Aprindo: BLT Dongkrak Daya Beli Konsumen

14
Aprindo: BLT Dongkrak Daya Beli Konsumen

BISNIS BANDUNG– Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (DPD Aprindo)  Jawa Barat, Yudi Hartanto berasumsi saat ini angka kunjungan dan angka transaksi di pasar modern dalam kuartal ke-4 sudah mulai memperlihatkan adanya peningkatan jumlah pengunjung walaupun belum merata di beberapa format ritel.

“Perkiraan kami pada bulan Oktober 2020 ada kenaikan jumlah transaksi rata-rata 6% dibandingkan periode bulan sebelumnya untuk groceries, sedangkan untuk format department store masih tidak menggembirakan. Namun angka ini masih jauh dibawah jika dibandingkan dengan jumlah transaksi tahun lalu,” tutur Yudi Hartanto kepada Bisnis Bandung, Senin (30/11/2020).

Kenaikkan kunjungan dan penjualan di toko ritel dipacu oleh pelonggaran aktivitas ekonomi dari pelaksanaan PSBB menjadi pelaksanaan Adaptasi Kebiasaan Baru oleh mayoritas Kota dan Kabupaten di Jawa Barat. Kemudian dengan cairnya berbagai bantuan tunai dari pemerintah pusat, kebutuhan pokok dan pangan lainnya dapat segera dipenuhi oleh masyarakat dalam dua bulan terakhir ini secara bersamaan.

Di samping itu  masyarakat lebih berani dan percaya untuk beraktivitas belanja di toko ritel modern karena sejauh ini toko ritel masih menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Rata-rata peningkatan penjualan terjadi pada akhir bulan dan awal bulan disesuaikan dengan tanggal penggajian karyawan. Kenaikkan jumlah pengunjung merata di seluruh daerah, baik perkotaan maupun pedesaan”, katanya.

Penurunan daya beli masyarakat masih terjadi dalam laporan penjualan kuartal ke-3 tahun ini. Namun memasuki kuartal ke-4 atau sejak bulan Oktober 2020 dimana dengan cairnya berbagai bantuan pemerintah, sedikit banyak mulai memperlihatkan dampak positif dengan naiknya jumlah pengunjung ke toko ritel modern. Perkiraan pada bulan Oktober 2020 dibandingkan dengan September 2020 ada peningkatan jumlah pengunjung antara 5-8%.

Baca Juga :   Satpol PP Bongkar Puluhan Kios

Sejauh ini masyarakat masih memprioritaskan pembelian barang kebutuhan pangan dibandingkan sandang. Hal ini terlihat masih sepinya pengunjung di format department store, namun Aprindo Jabat masih berharap banyak pada Festive Season Natal dan Tahun Baru dalam waktu dekat ini bisa mendongkrak pengunjung ke department store.

Daya beli yang turun paling besar ada di kelompok masyarakat menengah kebawah, dengan penghasilan dibawah 5 juta rupiah. Kelompok masyarakat ini selain paling banyak, juga merupakan kelompok yang paling terdampak oleh pandemi covid19 saat ini.

Aprindo berharap dengan bergulirnya program pemerintah yaitu stimulus pemulihan ekonomi nasional akan memberikan multiplier efek yang positif terhadap toko ritel modern karena sektor industri ritel sangat tergantung pada konsumsi rumah tangga. Salah satu target stimulus PEN adalah dengan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat yang mempunyai UMKM dan kepada karyawan dengan penghasilan dibawan 5 juta rupiah. Aprind berharap pemerintah baik pusat maupun daerah memberikan insentif secara langsung terhadap sektor industri ritel, misalnya dengan pembebasan atau pengurangan berbagai jenis pajak yang selama ini dikenakan pada usaha ritel.

“Tidak ada yang berani memastikan kapan operasional toko ritel modern akan kembali sebagaimana sediakala sebelum pandemi covid19. Krisis ekonomi saat ini diakibatkan oleh krisis kesehatan yang begitu mendadak menghantam seluruh negara. Kita berharap dengan adanya vaksin maupun pencegahan yang tepat akan sanggup mengembalikan situasi normal seperti era sebelum pandemi covid19, dan dengan demikian dapat meningkatkan kembali jumlah pengunjung ke toko ritel modern. Tetapi dengan melihat berbagai upaya dan pencapaian pemerintah dalam menangani pandemi Covid19, Aprindo yakin pergerakan ekonomi akan semakin positif.

Sebelum pandemi covid19 melanda khususnya di Indonesia, Aprindo  memperkirakan pertumbuhan sektor ritel akan ada kenaikan sekitar 9% pada tahun 2020.

Baca Juga :   Nenek Cicih Berharap 4 Anaknya Cabut Gugatan

Namun dengan kondisi pandemi Covid19 yang hingga saat ini belum memperlihatkan perlambatan, Aprindo memperkirakan pertumbuhan sekitar 2% saja sudah bagus.

Pada tanggal 11 November 2020 yang baru saja berlalu, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia memperingati hari pendirian Aprindo yang ke-26. Sejak November 2019 tahun lalu, HUT Aprindo telah dicanangkan sebagai Hari Ritel Nasional oleh  Menteri Perdagangan, dan pada tahun ini merupakan peringatan pertama HRN.

Dalam HUT ini Aprindo  ingin memberikan hal yang lebih bermakna dibandingkan dengan pemberian diskon yang jor-joran. Aprindo pada perayaan Hari Ritel Nasional 2020 menyadari bahwa krisis ekonomi saat ini telah berdampak ke semua pelaku usaha, terutama pelaku UMKM. Oleh karena itu, dalam HRN 2020 ini Aprindo justru membuat berbagai program untuk membantu UMKM, sekali lagi bukan dengan pemberian diskon sebagaimana biasanya.

Jumlah pelaku UMKM di Indonesia adalah hampir 98% dari jumlah pengusaha. Aprindo menyadari jika pelaku UMKM dapat bergerak secara positif, penghasilan yang diterima pelaku UMKM maupun karyawannya akan dipergunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari baik di toko ritel modern maupun di pasar rakyat. Secara berkesinambungan akan menggerakkan kembali konsumsi rumah tangga dalam perekonomian Indonesia.(B-018)***