yang akut, dampak dari berbagai alih fungsi lahan. Saat ini lebih dari 18.000 hektar lahan  dalam kondisi kritis (BB Edisi 420 Desember 2019).

Ancaman terjadinya gerakan tanah berupa longsor dan banjir menjadi indikasi  malapetaka, akibat alih fungsi lahan, terutama pada lahan yang memiliki kemiringan antara 27 – 36 derajat atau lebih. Gerakan tanah didefinisikan sebagai pergerakan massa tanah atau batuan ke bawah lereng di bawah pengaruh gaya grativikasi. Menurut Vernes dalam Special Report 176 –  Landslides Analysis and Control, jenis-jenis gerakan tanah, terdiri dari jatuhan, rubuhan, longsoran, pencaran dan aliran.

Di Indonesia, jenis gerakan tanah yang sering terjadi adalah longsoran dan aliran. Keduanya lebih sering menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda yang cukup besar, seperti terjadi  beberapa waktu lalu, antara lain  di Pangalengan  dan  Ciwidey  Kab. Bandung  dan Cililin  Kab. Bandung Barat, wilayah Kab.Sumedang, Cianjur dan Sukabumi.

 Selama 20 tahun terakhir, bencana gerakan tanah  di  wilayah   Jawa Barat terjadi lebih dari 482 kejadian dan Jawa Timur 279 kejadian. Beberapa faktor penyebab gerakan tanah, antara lain karena kondisi geologi, kemiringan lereng dan tata guna lahan. Lereng berupa  batu lempung sangat rentan terhadap gerakan tanah saat musim hujan. Sifat ekspansif menyebabkan batulempung akan mengalami degradasi kekuatan yang dipengaruhi  perubaan cuaca. Pada musim kemarau, batulempung akan mengalami penyusutan dan mudah merekah. Sementara pada musim hujan, batulempung akan melunak. Penurunan kekuatan lapisan batu lempung  akan menimbulkan pergerakan tanah.                                                                                              

Tata guna lahan

Selain faktor geologi dan kemiringan lereng, gerakan tanah umumnya terjadi pada lereng  yang memiliki kemiringan antara  27 – 36 derajat, diperparah oleh kondisi  tata guna lahan yang dijadikan permukiman, ladang dan pesawahan. Pada jenis  tata guna lahan serupa ini,  kondisi  tanah seringkali  jenuh  air karena meningkatnya air permukaan yang sangat rentan terjadi gerakan tanah dan biasa terjadi pada musim hujan atau saat terjadi gempa bumi.

Saat terjadi gempa bumi, goncangannya akan menimbulkan beban tambahan dan daya gerak  pada lereng perbukitan. Goncangan gempa bumi menimbulkan tekanan  air pada lereng yang sudah jenuh air. Selain itu curah hujan juga  termasuk  pemicu  terjadinya gerakan tanah. Di beberapa daerah, kejadian gerakan tanah didahului  oleh turunnya hujan lebat berturut dalam kurun waktu 2-3 hari. Curah hujan tinggi akan menyebabkan  infiltrasi air hujan ke lereng perbukitan semakin besar dan masuk ke dalam rongga tanah yang berdampak akan menurunkan kekuatan tanah. (B-003/BBS ) ***