Menyongsong Pilkada 2020 Antusiasme Balon belum Sejalan dengan Antusiasme  Calon Pemilih

5

PELAKSANAAN Pemilihan Umum Kepala Daerah Serentak Tahun 2020 masih  setengah tahun lagi. Menurut ketentuan, Pilkada 2020 dilaksanakan bulan November 2020. Akan tetapi, antusiasme para bakal calon dan elit politik, sudah tampak sejak awal tahun. Orang-orang yang punya minat dan niat menjadi bakal calon, sudah mulai menampakkan diri dengan identitas lengkap.

Di Jawa Barat pilkada serentak 2020 itu akan berlangsung di delapan daerah. Masing-masing, Kabupaten Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Karawang, Indramayu, Pangandaran, dan Kota Depok. Meskipun musim daftar belum ada, situasi politik mulai menghangat. Panas pada saat Pilpres 2019 ternyata beluim benar-benar padam, tiba-tiba saja bersambung dengan suhu politi jelang Pilkada 2020.

Di Kabupaten Bandung, upamanya, para tokoh yang akan mencalonkan diri sebagai bupati sudah bermunculan bahkan sudah menentukan pasangannnya. Secara formal mereka belum punya kendaraan politik yang pasgti. Parpol belum mereka-reka siapa yang akan dicalonkannya. Para elit politik masih terus berkonsultasi dengan DPD dan DPP masing-masing. Begitu pula kepastian koalaisi masih belum kental. Ada beberapa parpol yang berwacana akan berkolaborasi mengusung salah satu pasangan bakal calon. Namun baru sampai PDKT.

Seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya, para pesohor pun berminculoan pula. Di Kabupaten Bandung, ada nama Syahrul Gunawan, artis penyanyi, Atep, legend Persib yang berasal dari Cianjur. Ada politisi, birokrat, purnawirawan, dan bebagai profesi lagi. Yang pasti, antusiasme para calonan, mulai hangat.

Pada sisi lain, masyatrakat calon pemilih hampir di semua daerah pemilihan, masih belum mempetlihatkan  ketertarikannya terhadap plikada.  Ada beberapa hal yang harus menjadi catatan KPU, elit politik, psikolog, sosiolopg, dan pemerintah. Lembaga-lembaga survey juga harus sejak sekarang melakukan penelitian, tingkat peranserta masyarakat terhadap pilklada serentak.

Kita khawatir, masyarakat benar-benar merasa jenuh dengan pemilu serentak.  Kecenderungan menurunnya peran serta masyarakat dalam pilkada tahun ini selain perasaan jenuh, juga karena trauma dengan suasan Pemilu Serentak Tahun  2019 lalu. Kita semua tahu, pemilu serentak tahun lalu membuat masyarakat terbelah, kalau tidak dikatakan bercerai berai.

Meskipun para eloit politiknya sudah tampak saling berpelukan maaf memaafkan, bahkan saling dukung, di akar rumput perasaan benci membenci itu masih ada, bagai bara dalam sekam. Sedikit saja tersulut, baik disengaja atau tidak, bara itu akan menimbulkan kebakaran. Bagai kebakaran pada lahan gambut, api akan sullit dipadamkan. Kita khawatir justru pilkada serentak itu akan menjadi penyulut bara api dalan sekam tersebut.

Mampukah bangasa kita melaksanakan Pilkada Serentak Tahun 2020 dengan penuh antusiasme, demokratis, lancar, dan kondusif? Hal itu akan terwujud apabila semua elit politik mampu mengajak masyarakat, khsusunya para kadernya sampai akar rumput, melakuikan restruktisasi politik. Demokrasi harus berkembang berdasarkan kepentingan bangsa dan negara. Mengorbankan sedikit kepentingan politik parpol demi kesatuan dan persatuan, merupakan salah satui solusi. Kolabnorasi yang sekarang mulai lagi dibangun, harus menjadi titik keberangkatan kita semua menuju NKRI yang aman dan damai. ***