Banjirpun Mulai Menerjang

22

SELAASA  16 Desember 2019, huijan turun cukup deras di Bandung dan sekitrnya. Huhjan mulai turun sekira pk 15.00 dan berakhir selepas isya. Sebenarnya hujan deras mulai trun  Jumat tetapi tidak merata. Sampai Selasa siang, air di Sungai Citarum belum  menunjukkan tanda-tanda akan meluap.  Akibat hujan hari Serlasa itulah yang kemudian berakibat Ciatarum meluap. Wilayah Dayeuhkolot kota, Andir, dan Bojongsoang mulai memperlihatkan tanda-tanda  datangnya banjir.

Betul saja, Rabu pagi, kawasan yang biasa dilanda banjir yakni Bojongsioang, Baleendah, dan Dayeuhkolot,  tergenang.  Jalan yang menghubungkan Kampung Cijagra dan  Cigebar tak dapat dilalui kendaraan, baik mobil maupun speda mototr. Perumahan di Kakpung Cikagra (di bawah jembatan Citarum Kolot), seperti pada setiap musim hujan, tergenang air  nyaris sampai atap. Taman Kopta, seberang Dayeuhkoot sejak sore hari tergenang l;uapan Citareum, Cigado, dan Cisangkuy. Luapan air itu terus masuk ke Kampung Andir, sejak Muara samai Cibadak dan Parunghalang.

Bagi warga Bandung Selatan, banjir yang melanda tiga kecamatan di tepi Citarum itu merupakan musibah rutin. Banjir terjadi setriap musim hujan sejak tahun 80-an.Nama Baleendah benar-benar identik dengan bajir.  Bukan tidak asda upaya membebaskan Bandung Selatan dari sergapan banjir. Pemerintah berusaha ”menjinakkan”Citarum dengan berbagai cara  Diawali dengan pel;urusan sungai dari hulu sampai  mendekati Bendung Saguling, pembuatan kolam retensi sudah rampung. Kini dilakukan proyek Citrum Harum dengan menmgerahkan anggota TNI Kodam III Siliwangi, diawali dengan pembersihan Danau Cisanti sebagai sumber utama Ciatrum, disusul dengan penananam bibit berbagai jenis pohon, baik di tepi danau maupun  di tepi Citarum dari hulu ke hilir.

Upaya penanganan Citarum itu seolah-olah belum mampu mengendalikan sungai terpanjanag di jabar itu. Musim hujan yang baru saja dimyulai, susdah mendatangkan banjir. Penanganan yang sudah dilakukan hampir dua dekade itu, belum memoerlihatkan  hasil yang memuaskan semua warga.  Sepuluh tahun terakhir ini, justru banjir lebih meluas. Dayeuhkolot Kota, Baleendah sebelah selatan jembatan,  termasuk tepi Citarum sebelah selatan, dulu tidak pernah terserang banjir, sekarang tempat-tempat itu paling awal terserang banjir.

Baca juga: Dewan Apresiasi Penanganan Banjir di Cimareme

Diprediksi, tanpa pembuatan beberapa danau retensi lagi serta penyodetan Curug Jompong serta pembersihan danau Saguling, Cirata, dan Jatuiluhur, banir akan lebih meluas. Pembangunan di selatan, terutama permukiman dan industri, menjadi penyebab tersendatnya aliran sungai yang masuk ke Citarum.Lihat saja pembngunan berpuluh kompleks sejak jalan tol, hingga ke  selatan, makin hari makin marak.  Perbukitan yang membujur dari timur ke barat  sebagai benteng Citarum, makin hari makin penuh dengan permukiman penduduk, pabrik, serta  bangunan komersial lainnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Bojongsoang dari jalan tol hingg tepi Citarum penuh sesak. Apalagi bila pembangunan real estat dan permukiman superbesar dari Lio hingga Cikoneng sudah selesai, banjir akan lebih besar menyergap bagian selatan. Hilangnya areal resapan air berupa kolam dan sawah berganti dengan apaertemen, berakibat fatal bagi daerah di sepanjang Citarum.

Bagaimanakah nasib protyek prestisius Citarum Harum?  Rakyat masih menunggu hasilnya yang signifikan. ***