Amerika Akan Mewaspadai Kerjasama RI dengan China

759
Amerika Akan Mewaspadai Kerjasama RI dengan China

BISNIS BANDUNG-Pengamat Hubungan Internasional dari Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad, Dr.Dina Yulianti, M.Si mengemukakan, pemelihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2020 tampaknya sudah berakhir dengan terpilihnya Joe Biden dari partai demokrat sebagai pemimpin AS hingga tahun 2024.

Hubungan diplomatik AS-Indonesia tidak akan berubah hanya karena pergantian presiden di AS. Buat Indonesia, dengan doktrin politik luar negeri bebas-aktif, siapapun presidennya, Indonesia akan berusaha menjalin hubungan baik.

Untuk Palestina, misalnya, kemungkinan akan ada pendekatan yang berbeda dari AS; tapi rekam jejak AS selama ini dalam konflik Palestina-Israel menunjukkan, siapapun presidennya, AS akan selalu memihak Israel. Untuk negara-negara yang berkonflik dengan AS, mungkin akan sedikit pengaruh.

Misalnya, untuk Iran,  Biden sudah berjanji akan kembali ke perjanjian nuklir JCPOA yang telah disepakai oleh negara-negara P5+1. Tapi Demokrat biasanya selalu menggunakan isu HAM dalam interaksinya dengan negara lain kemungkinan besar AS di bawah Biden akan terus menekan Iran dengan isu HAM.

“Seandainya Donald Trump resmi dinyatakan kalah dan pemerintahan AS dipimpin Demokrat, kerjasama AS dengan negara-negara lain kemungkinan besar akan diwarnai dengan isu HAM. Sudah menjadi tradisi demokrat bahwa HAM dijadikan syarat kerjasama, atau bantuan, dari AS. Tapi di saat yang sama, AS juga punya kepentingan lain, yaitu menahan perluasan dominasi Tiongkok/China. Demi mencegah Indonesia mendekat ke China, sangat mungkin AS tidak akan terlalu “nyinyir” soal HAM di Indonesia,” ungkapnya kepada Bisnis Bandung,  Senin (23/11/2020).

Akademisi Unpad ini mengatakan, seandainya Biden resmi menjadi presiden AS dan dilantik Januari 2021. Hal positifnya mungkin dari sisi bahwa Biden sudah menjanjikan akan kembali kepada komitmen internasional, misalnya kembali pada JCPOA, Paris Agreement, serta kembali mendukung pendanaan PBB. Sebelumnya, di era Trump, semua perjanjian itu ditinggalkan; bahkan Trump menghentikan bantuan AS utuk UNRWA, lembaga PBB khusus menangani pengungsi Palestina.

Baca Juga :   Digelar Pasar Murah untuk Tahan Inflasi Harga Telur dan Daging Ayam Tetap Mahal

“Tapi perlu diingat bahwa rekam jejak Demokrat dan Republik selama ini sama; yaitu berusaha menjadi polisi dunia, sering melakukan intervensi pada urusan negara lain demi melindungi kepentingannya; serta tidak segan-segan melakukan embargo pada negara-negara yang dianggapnya sebagai musuh. Jadi, saya prediksi, target kebijakan luar negeri AS tidak akan berubah. Apabila Indonesia sejalan dengan keinginan dan kepentingan AS, Indonesia akan dianggap sebagai kawan; tapi bila mendekat ke pihak lain, misalnya bekerja sama dengan China, ya siap-siap saja dinyinyiri oleh AS,” katanya.

Hubungan Indonesia dengan AS selama era Trump secara umum baik-baik saja. Jadi hubungan diplomatik kedua negara cukup baik. Kalaupun ada yang perlu ditingkatkan tentu di hal-hal yang menguntungkan buat Indonesia, misalnya kerjasama ekonomi dan perdagangan. Untuk perdagangan, yang banyak berpengaruh adalah hubungan AS-Tiongkok/China. Para era Trump, terjadi perang dagang di antara keduanya, yang berimbas pada negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Namun, untuk Indonesia, perang dagang Tiongkok/China-AS ini justru membuka peluang, yaitu untuk mengekspor barang ke AS maupun ke China, mengisi kekosongan suplai dari kedua negara itu. Selain itu, perang dagang dengan AS membuat Tiongkok/China mencari alternatif untuk  berinvestasi; hal ini bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. “Tapi itu kan teorinya, prakteknya belum tentu.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi global mengalami penurunan akibat perang dagang Amerika Serikat dengan China ini, jadi buat Indonesia lebih baik tidak ada perang dagang. Di era Biden, rivalitas AS-Tiongkok/China akan tetap berlanjut, namun kemungkinan Biden akan melawan Tiongkok/China dengan cara-cara yang khas, mengikuti pakem diplomasi, bukan ala cowboy seperti Trump yang semena-mena menaikkan tarif atau menulis kata-kata keras di akun twitternya untuk menyerang China. (E-018)***

Baca Juga :   Samsat Membludak, Warga Abai Protokol Kesehatan