48.000 Lebih Pekerja Pariwisata di Jabar Terpaksa Dirumahkan

7

BISNIS BANDUNG – Tercatat 48.289 pekerja di sektor pariwisata di Jawa Barat diberhentikan atau dirumahkan akibat pandemi Covid-19. Mereka yang terpaksa dirumahkan itu meliputi bidang destinasi,  perhotelan, restoran, ekonomi kreatif, biro perjalanan dan pekerja seni.

Pekerja sektor pariwisata yang dirumahkan, rinciannya adalah bidang destinasi sebanyak 5.179 orang, pekerja hotel 12.143 orang dari total 2.768 lembaga usaha.

Lalu, pekerja di bidang usaha restoran sebanyak 1.179 orang, pekerja ekonomi kreatif sebanyak 14.991 orang dan pekerja di bidang biro perjalanan sebanyak 1.107 dan pekerja seni budaya sebanyak 14.721 orang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, Dedi Taufik, Rabu (12/5/2020) mengungkapkan para pelaku di industri pariwisata termasuk hotel, restoran, industri ekonomi kreatif hingga usaha nonformal banyak yang mengambil kebijakan untuk merumahkan para pekerjanya.

Para pelaku industri itu memutuskan untuk menutup dan tidak ada aktivitas yang signifikan dalam kegiatan ekonomi akibat penurunan drastis hampir merata di seluruh Jawa Barat.

Disparbud Jabar, ujarnya terus merancang strategi untuk memulihkan, termasuk membuat mitigasi di sektor ini setelah pandemi berakhir dan sejauh ini ada tiga tahap dan pemetaan yang sudah dibuat yakni fase tanggap darurat, fase pemulihan dan normalisasi.

Pada tahap tanggap darurat, lanjut Dedi, pihaknya melakukan upaya untuk menekan dampak buruk yang terjadi salah satu langkah yang diambil adalah berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta pemerintah kabupaten kota untuk membantu para pekerja, termasuk mendorong kebijakan fiskal bagi pelaku pariwisata berdasarkan permohonan asosiasi.

“Berdasarkan permohonan itu, pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melakukan refocusing anggaran untuk membantu para pekerja yang terdampak. Alhamdulillah Jabar mendapat bantuan dengan kuota 36 ribu paket bahan pokok bantuan kerohiman dari Kemenparekraf untuk pekerja yang terdampak,” katanya.

Diakuinya, bantuan ini hanya bersifat sementara dan tidak bisa menyelesaikan persoalan namun, jika dilihat dari sisi psikologis, diharapkan bisa berpengaruh positif dan meringankan beban kepada para pekerja yang dirumahkan. (B-002)***