Adapatasi Kebiasaan Baru, Inovasi Baru

218
Adapatasi Kebiasaan Baru, Inovasi Baru

Melalui Kementrian Kesehatan penggunaan diksi New Normal direvisi   menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto telah mengeluarkan kebijakan terbarunya yaitu Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020. Keputusan menteri tersebut sudah melalui tahap perevisian sampai lima kali. Salah satu alasan diubahnya istilah itu di antarannya untuk menyesuaikan dengan perkembangan keilmuan dan teknis kebutuhan pelayanan.

Kota Tegal menjadi kota pertama dalam menerapkan adaptasi kebiasaan baru tersebut. Keberhasilan melawan virus covid-19 menjadikan Kota Tegal sebagai area zona hijau dengan zero pasien yang positif Covid-19. Aspek penting dalam menerapkan adaptasi kebiasaan baru yaitu pemulihan ekonomi. Normal kesehatannya, normal ekonominya, juga situasi kondisi serta menghidupkan pelaku  usahanya. Usaha UMKM menjadi tumpuan roda perekonomian masyarakat Kota Tegal. Kota Bahari menjadi identitas kota dengan mayoritas pekerjaan warga sebagai pelaku usaha perikanan dan nelayan.

Usaha tetap dijalankan disertai protokoler kesehatan. Covid berpotensi membunuh manusia akan tetapi terlambat  lambat dalam bergerak mengambil keputusan akan membunuh semua sendi kehidupan tidak terkecuali ekonomi dan kesehatan

 Berdasarkan catatan data 2020 terdapat 129 juta angkatan kerja saat ini, 97 persen di antaranya diserap oleh UMKM.  Data terakhir Kemenkop,  terdapat 64 juta unit usaha UMKM. Angka yang tidak sedikit sebagai roda penggerak ekonomi masyarakat. Efek social distancing menurunkan 40% kapasitas ekonomi. Terdapat  ancaman perekonimian Indonesia. Singapura sebagai negara tetangga sudah mengalami resesi. Diharapkan Indonesia tidak tertular  resesi perekonomian negara singa itu.

Sekelompok mahasiswa IPB  dalam kegiatan kuliah kerja  nyata 2020 di wilayah Muarareja, Kota Tegal (15/7). memiliki ketertarikan pada usaha milik masyarakat wilayah Kajongan, Muarareja yaitu kerajinan aksesoris yang memanfaatkan bahan baku limbah kerang. Dengan kreativitas dan  inovasi  mereka mampu menghasilkan barang  yang memiliki nilai tambah . Dengan dipoles  sentuhan  seni   mereka menghasilkan berbagai aksesoris seperti kalung, liontin, bros hingga kursi dan meja. Secara tidak langsung usaha kerajinan kerang mampu memberdayakan masyarakat sekitar , dengan memberikan kesempatan  kerja. Namun kondisi pandemi, pameran sebagai media promosi menjadi  terhambat, sehingga pemasaran juga tertekan.

Akademisi  yang menyatu dengan masyarakat perajin punya andil dalam memperbaiki struktur usaha. Para perajin didorong  meningkatkan nilai jual serta mendigitalisasi marketing sehingga produk merekadikenal oleh masyarakat lebih luas dan menembus pasar nasional ataupun internasional. Kelurahan Muarareja secara geografis terletak dekat dengan pantai sehingga limbah kerang sebagai  bahan baku. Mudah didapat. Kerang tersebut  semula tidak berguna, hanya sebagai sampah yang tidak mempunyai nilai ekonomis. Sekarang limbah itu menjadi komoditas yang menarik. Dengan kreativitas dan jiwa wirausaha, barang tak berguna itu menjadi salah satu produk betrnilai ekonomis tinggi.   (Dwi Arifin/Mahasiswa IPB University) ***