58 Ribu Lebih UMKM di Jabar Terdampak Pandemi Covid-19

25
58 Ribu Lebih UMKM di Jabar Terdampak Pandemi Covid-19

BISNIS BANDUNG— Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan  pertama  tahun 2020  mencapai 2,73 %, kemudian  triwulan kedua  -5,98% dan triwulan ketiga  menjadi -4,08%.

Akibat pandemi Covid 19 secara nasional hampir 50% UMKM  usahanya tutup, sisanya beroperasi dengan kondisi omset yang menurun dratis pada bulan Maret dan April (hasil survey asian development bank). Data lainnya menunjukkan, 88% usaha mikro dilaporkan tidak memiliki tabungan dan kehabisan uang di masa pandemi.

Akses kepada pembiayaan formal terbatas, sebanyak 39% UMKM menggantungkan keuangannya dari pinjaman perorangan, 19% UMKM mengalami masalah “cash flow” serta akses permodalan usaha. “Penyebab UMKM  banyak kolaps karena bahan baku sulit didapat, produksi dan distribusi terhambat, kesulitan permodalan, penurunan daya beli dan omzet menurun,” kata  Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jabar, Drs.Kusmana Hartadji, MM  kepada Bisnis Bandung, Senin (30/11/2020) di Bandung.

Kusmana Hartadji mengatakan,  akibat pandemic  Vovid-19 di Jabar  berdasarkan data dari kabupaten/kota hingga 30 juli 2020 sebanyak 58.263 UMKM  terdampak. Sektor yang terdampak adalah jasa perusahaan, industri, manufaktur, pariwisata dan lainnya. Data Disnakertras Jabar, hingga 20 Oktober 2020 jumlah pekerja yang di PHK atau dirumahkan mencapai 99.227 orang.

Berdasarkan data BPS ternyata dengan adanya pandemi Covid- 19 kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat berdampak pada perubahan pola konsumsi. Pelaku usaha pun menyesuaikan perilaku ini dengan diversifikasi penjualan melalui usaha online.

Pada masa pandemi e-commerce semakin melejit seperti halnya perusahaan penyedia jasa informasi dan teknologi. Data BPS tahun 2019 menunjukkan 20.46% usaha di Jabar melakukan e-commerce, ketiga tertinggi di Indonesia sebagai provinsi yang melakukan e-commerce. 42,15% usaha di Jabar yang melakukan e-commerce bergerak di lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor. 87,87% usaha di Jabar melakukan e-commerce memiliki tenaga kerja 1-4 orang (usaha mikro).

Baca Juga :   BBPOM Musnahkan Obat Dan Kosmetik Ilegal Senilai 8 Milyar

Kusmana Hartadji menegaskan, hampir semua masyarakat dari berbagai profesi berwirausaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu, produk yang dibuat harus kreatif dan menarik sehingga mampu bersaing dengan produk sejenis lainnya. Ada 4 (empat) hal yang harus diperhatikan sebelum menjual produknya. Pertama, produk itu harus dibutuhan, kedua, produk harus disukai untuk itu pentingnya survei pasar, ketiga, produk harus diketahui untuk itu harus ada strategi pemasarannya. keempat, produk itu harus ada target sasarannya jadi produk bisa dibeli dan ada pembelinya.
Pemprov Jabar sejak terjadi pandemi covid telah membentuk tim gugus tugas covid 19 dan pemulihan ekonomi Jawa Barat, yang kemudian dikukuhkan menjadi komite kebijakan penanganan covid 19 dan pemulihan ekonomi daerah provinsi Jawa Barat, sesuai dengan Kepgub Jawa Barat nomor: 475.5/kep.581-hukham/2020. Dengan pengukuhan komite tersebut pengendalian Covid-19 akan berjalan beriringan dengan pemulihan ekonomi. Pemulihan ekonomi Jawa Barat akan dilakukan secara komprehensif, terukur, inovatif, dan kolaboratif.

Program yang digulirkan oleh Pemprov Jabar di antaranya yakni Banpres  Produktif Usaha Mikro di Jabar. Rekapitulasi jumlah data pelaku usaha mikro produktif Dinas KUK provinsi Jawa Barat dan Dinas KUMKM kabupaten/kota berdasarkan data 19 Oktober 2020, data yang telah divalidasi sebanyak 1.887.775 UMKM atau 20,73% pelaku usaha mikro Jawa Barat dengan nilai penyaluran Rp 4,53 triliun. Penyaluran Kredit Mesra hingga 31 Agustus 2020 tersalur Rp 11.442.000.000,- disalurkan untuk 288 rumah ibadah (505 kelompok/ 3.607 orang) di 357 desa, 132 kecamatan di 16 kabupaten dan 6 kota di Jawa Barat.

Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Oktober 2020 di Jawa Barat total nilai akad mencapai Rp 16,53 Triliun, total outstanding Rp 13,74 Triliun dengan debitur 668.871 orang. KUR didominasi oleh sector perdagangan besar nilai akad Rp 8,11 Triliun, total outstanding Rp 6,65 Triliun dengan debitur 349.176 orang, disusul sector industry pengolahan dengan nilai akad Rp 3,05 Triliun, outstanding Rp 2,62 triliun dengan debitur 118.466 orang, kemudian sector pertanian, perburuan dan kehutanan dengan nilai akad Rp 2,09 Triliun, outstanding 1,63 Triliun, debitur 92.655 orang.

Baca Juga :   Pembahasan RPJMD Jabar 2019-23 Terancam Mulur

Program pemulihan UMKM salah salah satunya melalui anggaran pemerintah provinsi Jawa Barat yakni dengan membuat 10 juta masker oleh UMKM yang terbagi dalam 2 tahap yakni tahap I sebesar Rp 2 miliar untuk 2 juta masker oleh 200 umkm, dan tahap II sebesar Rp 8 Miliar untuk 8 juta masker oleh 625 UMKM. Adanya program ini pelaku umkm bisa terus berusaha dan berproduksi.

Program OPOP  (one pesantren one product) 2020 telah memasuki tahap audisi II (juara tingkat kabupaten/kota). Tahap audisi I sebanyak 500 pesantren lolos dan mendapatkan bantuan Rp 25.000.000 untuk startup dan Rp 35.000.000 untuk scaleup. Sedangkan audisi tahap II sebanyak 356 pesantren lolos dan mulai 6 November 2020 akan mulai tahap penjurian di 11 kabupaten/kota, hadiah tahap II katergori startup sebanyak 15 pesantren Rp 75.000.000, kategori scale up juara 1 (15x rp 200.000.000) juara II (15x Rp 150.000.000) juara III (15x Rp 100.000.000), sedangkan audisi tahap III atau tingkat provinsi 3 pemenang dengan hadiah penguatan modal masing-masing Rp 400.000.000.  (E-018)***