Bandung Virtual Food Festival (BVFF) 2021

5
Bandung Virtual Food Festival (BVFF) 2021

BISNIS BANDUNG — Bandung Virtual Food Festival (BVFF) 2021 merupakan acara virtual pertama dalam program berbagi makanan (food sharing) di awal tahun 2021 yang diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Kota Bandung, Rikolto Indonesia, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNPAR. Bandung Virtual Food Festival (BVFF) 2021 juga didukung oleh berbagai stakeholders yang concern terhadap isu pangan, mulai dari akademisi, pelaku UMKM, komunitas, media, dan pemerintah.

Kegiatan Bandung Virtual Food Festival (BVFF) 2021 dibuka H. Oded Muhammad Danial, S.A.P. selaku Walikota Bandung. Oded menyampaikan Bandung Virtual Food Festival sejalan dengan visi Kota Bandung, salah satunya dalam mewujudkan ketahanan pangan. Hal ini didasari fakta bahwa Kota Bandung tidak memiliki lahan pertanian, di mana 96% pangan Kota Bandung didatangkan dari luar Bandung. Kota Bandung harus mampu mewujudkan ketahanan pangan melalui berbagai inovasi melalui program Bandung Kota Cerdas Pangan.

Sambutan juga disampaikan Dr. Pius Sugeng Prasetyo, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan sekaligus Ketua Panitia Bandung Virtual Food Festival 2021. Bandung Virtual Food Festival bertujuan menguatkan kebersamaan masyarakat Bandung dalam ketahanan pangan, khususnya dalam mengurangi sampah makanan (food waste). Berbagai langkah dapat dilakukan untuk mendukung program Bandung Kota Cerdas Pangan, yakni Kangpisman, Buruan Sae (Urban Farming), dan berbagai program lainnya

Pengukuhan Kota Bandung sebagai anggota Pakta Milan pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara diharapkan dapat membangun langkah yang berkelanjutan dalam mewujudkan komitmen ketahanan pangan melalui kolaborasi yang dilakukan berbagai pihak.

Rikolto Indonesia diwakili Catur Dewi Utami juga mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, NGO, komunitas, dan akademisi yang diwakili Dispangtan, Badami, UNPAR, dan berbagai stakeholders lainnya. Besar harapan agar Bandung dapat memetik pemelajaran berharga dari kota-kota yang tergabung dalam jejaring Pakta Milan.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar juga menyampaikan penting untuk menjaga ketahanan pangan dengan keberadaan penduduk Kota Bandung dengan penduduk hampir sekitar 2,5 juta atau bahkan 4 juta ketika malam hari. Pengembangan program Buruan SAE bukan hanya membudidayakan tanaman, tetapi juga pemanfaatan hasil pangan yang memiliki nilai gizi dan ekonomi. Buruan SAE diharapkan dapat menjawab sebagian dari masalah stunting. Selain itu, ketersediaan bibit dan media untuk menanam, seperti pupuk kini dapat teratasi dengan adanya Buruan SAE.

Siti Muntamah, S.AP. selaku istri Walikota Bandung menyampaikan apresiasi kepada panitia Bandung Virtual Food Festival yang dapat menyelenggarakan acara yang cerdas dan berkualitas dalam masa pandemi. Sebagai ketua penggerak PPK Kota Bandung, Siti Muntamah menyoroti pangan dan gizi dapat diatasi melalui kegiatan ini. Sebanyak 150 kelurahan sudah menjadi kelurahan yang zero waste dan menerapkan urban farming. Siti juga menyoroti pembangunan karakter untuk menjaga semangat Kota Bandung yang memiliki ketahanan pangan menjadi sangat penting dalam membangun Bandung Kota Cerdas Pangan.

Bandung Virtual Food Festival diisi dengan beragam kegiatan, mulai dari donasi makanan, sharing keprihatinan seputar fenomena limbah pangan (food waste) dan pertanian kota (urban farming), launching “Badami Food Sharing Web”, launching buku “Tiwi & Pusaran Kehidupan”, dan launching games “Earth Initiative”. Donasi yang berhasil dikumpulkan dalam acara ini akan diberikan pada panti asuhan, panti jompo, anak jalanan, dan petugas kebersihan.

Acara juga diisi dengan pemutaran video praktik baik dari Dinas Lingkungan Hidup & Kebersihan (DLHK) dan PD Kebersihan tentang penanganan sampah pangan, mulai dari Lobang Sesa Dapur, Bataterawang, Drum Komposter, Wasima, penanganan sampah masker, dan masih banyak lainnya.

Peluncuran platform Badami (Bandung Diskusi dan Monitoring Inovasi) oleh Ganjar Setya Pribadi dari Diskominfo Kota Bandung diharapkan dapat memfasilitasi pelaku usaha di bidang pangan untuk berbagi kepada masyarakat. Badami sendiri diambil dari Bahasa Sunda, yakni diskusi dan musyawarah untuk mufakat sebagai semangat yang ingin dibangun dari platform ini. Melalui platform ini, Badami diharapkan dapat menjadi bagian dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat Kota Bandung dalam menjaga ketahanan pangan. Selain itu, ditampilkan juga tur pameran 360 dalam Bandung Virtual Food Festival yang dapat diakses di food.smartcityexpo.id.

