Bahaya di Balik Aplikasi FaceApp TikTok

194

BISNIS BANDUNG – Aplikasi FaceApp kembali populer. Kali ini, aplikasi tersebut banyak digunakan oleh pengguna TikTok.

FaceApp diketahui memiliki fitur yang dapat merubah wajah penggunanya, dari pria menjadi wanita, atau sebaliknya. Banyak pengguna TikTok menggunakan tagar #gaadakhlak ketika mengunggah wajah mereka yang berubah.

Pengamat keamanan siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya mengatakan ada bahaya di balik penggunaan aplikasi FaceApp. Dia mengatakan data wajah pengguna aplikasi itu sangat berharga di era Big Data saat ini.

“Dalam era Big Data ini, kita tidak tahu sejauh apa potensi bahaya data yang menurut kita simpel saja seperti data wajah. Seberapa berharga data wajah kita. Istilahnya sidik wajah,” kata Alfons saat dihubungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

“Karena sekarang sudah banyak aplikasi yang mampu menggunakan wajah sebagai metode autentikasi,” tambahnya.

Alfons menuturkan aplikasi FaceApp kurang bertanggung jawab dengan data foto pengguna yang diunggah ke aplikasi itu. Dalam perjanjian akhir pengguna di aplikasi tersebut, tertulis perusahaan memiliki hak untuk mengatur atas apa pun yang dibuat pengguna.

Dengan perjanjian itu, wajah pengguna berpotensi digunakan untuk membuat identitas palsu.

“Jika kita memberikan hak menggunakan wajah kita kepada aplikasi mungkin kita perlu mempertimbangkan resiko di masa depan sehubungan dengan sidik wajah ini. Misalnya wajah kita di gabungkan atau digunakan untuk membuat identitas palsu itu bisa membuat kita dalam masalah,” jelasnya.

Terkait dengan hal itu, Alfons meminta masyarakat untuk memperhatikan End User License Agreement (EULA) sebelum menginstal aplikasi. EULA merupakan sebuah perjanjian antara pembuat aplikasi perangkat lunak dan pengguna aplikasi.

“Untuk aplikasi FaceApp pada prinsipnya adalah aplikasi yang menjalankan fungsi memanipulasi gambar dengan metode gambar dengan metode tertentu sehingga menjadi menarik. Yang perlu diperhatikan setiap kali menginstal aplikasi adalah EULA (end user license agreement) dan bonafiditas perusahaan pembuat aplikasinya,” tambahnya.

Baca Juga :   Pikukuh Dianut Orang Baduy, Sebuah Kepatuhan Mutlak dalam Kehidupan

Kaspersky Lab mengaku menemukan sejumlah aplikasi FaceApp palsu. Aplikasi itu didapat dari toko aplikasi pihak ketiga dan sudah diinfeksi adware MobiDash. Setelah aplikasi diunduh, MobiDash akan masuk ke perangkat pengguna secara diam-diam dan menampilkan iklan yang mengganggu.

“Iklan yang ditampilkan oleh Adware berbeda-beda, ada yang bersifat sangat mengganggu seperti munculnya pop-up di desktop atau iklan yang muncul di browser dengan menampilkan mesin pencari khusus,” kata Igor Golovin, peneliti keamanan di Kaspersky.

Adware merupakan sejenis perangkat lunak yang mempunyai kemampuan untuk menginstalasi dirinya sendiri pada komputer atau ponsel tanpa diketahui oleh pengguna. Perangkat lunak ini akan menampilkan iklan disaat pengguna mencari informasi di internet.

Karena potensi bahayanya, Amerika Serikat (AS) pernah menyerukan penyelidikan terhadap aplikasi FaceApp. Penyelidikan terkait kecurigaan aplikasi itu melanggar privasi dan bisa mengganggu keamanan nasional di negara itu.

FaceApp merupakan aplikasi yang dibuat oleh salah satu perusahaan rintisan asal Rusia untuk mengubah wajah.

CEO FaceApp Yaroslav Goncharov mengatakan bahwa pihaknya tidak menyalahgunakan foto pengguna yang diunggah ke aplikasinya. Goncharov mengatakan sebagian besar foto pengguna akan secara otomatis dihapus oleh server mereka dalam waktu 48 jam.

Selain itu, dia menegaskan pemerintah Rusia tidak memiliki akses untuk mencuri data.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) juga telah melakukan evaluasi terhadap aplikasi FaceApp. Evaluasi tersebut terkait potensi penyalahgunaan data pribadi pengguna oleh FaceApp.

Pengamat keamanan siber dari Indonesia ICT Institute Heru Sutadi merekomendasikan pengguna agar lebih jeli sebelum memasang (install) suatu aplikasi dalam ponsel. Heru menilai hampir semua aplikasi, bahkan gadget sekalipun bisa memantau perilaku dan mengumpulkan data pengguna.

“Hampir semua aplikasi atau bahkan gadget memonitor perilaku dan mengambil data pengguna. Saran, sebelum instal perhatikan data apa saja yang akan diambil dan dimonitor dari ponsel kita, kalau keberatan jangan diinstal,” jelasnya . (C-003/DAL)***

Baca Juga :   Pelaku Pencabulan Tiga Orang Anak Diringkus