Abaikan Program Pemberantasan Korupsi Ardian Iskandar  Dihukum Empat Tahun Ditambah Denda Rp 100 Juta

1

BISNIS BANDUNG – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat memvonis terdakwa Presiden Direktur PT Tiga Pilar Agro, Ardian Iskandar Maddanatja dengan hukuman 4 tahun dan denda Rp100 juta subsider 4 bulan kurungan, sama dengan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU). Sang Direktur  terbukti memberi suap terkait pengadaan Bantuan Sosial  untuk penanganan Covid-19 di wilayah Jabodetabek kepada mantan Mensos Juliari Peter Batubara.

Vonis dijatuhkan kepada Ardian karena dinilai ikut menyakinkan melakukan tindak pidana secara bersama-sama berdasarkan beberapa hasil pemeriksaan terhadap keterangan saksi, barang bukti dan rekam jejak digital yang telah dihadirkan dan menjadi fakta dalam persidangan sebagai tindakan suap guna memuluskan proyek bansos Covid-19. “Hukuman pidana penjara selama 4 penjara dan denda Rp100 juta dengan ketentuan bila denda tidak dibayar, diganti hukuman kurungan selama 4 bulan,”

Hal yang memberatkan, Majelis Hakim menyebut, Ardian tidak mendukung program pemerintah memberantas tindak pidanakorupsi. Selain itu, yang dilakukan Ardian terkait penanganan dampak Covid-19.

Ardian yang merupakan Direktur Utama PT Tigapilar Agro Utama terbukti menyuap mantan Mensos Juliari Rp1,95 miliar agar perusahaannya mendapatkan jatah paket sembako dalam penyaluran bansos ke masyarakat. Ardian memberikan uang suap sebesar Rp1,95 miliar kepada Juliari. PT Tigapilar Agro Utama untuk mengerjakan 115 .000 paket sembako pada tahap 9, tahap 10 dan tahap 12.

Pegawai Kemensos terima uang lelah?

Sementara itu Iskandar Zulkarnaen, pegawai Kementerian Sosial (Kemensos), mengaku mendapat uang sebesar Rp 165 juta dari terdakwa kasus dugaan korupsi bansos Covid-19, Matheus Joko Santoso (MJS) yang diduga berperan sebagai penyuap dan menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos dalam kasus terkait.

“Sesuai BAP (Berita Acara Pemeriksaan) saya terima Rp165 juta, Yang Mulia,” tutur Iskandar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (3/5/21). Uang itu sebagai ‘uang lelah’ karena telah bertugas sebagai tim teknis bantuan sosial (bansos) Covid-19. “Itu uang lelah kami, Yang Mulia,” ujar Iskandar.

Baca Juga :   Nilai Rupiah Terhadap Dolar Melemah, Peternak Ayam Mengluarkan Biaya Tinggi

Namun Iskandar menyadari bahwa pemberian uang itu sebagai gratifikasi. Karenanya, dia langsung menyerahkan uang itu kepada KPK. “Sudah saya kembalikan ke penyidik KPK,” kata Iskandar.  Lain halnya dengan , Robin Saputra yang juga pegawai Kementerian Sosial. Ia  mengaku pernah karaokean di kawasan SCBD Jakarta dengan mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) Kementerian Sosial Matheus Joko Santoso (MJS).  Tidak hanya MJS, penyuap Juliari lainnya, yakni Harry Van Sidabukke (HVS) diakuinya juga pernah ikut karaokean bersama. Dalam kasus ini Robin  didakwa jaksa dengan dugaan turut menerima uang senilai Rp200 juta. Namun diakui Robin uang yang diterimanya itu akan diserahkan ke KPK . (B-003) ***