Peluncuran buku “Tiwi & Pusaran Kehidupan” dilakukan dalam masa pandemi Covid-19 untuk mendukung proses pemelajaran dari rumah, di mana keberadaan modul yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari diharapkan dapat menjadi solusi untuk membangun kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah pangan secara bijak dan bertanggung jawab bagi orang dewasa dan anak-anak. Penulis buku Tini Martini Tapran merupakan Ketua Yayasan GSSI dan project manager dari ketapang_kita.id dan Kandi Sekarwulan, peneliti dan pengembang modul anak. Secara khusus, Kandi memaparkan buku ini merupakan media edukasi lingkungan untuk dewasa dan anak-anak yang terdiri dari buklet dan modul yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain

Buku ini dibuat dalam masa pandemi dan dibuat secara interaktif, sehingga pembaca dapat masuk dan berperan dalam cerita. Melalui pendekatan belajar dengan bermain, orang dewasa dapat bercerita dan anak menjadi tokoh cerita. Buku ini juga dilatarbelakangi oleh terjadinya tragedi TPA Leuwigajah yang meledak pada 21 Februari 2005, serta serangkaian sejarah yang melatarbelakangi Hari Peduli Sampah Makanan, sehingga generasi mendatang dapat lebih sadar dengan persoalan sampah.

Selain itu, peluncuran games “Earth Initiative” dilakukan untuk merangkul kaum muda, khususnya kaum milenial agar sadar akan bahaya sampah pangan yang ada di sekeliling kita secara menarik dan interaktif. Games “Earth Initiative” sudah dapat diunduh secara bebas di Google Play Store. Dalam kesempatan ini, Bandung Food Smart City diwakili Dr. Theresia Gunawan berharap games “Earth Initiative” dapat merangkul anak muda untuk terlibat dalam kesadaran mengurangi sampah pangan. Upaya ini semakin memperkuat komitmen Bandung sebagai anggota Pakta Milan pertama di Asia Tenggara.

Penyelenggaraan Bandung Virtual Food Festival (BVFF) 2021 merupakan tindak lanjut atas bergabungnya Kota Bandung dalam keanggotaan Pakta Milan (Milan Pact) sebagai kota pertama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi limbah pangan (food waste) ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat solidaritas antarwarga dalam pemenuhan kebutuhan pangan (food sharing), serta mendukung gerakan warga untuk membangun pertanian kota (urban farming).

David Sutasurya dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) memaparkan praktik baik waste to food yang didirikan pada tahun 1993 dan memulai kampanye zero waste sejak tahun 2005. David menyampaikan terdapat 2 langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan, yakni pisahkan sejak membuang dan manfaatkan.

Sampah organik dan non organik penting untuk dipisahkan karena ribuan ton massa mengalir ke Bandung setiap harinya. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesuburan tanah dan polusi akibat akumulasi materi kimia berlebihan. Krisis tanah mengakibatkan masyarakat desa sangat tergantung pada pupuk kimia. Mengembalikan siklus alam melalui daur ulang menjadi penting untuk dilakukan agar tidak ada pencemaran, lahan pertanian tetap subur, serta hilangnya konflik desa dan

kota. Selain itu, nutrisi tanah akan mempengaruhi kesehatan tubuh manusia dari kandungan dan gizi yang ada. Banyak sekali pangan yang ditanam pada akhirnya kehilangan kandungan mineral dan gizi, sehingga dapat disebut “kopong” ketika dikonsumsi dalam tubuh akibat penggunaan bahan kimia dan polusi tanah yang terjadi.

Urban farming dan daur ulang sampah organik menjadi penting karena dalam jangka pendek dapat mengurangi 60% sampah yang dikirim ke TPA, daur ulang yang bebas racun, membangun kesuburan tanah secara berkelanjutan menuju kemandirian dan ketahanan pangan jangka panjang. Selain itu, dalam jangka panjang dapat membangun bioindustri untuk membangun masyarakat dengan kualitas hidup yang tinggi dan industri yang inovatif. Dipaparkan juga urban farming di berbagai kota di dunia yang dapat menjadi solusi atas penanganan sampah organik, contohnya di Kerela, India.

Bandung Virtual Food Festival (BVFF) 2021 dihadiri oleh lebih dari 150 masyarakat Kota Bandung, di mana setiap peserta berkesempatan untuk mendapatkan voucher senilai Rp 25.000,00 yang dapat ditukarkan dengan paket berkebun atau donasi makanan dengan kode khusus yang diberikan panitia melalui platform Badami. Acara ini diharapkan dapat menegaskan kembali semangat kolaborasi yang terjalin dalam menyukseskan program Bandung Kota Cerdas Pangan (Bandung Food Smart City) antara Pemerintah Kota Bandung, Rikolto Indonesia, dan FISIP UNPAR dengan berbagai stakeholders yang concern dengan isu pangan, sehingga isu dan persoalan terkait pangan dapat menjadi tanggung jawab bersama.