Gondang atau “Tutunggulan” Ditabuh Agar Tidak Melahirkan Anak Albino

44

Dulu di wilayah Jawa Barat, terutama di daerah perdesaan ada semacam kepercayaan bila terjadi gerhana bulan (samagaha-Sunda.red) ibu-ibu di kampung suka rame-rame menambuh lisung (tutunggulan–Sunda.red ) menggunakan halu, tongkat penumbuk padi tradisional. “Tutunggulan” dilakukan dengan maksud agar gerhana bulan segera berakhir.

Sementara wanita yang sedang hamil saat gerhana bulan berlangung harus dimandikan. Konon katanya, jika bayinya lahir tidak “albino/bule”. Gondang sebagai kesenian tradisional (seni buhun) asal muasalnya dari “tutungulan” warga masyarakat di perdesaan saat terjadi gerhana  bulan. Kemudian berkembang menjadi kesenian gondang atau “tutunggulan” sebagai seni yang diselenggarakan sesaat berakhirnya masa panen, sebagai ungkapan syukur dan gembira karena hasil panen yang melimpah. Di samping rasa syukur kepada Allah SWT.

Bukan hanya para penduduk yang panen saja yang bergembira , tetapi juga menjadi sebuah kesempatan bagi kaum muda untuk mendapatkan pasangan atau mencari “ jodoh”. Pada penampilan kesenian gondang, para remaja, termasuk “kembang desa” mejeng mencari yang kasep atau geulis. Adapun waditra kesenian gondang, dilengkapi, selain  lisung, halu,ditambah kecapi, kendang, goong, kohkol dan angklung buncis. Konon,kegiatan ini  merupakan sebuah penghormatan terhadap Dewi Sri yang dalam mitologi Sunda dipercaya sebagai Dewi Padi. Pelaku tetabuhan kesenian gondang adalah wanita yang dianggap suci atau sudah tidak menstruasi (menopause). Dalam kesenian Gondang,   yang diceritakan dalam pagelaran , hampir tidak ada ada bedanya dari pentas satu ke lainnya atau mungkin memang itulah cerita dalam seni gondang. Ceritanya, ada sekelompok putri remaja sedang ber-gondang ria, tiba tiba datang sekelompok remaja putra merayu para remaja putri.”Neng geulis pujaan engkang. Neng geulis engkang hoyong tepang, upami tea aya pameungan, langkung sae urang tundangan“ . Sepenggal lagu dalam bahasa Sunda tersebut, merupakan nyayian remaja putra yang mengajak gadis idamannya untuk bertemu. Para remaja putri  menolak dengan tegas rayuan si remaja putra . Dirayu sampai beberapa kali, ditambah embel-embel dan janji, tapi di tetap ditolak . Setelah beberapa kali di rayu, sang remaja putri luluh juga hatinya,  tak bisa menolak cinta remaja putra .

Walau cinta remaja putra diterima, tapi  para remaja putri memberi syarat tertentu. Itulah kesenian gondang, seni yang pernah hidup di tengah masyarakat perdesaan. Ada sebuah esensi yang terkandung dari kesenian ini, yakni setiap tujuan yang ingin dicapai harus ditekuni dengan kesabaran, niat dan usaha yang baik, InsyaAllah akan dikabul oleh Allah swt. (B-003) ***