Ahli Epidemiologi :  Vaksin Sinovac Diragukan Dalam Kedaruratan Seakan Semua Perintah Atas Nama Presiden

1974

BISNIS BANDUNG  –  Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono C. Menurutnya, sejauh belum ada temuan yang  bisa dikategorikan sebagai vaksin yang efektif dan aman bagi kesehatan penyintas Corona. Hingga saat ini masih banyak spekulasi soal temuan vaksin virus Corona (COVID-19), tak terkecuali, vaksin asal China yang  sudah dikirim ke Indonesia.

“Harus lewat vaksin yang betul-betul efektif dan aman. Tapi sekarang itu malah banyak orang pengen ada keajaiban, misalnya sudah dapat vaksin dari China. Kemudiani ada keajaiban minyak kayu putih, keajaiban obat lainnya,” ujar Pandu , awal pekan ini.

Terkait kedatangan vaksin buatan Sonovac, China. Bahkan dikabarkan siap dilakukan uji klinis tahap III. Saat ini banyak negara berlomba-lomba untuk dari China , dirinya  bingung dengan mekanisme penanganan wabah saat ini. Standar prosedur kesehatan di tengah kondisi darurat seakan tidak lagi diutamakan.

“Jadi prosedur standarnya sudah dilampaui, seakan-akan dalam kedaruratan itu boleh ngapain aja. Seakan-akan semua perintah atas nama Presiden. Kan presiden juga enggak tahu apa-apa. Kasian Pak Jokowi,” tukasnya.

Untuk diketahui, virus yang pertama kali berasal dari kota Wuhan di China ini telah melanda berbagai negara di dunia. China jadi sorotan karena tempat virus berasal dan mengembangkan vaksin terus menerus untuk melawan pandemi global ini.

Namun, siapa sangka China menjadi negara yang warganya mungkin akan menjadi yang terakhir menggunakan vaksin yang dikembangkan negara mereka sendiri. Hal tersebut muncul karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin setelah terjadi skandal oleh perusahaan vaksin di China. Skandal besar di tahun 2018 tersebut membuat kepercayaan masyarakat lokal menurun.

Investigasi yang dilansir dari South China Morning Post menemukan perusahaan vaksin terkemuka, Changchun Changsheng Biotechnology telah dengan sengaja membuat produk vaksin yang kedaluwarsa. Tidak hanya itu, mereka juga melaporkan hasil yang difabrikasi mengenai pembuatan vaksin rabies pada tahun 2018 silam. Perusahaan yang berada di provinsi Jilin, China tersebut mendapat gugatan sebesar 1.3 milyar Dolar Amerika pada Oktober tahun lalu.  Hal ini  jelas mengkhawatirkan. Sebab,  penanganan penyakit Covid-19 di China dapat terhambat hanya karena persepsi masyarakat telah menyamaratakan semua vaksin. Meski Covid-19 tidak ada saat skandal tersebut terjadi, tetapi kemungkinan vaksin Covid-19 tidak dipercaya oleh warga China masih sangat tinggi sampai saat ini.  Jika kekhawatiran mereka menyebar luas, mereka akan ragu untuk menggunakan vaksin tersebut, sehingga akan menambah kasus pasien Covid-19.

Mengundang keprihatinan

Sementara itu Pelaksana tugas (Plt) Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan, bahwa vaksin Covid-19 yang dikirim dari perusahaan Sinovac asal China, sudah tiba di Indonesia dan itu akan diujicobakan pada sekira 1.600 relawan di Indonesia.

Pengujian tahap III (percobaan pada manusia) vaksin corona dari China di Indonesia mengundang keprihatinan  anggota Komisi III DPR RI Muhammad Nasir Djamil. Nasir mengaku miris jika  rakyat Indonesia dijadikan objek dari vaksin yang belum teruji itu. Sebab, kemungkinan vaksin itu gagal dan berakibat buruk bagi manusia sangat terbuka lebar.

“Kan itu trial and error, uji coba namanya. Berarti bisa berhasil atau gagal. Kalau berhasil bagaimana, kalau gagal gimana? Tapi bukan berhasil atau gagal yang kita bicarakan,” ujarnya.

Dia mempertanyakan alasan pemerintah mau menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk melakukan ujicoba klinis tahap III. Padahal di negara Cina sendiri vaksin tersebut belum sempat diujicobakan. Apa tidak ada negara lain? Kenapa Indonesia menerima itu? Seharusnya Indonesia punya sikap tegas dan jelas, tidak ingin rakyatnya dijadikan “kelinci percobaan”.

 “Jangan sampai rakyat yang sudah kena pandemik, juga dijadikan objek ujicoba vaksin, “ ujar Nasir. (B-003) ***