RAPPER ASEP BALON TERCIDUK DI DCDC PENGADILAN MUSIK AKHIR TAHUN 2019

50

Bila kita artikan nama Rapper satu ini mengandung filosofi bahwa Asep identik dengan nama orang Sunda dan balon adalah media yang mampu membawa terbang segala harapan dan cita-citanya. Yup dia adalah Asep Balon yang selalu menggunakan topeng pada kesehariannya dan juga saat perform, berasal dari Majalaya, Kabupaten Bandung. Asep Balon pun bersama SG Entertainment aktif membangun komunitas musik di Majalaya khususnya di komunitas hip-hop, melalui Majatribe, sebuah grup hip-hop pertama asal Majalaya yang terdiri dari sembilan rapper dan Asep balon salah satu anggotanya, mereka mencoba membangun kebanggaan terhadap kota Majalaya melalui lagu yang dihasilkan.

Karya pertamanya berawal dari iseng, di tahun 2015 ketika dia diminta ucapan selamat ulang tahun dari Dadang Konelo yang juga mempunyai akun Twitter serupa, dan memakai nama Info Capruk alias Asep Balon. Akun tersebut berisi banyolan khas orang Sunda dan perlahan mampu meraih banyak pengikut, lalu terdapat single yang berjudul “Fotobaper” sekaligus menjadi titik tolak Asep Balon serius menggeluti karir sebagai penyanyi rap, dan dirasa mendapatkan respon positif, maka dimulailah kreativitas barunya sebagai penyanyi rap yang berekplorasi dengan lirik berbahasa Sunda. Serta untuk mempertanggungjawabkan hasil karyanya, Asep Balon harus duduk di kursi panas dan terciduk sebagai terdakwa di DCDC Pengadilan Musik episode ke – 39 pada 27 Desember 2019 lalu, di Kantin Nasion Rumah The Panas Dalam, Jalan Ambon kota Bandung, dan harus berhadapan dengan dua orang Jaksa Penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baiq. Lalu didampingi oleh dua orang Pembela, Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Persidangan pun dipimpin oleh Man (Jasad) sebagai Hakim dan jalannya persidangan diarahkan oleh Eddi Brokoli sebagai Panitera.

Agus Danny Hartono sebagai perwakilan dari DCDC mengatakan, pemilihan Asep Balon bukan semata-mata karena penyanyi ini sedang menanjak kariernya, tapi memang sudah dibidik sejak lama.

“Kami memang sudah mengincar sejak lama, dan baru sekarng bisa dihadirkan sebagai terdakwa di DCDC Pengadilan Musik,” ujar Danny.

Menurut Danny, sosok Asep Balon memang sangat pantas dihadirkan sebagai terdakwa pada DCDC Pengadilan Musik edisi 39. Ia menambahkan, tema lirik yang akrab terjadi di keseharian dan penggunaan bahasa Sunda yang sederhana menjadikan setiap karyanya banyak disukai.

“Dan nanti Asep Balon akan segera terbang ke Jepang, dia akan tampil tanggal 2 januari di sana,” ujarnya.

Hingga sekarang, sejumlah single juga video klip sudah ia rilis melalui kanal musik digital, meskipun tidak semua orang menganggapnya “layak” dinilai sebagai seorang musisi. Banyak yang menganggap hanya menjual popularitas yang sudah di raup sejak merajai Twitter beberapa tahun silam, bahkan mengolok-oloknya sebagai badut yang membanyol dalam karyanya. Namun, hal itu tidak membuat Asep Balon terpukul mundur, bahkan terus aktif dan produktif, sehingga ia biarkan karya-karyanya yang menjawab kesangsian orang pada kemampuannya sebagai seorang rapper. Terlihat dari suasana DCDC Pengadilan Musik selama berlangsung, tidak ada habis-habisnya perangkat persidangan membuat penonton tertawa ngakak dalam mengupas karya dari terdakwanya.

Baca juga: METALHEAD ASAL KALTIM TERSERET JADI TERDAKWA PENGADILAN MUSIK

Uwie Fitriyani selaku dari Pihak ATAP Promotions, menyebutkan bahwa hadirnya Asep Balon dalam DCDC Pengadilan Musik merupakan buah aspirasi Coklatkita yang menjadi penggemar Asep Balon. Hal ini membuktikan bahwa komunitas Cokelatfriends semakin hari semakin bertambah dan variatif.

“Perkembangan komunitas Cokelatfriends memang terus bertumbuh cukup pesat, dan mereka terdiri dari berbeda-beda genre. Misalnya ketika menghadirkan Burgerkill maka komunitas yang hadir akan berbeda dengan komunitas penggemar Asep Ballon ini,” ungkapnya.. (E-009)***