Seorang Ibu Rumah Tangga Kreasikan Dedaunan Jadi Pewarna Fashion

30

Seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat sukses mengkreasikan dedaunan, kayu-kayuan dan kulit buah-buahan menjadi motif pewarna alami pada kain dan bahan kulit. Dengan teknik bernama ecoprint, motif dedaunan hasil kreasinya tersebut dikembangkan menjadi produk fesyen bernilai tinggi.

Inilah berbagai produk fesyen hasil kreasi, Risti, seorang ibu rumah tangga, asal Desa Paku Haji, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Siapa sangka, beragam motif dedaunan yang ia terapkan pada produk pakaian, sepatu dan tas ini, memanfaatkan motif pewarna alami dari dedaunan, kayu-kayuan bahkan kulit buah-buahan. Teknik ini biasa disebut dengan  teknik ecoprint.  Teknik ecoprint tergolong unik karena motif yang dihasilkan berasal dari serat dan bentuk asli dedaunan.

Untuk membuat selembar kain bermotif dedaunan, pertama tama dibutuhkan dua lembar kain yang tidak mengandung polyester, menggunakan kain sutra dan kain katun. Sementara agar warna dan serat dedaunan cepat menempel di kain maka gunakan larutan tunjung atau larutan tanin untuk membilasnya. Pembuatannya pun cukup mudah. Pertama, gelarlah kain sutra yang telah dibilas dalam larutan tunjung diatas kantong plastik besar untuk ditempeli dedaunan sebagai motifnya. Gulung plastik bersama dua lembar kain tersebut menjadi lipatan kecil hingga terbungkus sedemikian rupa, dikukus kurang selama dua jam.  Saat dibuka beragam motif dedaunan dengan warnanya yang begitu natural tampak mencolok dan menempel pada selembar kain sutra yang siap dijadikan  bahan  pakaian. Menurut Rista, teknik ecoprint mulai digeluti dan dipelajarinya sejak 2018. Teknik ini bisa diaplikasikan ke segala jenis kain yang tidak mengandung polyester atau bisa juga diaplikasikan pada bahan kulit dan keramik. Selain lebih ramah lingkungan, bahan-bahannya pun mudah didapat di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Hasil kreasi Rista pun mulai dipasarkan secara daring dan dilirik oleh pembeli bukan hanya pembeli domestik bahkan dari luar negeri. Untuk produk kreasinya, seperti selembar kain sutra ia patok harga satu juta perdua meter, sementara untuk kain katun ia patok seharga tiga ratus hingga empat ratus ribu perduameternya.

Algi Muhamad Gifari, Bandung Tv.