Resapan Air Tanah Menurun Tata Guna Lahan Dipinggirkan

45

Banjir merupakan masalah yang kompleks. Selain disebabkan curah hujan yang tinggi, banjir juga dicuatkan oleh terjadinya perubahan kondisi lingkungan , di hulu sungai maupun hilir. Pemicu banjir , di bagian  hulu sungai antara lain karena pengggundulan hutan, alih fungsi lahan (konversi) menjadi lahan pertanian  dan pemukiman atau bangunan lain yang mernyebabkan limpasan air permukaan ( run off) meningkat karena menurunnya resapan air ke dalam tanah. Sedangkan di bagian hilir dengan kondisi lahan yang datar , ditambah semakin sedikitnya lahan terbuka hijau , diperparah dengan sistem drainase yang buruk serta pendangkalan dan penyempitan alur sungai menjadi penyebab banjir.

Sebab itu , masalah tata guna lahan harus menjadi faktor utama untuk pencegahan banjir. Besarnya limpasan air permukaan saat banjir , erosi hutan dan lahan pertanian harus menjadi fokus utama penataan  lahan. Di kota-kota besar yang padat penduduk dan bangunan bertingkat , selain mengambilan air tanah secara besar-besaran untuk kebutuhan industri,  bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya penurunan permukaan tanah (amblesan lahan) yang memungkinkan bisa menjadi tempat genangan air (banjir). Banyak bangunan akan berdampak pada pengerasan dan penutupan tanah , hingga menurunkan daya resap air ke dalam tanah.

Baca juga: 7,1 Juta Hektar Lahan Harus Dilindungi Agar Tidak Tergerus Alih Fungsi

Tanpa lahan resapoan dan penahan air yang memadai, akan terjadi ketidakseimbangan antara input dan output air tanah dan saat terjadi hujang deras , air hujan yang jatuh kepermukaan tanah akan langsung mengalir sebagai air limpasan.  Seperti , salah satunya peristiwa banjir besar yang  melanda wilayah Jakarta  . Sebagai daerah yang berada di hilir daerah “ pengirim” air , Jakarta terdampak banjir cukup besar  yang datang dari daerah dataran tinggi ( hulu). Jakarta sebagai Ibukota Negara RI , melakukan upaya meminimalisir banjir  dengan membangun banjir kanal sebagai salah satu solusi pengendalian banjir, di samping melakukan normalisasi alur sungai , selain penataan situ dan waduk sebagai tempat penampungan air hujan, terutama di wilayah dataran rendah dan rawan banjir , termasuk membuat sumur resapan.  Untuk mengurangi “penderitaan” warga Jakarta dari terpaan bahaya banjir , perlu ditegaskan kembali kepatuhan salah satunya terhadap Perpres RI No 54 tahun 1984 tentang Tata Ruang Kawasan Puncak , Bogor , Depok , Bekasi dan Cianjur.  Penertiban kawasan Puncak dari berbagai bangunan liar yang berada pada lereng bukit yang menjadi daerah resapan air , terkesan  dilakukan secara sporadis. Pelaksanaan Perpres mengenai Tata Ruang  sebagai rujukan bagi pembangunan yang terkait dengan konservasi air dan tanah, arah pemanfaatannya cukup jelas, pemerintah maupun masyarakat tinggal mematuhinya.

Kini saatnya penanggulangan banjir dilakukan secara holistik dan terintegratif dengan melibatkan semua komponen masyarakat yang berada di daerah hulu , tengah dan hilir sesuai dengan kapasitas masing-masing.  (B-003) ***