Penduduk Miskin di Jabar 2019 Menurun

36

BISNIS  BANDUNG –  Jumlah penduduk miskin di Jawa Barat September 2019   tercatat 3,38 juta jiwa atau 6,82 persen, terjadi  penurunan sekira 23, 27 ribu jiwa dibandingkan Maret tahun  yang sama.  Jika dibandingkan September  tahun sebelumnya, jumlah  penduduk di provinsi tatar Sunda ini mengalami penurunan yang signifikan sebanyak 163, 51 ribu jiwa.

Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode  Maret 2019 – September 2019 jumlah penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan turun measing-masing  sebesar 3 ribu jiwa dan 20,26 ribu jiwa. Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 6,03 persen menjadi 5, 98 persen. Dan yang perdesaan turun 9,79 persen menjadi 9, 58 persen.

“Garis kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas mengelompokkan penduduk menjadsi miskin atau tidak miskin. Penduduki miskin yaitu yang memiliki  rerata   pengeluaran per kapita per bulan di bawah garism kemiskinan,” tutur  Kepada Bidang Statistik Sosisal Badan Pusat Statis  (BPS) Jabar, Ir.R.Gandari Adianti AF, MSi di Bandung, Rabu (15/1/20).

Menurut  Adianti,  selama Maret – September 2019, garus kemiskinan (GK)  naik 3,50 persen yaitu dari Rp 386.198 per kapiota per bulan Maret 2019  menjadi Rp 399.732 per kapita per bulab pada September 2019.

Jika dilihat berdasarkan tipologi daerah, GK perkotaan naik sebasar 3,41 persen dari Rp 388.979 per kapita/bulan pada Maret 2019 menjadi Rp 402.254 per kapita/bulan pada September 2019. Sedangkan GK persedasan  mengalami kenaikan sebesar 3,75  persen  dari Rp 376.860 per kapita/bulan menjadi  Rp 391.009 per kapita/bulan.

Garis kemiskinan itu terdiri atas garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non makanan (GKNM) pada September  2019, GKM  sebesar Rp 292.718 per kapita/bulan. Sedangkan jika dibedakan antara perkotaan  dan perdesaan. GKM di perdesaan  lebih tinggi dibandingkan GKM di perkotaan  yaitu Rp 291.607 per kapita/bulan dibanding Rp 295.872 per kapita/bulan.

Namun , sebaliknya untuk GKNM perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan yaitu mencapai 110.647 per kapita/bulan di perkotaan, sedsangkan  di perdesaan mencapai Rp 95.137 per kapita per bulan. Adapun GKNM secara total sebesar Rp 107.014 per kapiota/bulan pada September 2019.

Peranan komiditi makanan atas GK  sangat dominan dibandingkan peran komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan). Hal tersebut menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat pada tingkat ekonomi rendah lebih didominasi pengeluaran  untuk kebutuhan makanan Sumbangan GKM terhadap GK pada September 2019  sebesar 72, 49 persen di perkotaan dan 75, 67 persen di perdesaan. Secara  total peranan komoditi makanan  terhadap GK sebesar 73, 23 persen. (B-002)***