Investasi Ke Indonesia Cukup Tinggi Serapan Tenaga Kerja Sangat Rendah

15

BISNIS BANDUNG – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan,  saat ini  tenaga kerja dengan skill rendah bisa digantikan dengan robot. Ini menjadi pertanyaannya lantaran investasi yang masuk ke Indonesia cukup tinggi , namun serapan tenaga kerja sangat rendah.

Dikemukakan Bahlil , total investasi yang masuk ke Indonesia hingga akhir tahun 2019 mencapai Rp 809, 6 triliun. Namun serapan tenaga kerja hanya 1,03 juta orang.

“Kalau skillnya tenaga kerja rendah, bisa digantikan dengan robot,” kata Bahlil di Hotel Kempinski, Jakarta kepada wartawan, Kamis pekan lalu.

Diakui, serapan angkatan kerja rendah menjadi perhatiannya. Sebab jika sebelumnya, banyaknya investasi masuk akan menurunkan jumlah pengangguran.

Namun sekarang ,  hal itu belum tentu bisa terjadi. Sebab, berkembangnya teknologi sejalan mengancam tenaga kerja  manusia.

“Saya katakan kalau dulu belum ada teknologi yang menggantikan tugas manusia, tapi kalau sekarang sudah high teknologi,” ujar Bahlil.

Ditambahkan Bahlil.  saat ini banyak pekerja dari kalangan perempuan. Dalam kondisi ini dia mengingatkan agar para pekerja perempuan agar meningkatkan kemampuannya supaya tak tergeser oleh teknologi. Kondisi seperti ini bukan hal aneh. Perlahan memang sudah mulai terjadi.

Kalah sama Vietnam

“Dan sekarang sudah banyak,” ujar Bahlil menambahkan. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengaku, pernah diminta Presiden Joko Widodo untuk memanfaatkan celah ditengah perang dagang Amerika dan China. Sebab, selama ini yang paling diuntungkan pada konflik itu Vietnam yang mengambil untung lantaran segala aturan investasi di sana sangat mudah. Instansi setara BKPM di Vietnam mampu menyelesaikan berbagai persoalan tanah dan investasi.

Hal ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di Indonesia. “Kalo di BKPM Indonesia dia yang memulai tidak tahu kapan diakhiri,” ungkap Bahlil .

Putra Papua ini mengulas  mengenai  Online Single Submission (OSS) sebagai jebakan batman. Sebab pengusaha hanya mendapatkan nomor izin berusaha (NIB) saja. Sementara untuk menjalankan usaha harus mendapatkan notifikasi dari seluruh Kementerian dan Lembaga yang ada di Indonesia.

“Tawafnya belum tahu kapan berakhir karena orangnya ganti terus. Syukur-syukur kalau ada kepastian,” tutur Bahlil.

Hal inilah yang menjadi salah satu , kenapa investor memilih negara lain yang lebih ramah terhadap investasi. Sebab itu, tambah Bahlil , melalui Instruksi Presiden nomor 7 tahun 2019 tentang Percepatan Kemudahan Berusaha segala urusan perizinan dikelola BKPM. (B-003) ***