Sunda Empire Terlontar ke Masa Lampau

14

SEORANG anak TK naik ke atas meja makan di rumahnya. Tiba-tiba ia melonpat dari atas meja sambil berteriak “Satria baja hitam!”. Anak laki-laki berusia empat tahun itu terjerembab dan harus dibawa ke rumah sakit. Anak-anak zaman lampau (tahun 60-an) juga ada yang loncat dari atas pohon, seolah-olah dia terbang. Fenomena seperti itu lumrah ketika anak-anak seusia itu mengidentivikasi dirinya sebagai pahlawan pembasmi kejahatan. Anak yang pertama mengidentikkan dirinya sebagai tokoh film kartun, Satria Baja Hitam, sedangkan yang seorang lagi menganggap dirinya sebagau Gatot kaca, Putra Bima dari Negara Pringgandani.

Ternyata bukan hanya anak-anak yang berperilaku meniru-niru tokoh idolanya, banyak pula orang dewasa . Tengok saja ke dalam ruang perawatan orang berpenyakit jiwa di RS Jiwa di mana saja. Ada orang yang seolah-olah dirinya itu seekor kelinci, melompat-lompat sambil makan wortel. Ada yang mengidentikkan drinya sebagai seekor doma. Ia menumbrk-nubrukkan kepala ke dinding bagai doma yang tengah berlaga. Ada yang menganggap dirinya seorang jenderal. Dengan langkah tegap berjalan dari ujung gang ke ujung gang sambil menenteng tongkat komando. Penderita identivikasi dirinya yang menyimpang itu apabila masih ringan, suka disebut gangguang halusinatif .Sedangkan penderita yang sudah masuk kategori berat, dinyatakan sebagai orang terkena gangguan jiwa kronis atau gila.

Era teknologi informasi yang serba canggih seperti sekarang ini, orang yang mengejar identitas diri itu justru semakin banyak. Banyak orang yang memanfaatkan tekniologi IT untuk menciptakan tatanan baru, baik ekonomi maupun industri dengan menciptakan sesuatu yang baru, ia menjadi start-up. Temuannya diikuti banyak orang, ia menjadi tokoh yang superior pada bidangnya. Ada pula orang yang justru lari dari kenyataan. Ia tidak mau terlbat dalam kemajuan teknologi serta hiruk pikuk industri dan budaya baru. Orang itu mengasingkan diri ke babakan kehidupan yang lain. Ia sangat meirndukan masa lampau yang menurut kisah sangat mengagumkan. Ia seolah-olah terlontar ke masa lampau yang menurut halusinaasinya, sangat indah, nyaman, sejahtera, tata tenteram kerta raharja, negeri apanjang apunjung, gemah ripah loh jinawi, murah sandang murah pangan. Rajanya saklti mandraguna, adil palamarta, dan bijak bestari

Menurut pemikirannya, mengapa kita tidak kembnali saja ke zaman keemasan itu, diperintah oleh seorang sultan atau raja di raja yang sangat adil bijaksana, gagah sakti mandraguna. Bermunculanlah orang yang mengaku sebagai raja, pemegang kekuasaan atas sebuah negara yang wilayah kekuasaannya sangat luas. Orang-orang yang mengangkat dirinya sebaga penguasa kerajaan itu mengidentivikasi dirinya sebagai keturunan raja masa lampau. Ia menganggap dirinya sebagai pewaris sah raja agung masa lalu. Ada yang mengaku sebagai keturunan Sanjaya, ada yang menyatakan dirinya keturunan kesekian penguasa Kerajaan Pajajaran.

”Ïdentivikasi diri seperti itu, dalam dunia psikologi, lumrah. Bisa terjadi di mana saja dan kepada siapa saja, Itu kata seorang psikolog. Tarikan kejayaan masa lampa itu sangat kuat. Orang yang merasa tidak mampu mengikuti zaman, selalu tertinggal dalam menggeluti teknologi dan ilmu pengetahuan, merasa tersisihkan dari percaturan politik, akan terlontar ke masa silam itu. Merasa dirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari zaman yang ia kagumi dengan kharisma raja yang ia idolakan. Orang-orang itu merasa bangga berada di luar sistem dan era yang nyata dan tengah mereka jalani. Mereka merasa tidak berada pada abad ke -21, secara kejiwaan mereka menolak kenyataan itu. Sistem pemerintahan, politik, ekonomi yang berlaku sekaramg merupakan omong kosong, memusingkan, dan tidak membuat hidupnya nyaman.

Masalahnya, secara politillk dan hukum, perilaku mereka bertentangan dengan undang-undang. Mayarakat dan negara menganggap mereka mendirikan pemerintahan di dalam negara bahkan menganggap Indonesia hanya merupakan bagian kecil dari kekuasaan dan wilayah negaranya. Hal itulah yang bisa menyeret mereka ke jalur hukum. Namun pemerintah dan masyarakat tidak serta merta melakukan pendekatan hukum. Kalaupun itu harus dilakukan, kita semua harus mencari akar masalahnya, mengapa di negara ini tiba-tiba saja bermunculan kerajaan semu seperti itu. Pasti ada masalah. Masalah itulah yang harus kita kurangi bahkan kita hilangkan. Kita tidak berharap makin hari makin banyak rakyat yang kehilangan orientasi dan mencari identitas diri yang jauh ke masa silam. ***