500 Pelaku Industri Kreatif Bandung Bersaing di Pasar Dunia

18

SEDIKITNYA 500 industri kreatif Kabupaten Bandung yang dibina oleh Telkom University (Tel-U) dilansir siap bersaing di pasar dunia. Mereka tinggal dipoles sedikit untuk meningkatkan daya tarik merek dagang (brand).

Hal tersebut diungkapkan oleh Dekan Fakultas Industri Kreatif Tel-U, Didit Widyatmoko di sela-sela Konferensi Internasional Bandung Creative Movement di Auditorium Damar kampus Tel-U, Kabupaten Bandung.

“Jumlah itu mencakup sekitar 30 persen dari total 1.500 UKM kreatif Kabupaten Bandung yang kami bina setiap semester,” ujarnya.

Didit menambahkan, pihaknya sebagai akademisi memang memiliki tanggung jawab untuk menjadi jembatan antara pelaku UKM kreatif dengan pasar dunia. Oleh karena itu mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Tel-U sendiri tidak hanya belajar teori tetapi juga langsung berkarya di studio.

“Studi lapangannya, saat ini kami mengambil produk dari pelaku UKM Kabupaten Bandung. Kami meneliti produk mereka dan mencari solusi bagaimana cara memajukannya, lalu mengembalikan metode pengembangan tersebut kepada para pelaku,” kata Didit.

Dalam praktiknya, UKM kreatif yang dibina di Fakultas Industri Kreatif Tel-U terbagi masing-masing 300 pelaku usaha di setiap program studi. Sementara lima program studi yang membantu pengembangan produk UKM itu adalah prodi desain komunikasi visual, desain interior, kriya tekstil mode, desain produk dan seni rupa.

Baca Juga: 2.000 Pelaku Industri Kreatif Ditargetkan Kempenperin Lahir di Tahun 2020

Akselerator kemajuan

Didit berharap, ke depan UKM binaan tersebut bisa bersaing memajukan industri kreatif dan memajukan bangsa Indonesia. Soalnya dia menilai bahwa industri kreatif saat ini menjadi salah satu akselerator kemajuan bangsa.

“Sejak beberapa tahun terakhir industri kreatif menjadi primadona sehingga pemerintah pun membentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Kita juga lihat sudah banyak negara yang maju berkat industri kreatif, jadi Indonesia pun harus bisa seperti itu,” tutur Didit.

Terkait konferensi itu sendiri, Didit menegaskan bahwa forum tersebut merupakan wadah bagi Tel-U sebagai peneliti, untuk melaporkan hasil penelitian dan pengembangannya terhadap kemajuan industri kreatif di Indonesia khususnya di Kabupaten Bandung. Dengan begitu produk industri kreatif Kabupaten Bandung juga bisa lebih dikenal oleh pasar dunia.

Sementara itu Ketua Panitia Konferensi Internasional Bandung Creative Movement Fajar Ciptandi mengatakan, konferensi tersebut memasuki tahun keenam. “Kami memulai konferensi seperti ini sejak 2014,” ujarnya.

Di setiap gelaran, kata Fajar, pihaknya mengundang peneliti dari beberapa Universitas negara lain. Kali ini, peneliti yang diundang adalah dari Science University Malaysia dan Mahidol University Thailand.

“Mereka di sini mempresentasikan hasil riset mereka di bidang desain, seni dan industri kreatif yang mereka lakukan terhadap pelaku industri kreatif di negara masing-masing. Jadi kami saling berbagi dan menginspirasi industri kreatif masing-masing,” tutur Fajar. (C-003/BBS)***