Alin Lini Widuri, ST, Dulu Ditolak, Kini Diburu

436

Alin Lini Widuri, ST kelahiran Garut , 24 Januari 1980 merupakan anak dari pasangan H. Abdoellah Moedjani (Alm) dan Hj. Widaningsih (73 Tahun) ini berprofesi sebagai pengusaha selada hidroponik . Ia merupakan anggota Komunitas Hidroponik Garut, Anggota Komunitas Hidroponik Indonesia serta anggota  Alumni Teknologi Pangan (Makanan Minuman Produk Anak Pangan Indonesia).

Istri dari Dani Farid Hasyim, Amd (39 Tahun) ini menceritakan,  tahun 2014 ia dan suaminya diperkenalkan hidroponik oleh pak Dadang Supriyadi (Pendiri Komunitas Hidroponik Garut). Awalnya hanya sebatas hoby untuk konsumsi sendiri, tapi setelah mengetahui ilmu-ilmu hidroponik , saya termotivasi untuk mengembangkan menjadi skala komersial. “Pilihan fokus untuk menanam selada hijau keriting (saladah bokor)  dengan alasan di daerah kami banyak  rumah makan dan ayam goreng yang hampir dipastikan menyajikan  saladah bokor sebagai lalapannya. Di mulai hanya memasok satu penjual  ayam goreng yang hanya membutuhkan 1 kilogram selada untuk 3 hari, kami mendapat lagi pelanggan satu rumah makan dengan kebutuhan2 kg/2 hari, dari situlah  pelanggan kami bertambah dan sampai saat ini kami baru mampu berproduksi selada  500 – 650 kg/bulan.

Alin Lini Widuri, ST mengutarakan,  ia memiliki latar belakang pendidikan Teknologi pangan, Universitas Pasundan Bandung, angkatan 1999 menjadi bekal tersendiri baginya dalam penanganan mulai panen sampai pasca panen. Modal awal  yang dikeluarkan untuk pembuatan naungan tanaman terbuat dari baja ringan hasil pinjaman dari koperasi.

Ia mengaku, tanaman selada hidroponik banyak  keunggunalnya dibandingkan dengan selada konvensional. Penyimpanan pasca panen untuk kesegaran (tidak busuk), selada hidroponik mampu bertahan di suhu ruangan antara 3-4 hari, dan di lemari pendingin sampai 10 hari,  selada ini bebas dari pestisida kimia.

Ibu dari Geaneza Widuri Hasyim (11 Tahun) dan Azka Rizky Hasyim (4 Tahun)  mengatakan,  selama 4 tahun menggeluti usaha selada hidroponik,  ada beberapa pengalaman. Dari segi budidaya  adan kendala-kendala yang harus dihadapi dan dicari solusinya, baik oleh sendiri maupun dipecahkan di komunitas hidroponik sehingga menambah keeratan tali silaturahmi. “Dari Segi market, ada hal yang paling menarik bagi kami. Ketika kami mencoba menawarkan selada kami ke sebuah rumah makan besar ditolak mentah-mentah, tetapi 4 bulan berselang datang dengan sendirinya ke kebun melalui orang yang berbeda yang mengatakan melihat dari facebook  dan Alhamdulillah menjadi pelanggan setia kami dengan order 30 Kg/3 hari,”tuturnya

Pada  prakteknya berhidroponik untuk skala komersial,  banyak  kendalanya, namun Alin Lini Widuri, ST berkeyakinan, setiap permasalahan pasti ada solusinya. Salah satu kendala yaitu persaingan yang luar biasa dengan selada konvensional (Garut sentra sayuran  konvensional), dengan harga jual jauh di bawah harga selada hidroponik. “Namun demikian peluang  sayuran hidroponik sangat potensial . Konsumen sudah tahu dan merasakan keunggulan sayuran hidroponik pasti tidak akan beralih dalam memilih,”ujar Alin, baru-baru ini kepada BB

Penganut moto hidup “Do’a, Jalani, Pahami, Syukuri  dan Nikmati” ini menambahkan, bahwa ilmu hidroponik  sangat luas dan pesat sekali perkembangannya, itu semua bisa didapat dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan dan sharing dengan  teman-teman yang menggeluti hidroponik baik skala hoby maupun komersial.

Persaingannya memang berat dari segi harga jual dibandingkan dengan selada konvensional, di karenakan selada hidroponik sudah bisa dikalkulasikan berapa modal yang di keluarkan per- pohon.  Sehingga harga selada hidroponik pastinya jauh di atas harga selada konvensional. Secara umum yang mempengaruhi tumbuh kembangnya pertanian  hidroponik dari kesadaran masyarakat  konsumen sayuran yang  bebas dari pestisida kimia. Kalaupun sayuran hidroponik  harus menggunakan pestisida akan di buat dari bahan-bahan nabati yang jelas tidak berbahaya bagi tubuh.

Penggemar warna biru ini menyebutkan,  program yang akan digulirkan untuk meningkatkan kualitas dan tren usahanya dengan cara memperkenalkan lebih luas dan mempertahankan kualitas keunggulan selada hidroponik yang diproduksi oleh Bumi Saladah Hidroponik Kadungora Garut .”Harapannya selaku petani selada hidroponik, menjadikan selada hidroponik menjadi icon tersendiri di Kota Garut. Diharapkan pula kuliner di Garut dan sekitarnya menyajikan selada hidroponik yang  tidak memakai pestisida kimia dan menjadi salah satu destinasi wisata dan edukasi pertanian di kota Garut,” pungkas Alin berharap.  (E-018)****