Alih Usaha Petani Tembakau

378

SAMPAI sekarang, daun tembakau dan produk tembakau Indonesia menempati peringkat pertama dunia. Daun tembakau Indonesia sangat dominan di pasar tembakau internasional. Begitu pula produk tembakau terutama rokok masih menguasai pasar internasional di samping konsumsi rokok nasional yang juga terbesar di dunia. Namun kalau kita amati kehidupan petani tembakau sangat memprihatinkan. Secara ekonomi, kehidupan petani tembakau jauh di bawah para pengusaha rokok.

Majunya industri rokok di Indonesia tidak berbanding lurus dengan kehidupan para petani tembakau. Masalahnya, produksi rokok di Indonesia didominasi tembakau impor. Munurut  Yusnan Syaukat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dimuat PR (30/10), industri rokok Indonesia menggunakan tembakau impor sampai 74%. Artinya daun tembakau yang diserap pabrik rokok nasional hanya sekira 20 – 25 persen saja. Hasil panen daun tembakau tahun 2015 mencapai 202.000 ton dari luas tanaman 218.000 hektar. Jumlah petani tembakau saat ini 567.000 keluarga.

Para petani tembakau makin hari makin merasa cemas, produksinya akan mubazir, selain tidak terserap pabrik, juga makin  tidak ”disukai” orang. Penentangan terhadap rokok tampaknya semakin gencar. Bukan hanya dilakukan LSM anti-rokok, tetapi juga pemerintah, melalui Kementrian Kesehatan mengkampanyekan antiasap rokok. Namun pemerintah belum secara tegas melarang produksi rokok. Pemerintah masih mengandalkan pendapatan negara dari cukai rokok yang  cukup besar. Tahun 2016, pemerintah mendapatkan  Rp 144 triliun dari cukai rokok. Tahun 2017 ini ditargetkan mendapat Rp157 triliun.