Reaktifasi Rel Kereta Terkendala Lahan Dan Bangunan Warga

199

BISNIS BANDUNG – Di tahun 2020 ini Pemerintah Propinsi Jawa Barat berencana melakukan reaktifasi rel kereta api non aktif di seluruh Jawa barat. Salah satunya reaktifasi rel kereta api yang berada di Tanjungsari Sumedang, yang menghubungkan jalur Sumedang Rancaekek.

Meski demikian dalam rencana pengaktifan rel kereta api yang sudah ada pada jaman Belanda ini, terkendala oleh beberapa hal, di antaranya sebagian jalur rel tersebut sudah terhalang oleh bangunan rumah milik warga. Bukan itu saja besi besi rel dan bantalannya tersebut sebagian sudah hilang sebagian dan terkubur selama puluhan tahun.

Dari penelusuran wartawan Bisnis Bandung dilapangan, dan informasi dari seorang warga yang sudah dari tahun 70an tinggal di daerah tersebut mengatakan bahwa, sejak dirinya dan keluarganya menempati area ini,Toharoh membenarkan bahwa rel kereta beserta bantalannya masih ada, namun sudah terkubur dan sebagian hilang entah kemana. Dan dirinya juga tahu kalau tanah yang selama ini mereka tempati adalah tanah milik pemerintah.

“Ya saya dan keluarga udah dari tahun 70an tinggal disini, bahkan saya dulu sering ngajak anak anak bermain menyusuri rel kereta meskipun sudah terkubur dan tidak lengkap, kalau pamarentah mau mengaktifkan lagi kereta dijalur ini, ya mangga wae da etamah hak pamarentah, cuman maenya we teu aya ka ibaan ti pamarentah ka warga nu didieu tos puluhan taun nyicingan ieu tempat,” ujarnya.

Selain Toharoh, ada banyak warga lain yang bangunan rumahnya tepat berada di atas tanah PT KAI. Namun seperti Toharoh juga kebanyakan dari mereka ada yang merespin positif tapi ada juga yang kurang merespon, dikarenakan takutnya mereka diusir begitu saja dari tanah PT KAI tempat mereka tinggal tanpa ada solusi bagi mereka kedepannya.

Seperti Ijang Supardi,warga Desa Tanjungsari yang menempati rumah Orangtuanya selama puluhan tahun tersebut, mengaku ada rasa khawatir apabila nanti reaktivasi jalur kereta Tanjungsari Rancaekek atau Sumedang Bandung jadi dilaksanakan. Pasalnya yang dikhawatirkan Ijang jelas mempunyai alasan khusus,seperti penggantian yang tidak sesuai, relokasi warga gusuran yang tidak layak, serta yang paling parah adalah penggusuran paksa tanpa memberikan solusi bagi warga.

“Ya sebetulnya kalo sayamah siap tidak siapsih dengan rencana pengaktipan kembali jalur kereta ini, soalnya kan saya sama orangtua udah puluhan tahun tinggal disini,mencari kebutuhan hidup ditempat ini semuanya dumulau dari sini, nah sekarang tiba tiba pemerintah mau mengaktifkan jalur kereta ini,kan otomatis saya sama keluarga termasuk warga yang lain harus pindah dong dari sini, itu gimana nantinya,apa memang pemerintah sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk relokasi warga yang terimbas, kan harus dipikirkan lagi jangan sampai kami dan warga lain terusir begitu saja dari sini meskipun ini tanah milik pemerintah”, ungkapnya.

Baca juga: Perbaikan Rel Kereta Api Jelang Mudik

Selain jalur kereta non aktif Tanjungsari Rancaekek,pemerintah pusat juga berencana akan mengaktifkan beberapa jakur kereta non aktif lainya di Jawa Barat. Seperti yang dinyatakan Wakil Gubernur UU Ruzhanul Ulum beberapa waktu lalu di Tanjungsari saat menghadiri acara kejuaraan daerah pacuan kuda.

Uu mengatakan bahwa pihak pemerintah propinsi akan mengaktifkan kembali jalur kereta yang sudah ada namun non aktif. Uu menambahkan selain jalur Rancaekek Tanjungsari, ada dua lagi yaitu jalur Ciwidey Cikudapateuh dan Banjar Cijulang, namun ke tiga lokasi tersebut sudah sangat sukar apabila akan diaktifkan kembali mengingat, di lahan tersebut sudah banyak dan penuh oleh pemukiman warga, jadi perlu pembicaraan yang sangat persuasif kepada warga penghuni dilahan kereta tersebut. (E-010)***