Amnesty Internasional Minta Polri Perbaiki Akuntabilitas Buronan Ditembak Mati Dihadapan Anaknya

6

BISNIS BANDUNG – Amnesty International Indonesia meminta Polri memperbaiki akuntabilitas dalam menangani kasus-kasus dugaan penyiksaan, dugaan pembunuhan di luar hukum, serta dugaan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh oknum kepolisian.

“Kegagalan akuntabilitas ini membuat pelanggaran hukum dan HAM oleh anggota kepolisian telah dan dapat terus berulang, baik itu terkait pelanggaran dalam penanganan unjuk rasa maupun dalam memproses hukum seseorang,” ungkap Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid , Rabu (10/2/2021). Amnesty menilai, setiap anggota yang terlibat harus dipastikan agar mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum. Menurut Usman, hal serupa itu sayangnya cenderung dipandang remeh. Sebab, kasus serupa kerap kali diselesaikan dengan permintaan maaf, pemberian uang, atau penghukuman yang sangat ringan. Selain itu, menurut Usman , atasan oknum pelaku atau mereka yang memiliki tanggung jawab komando juga masih minim dibawa hingga ke pengadilan. Amnesty berpandangan, praktik impunitas tersebut dapat memperkuat persepsi bahwa aparat kepolisian beroperasi di atas hukum dan akan memicu iklim ketidakpercayaan terhadap kepolisian.

“Yang paling mengkhawatirkan adalah otoritas tertinggi negara kerap memberi pemakluman-pemakluman atas brutalitas polisi ,” tuturnya. Seperti diketahui, belum lama ini, muncul  kasus dugaan kekerasan oleh aparat kepolisian, yakni seorang buronan tersangka kasus judi berinisial DG tewas setelah ditembak di bagian kepala oleh personel dari Polres Solok Selatan Kuasa hukum keluarga buronan judi yang tewas ditembak polisi di Solok Selatan, Sumatera Barat, meminta perlindungan untuk saksi dan keluarga korban penembakan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Ada dua orang saksi kunci yang diminta perlindungan, yaitu istri korban DG berinisial MF (35) dan BE (34) yang merupakan keluarga dari DG. “Kita minta perlindungan dan sudah mengirimkan surat ke LPSK,” kata kuasa hukum keluarga korban Ryan Septya Putra , Selasa (2/2/2021).

Baca Juga :   Jika THR Dicicil Derita Buruh Pun Makin Bertambah

Ryan mengatakan, pihaknya menuliskan kronologis kejadian yang berawal dari datangnya polisi ke rumah korban hingga korban ditembak di bagian kepala. Saat itu, saksi kunci berada di lokasi kejadian dan menyaksikan peristiwa tersebut. Bahkan, menurut Ryan, anak korban yang berumur 3 tahun juga menyaksikan kejadian itu sehingga mengalami trauma mendalam. “Kami juga memohon perlindungan agar dapat dilakukan pemulihan traumatik kepada anak korban yang masih berusia 3 tahun, yang melihat langsung ayahnya ditembak mati, yaitu AMK,” kata Ryan. Menurut Ryan, perlindungan saksi sangat penting supaya proses pengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya atas dugaan tindak pidana pembunuhan oleh polisi, agar bisa berjalan dengan lebih terbuka, detail dan lugas. Selain itu, juga untuk menjamin keamanan para saksi tanpa adanya intervensi dan gangguan-gangguan yang mungkin saja terjadi.

“Bisa saja dilakukan oleh berbagai pihak yang akan menambah trauma dan luka yang lebih dalam terhadap saksi dan korban yang akan berakibat mengganggu proses pencarian dan pengungkapan fakta-fakta,” kata Ryan seraya menambahkan keyakinan dan percaya dalam perlindungan saksi dan korban, keselamatan saksi dan korban akan lebih terjamin dan terjaga keamanannya baik secara fisik maupun secara psikis.

Ditembak bagian kepala

Sebelumnya diberitakan, Kantor Polsek Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, diserang sekelompok orang yang diduga marah karena keluarganya meninggal dunia saat ditangkap polisi. Tersangka berinisial DG yang meninggal dunia akibat tembakan di bagian kepala. Tersangka tewas setelah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Solok Selatan. Menurut polisi, saat ditangkap tersangka DG menyerang anggota kepolisian dengan menggunakan senjata tajam sehingga tersangka harus dilumpuhkan Namun, keluarga DG mengungkapkan fakta berbeda dengan versi kepolisian. Kuasa hukum keluarga dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pergerakan Indonesia Guntur Abdurrahman menyebutkan, korban tidak melawan petugas saat ditangkap. “Tidak ada korban melawan. Versi polisi disebutkan korban melawan yang menyebabkan polisi terluka. Itu tidak benar. Rekaman video yang kita punya, terlihat tidak ada polisi yang terluka,” kata Guntur , Jumat (29/1/2021) lalu. Guntur menjelaskan, korban ditembak dari jarak dekat dengan peluru mengenai kepala. “Kejadian ini sangat ironis sekali, karena dilakukan di hadapan istri dan anak-anak korban,” ungkap Guntur.   (B-003) ***

Baca Juga :   Angkatan Laut AS Larang Penggunaan TikTok