Banjir Pembeli tak Terhindarkan

13

MINGGU, 17 Mei, pk.10, tiba-tiba saja penduduk dari semua lorong, masuk kota dan bedesakan di beberapa toko. Tanpa mengindahkan PSBB, mereka menyerbu toko pakaian, perabot, bahkan toko emas terutama toko serba ada. Di sebuiah toko  serba ada, orang tumpah ruah, berkerumun dan berdesakan di jalur kas. Pedagang kaki lima, baik barang maupun makanan, tidak ketinggalan, hari itu benar-benar marema.

Peristiwa itu terjadi di hampir semua tempat di Kabupaten Bandung. Kota kecil, Dayeuhkolot. Yang sering kali terlanda banjir, hari itu, benar-benar dilanda banjir manusia. Hal itu terus memanjang sampai ke arah selatan ke Pameungpeuk, Banjaran. Pata petugas PSBB yang berusaha keras, menutup akses, nyaris tak dapat  berbuat banyak. Memang ada tindakan dengan menutup paksa toko penjual pakaian yang penuh sesak pembeli tapi masyarakat hampir tidak peduli lagi terhadap peraturan

 Medsos yang menyiarkan  berita Relaksasi Covid-19, ditanggapi masyarakat sebagai putusan pemerintah yang menghentikan PSBB. Akibatnya, masyuarakat yang sedang bersiap-siap menyambut Idulfitri, sontak berlarian menuju pasar, pertokoan, dan PKL. Mereka membeli berbagai kebutuhan Lebaran. Dalam keadaan apapun, Lebaran harus berlangsung seperti biasa. Masyarakat, sekuat tenaga, memenuhi keperluan Lebaran, baik pakaian untuk anajk-anak, bahan kue, persiapan membuat ketupat berikut lauk-pauknya.

Kota dan Kabupaten Bandung sejak Minggu itu, seperti benar-benar bebas PSBB. Kendaraan tiap hari berlalu-lalang dari selatan ke utara, atau sebaliknya.  Serpanjang hari, dari pagi hingga waktu berbuka, jalanan macet. Lihat saja sepajnjang Jl. Ibrahim Ajie, Soekarno-Hatta, Pasirkaliki, Baleendah, Dayeugkolot, Kopo, dan sebagainya, terjadi kemacegtan. Lalulintas hampir tidak berbeda dengan hari-hari biasa tanpa PSBB.

Keinginan sebagian masyarakat bebas dari PSBB itu sangat kuat. Bukan hanya masyatrakat yang ”harus”mencari nafkah dengan berjualan atau bekerja, masyarakat  konsumen, dan buruh, mendesak pemerintah membuka jalan yang sejak PSBB ditutup. Masyarakat yang merindukan melakukan ibadah secara berjamaah, baik umat Islam maupun Nasrani, juga tak henti-hentinya membuli petugas lewat medsos. Mereka berkeinginan masjid dibuka dan jamaah boleh salat berjamaah. Pelaksanaan salat Ied, juga menjadi perbincangan sangat seru. Banyak sekali orang yang tidak setruju solat ied di rumah jamaah masing-masing. Solat Ied harus di tanah lapang. Masyarakat yang sudah lama merancang mudik, tak henti-hentinya menggerutu ketika mereka dicegat dan harus kembali ke tempat asal.

Entah kapan kita terbebas dari kebingungan luar biasa. Inilah buah si malakalma.  PSBB dicabut, artinya Covid-19 akan berusia panjang, menetap di Indonesia, beredar dan menular dari masyatakat ke masyarakat. Apabila PSBB diperketat bahkan menuju lock down, banyak rakyat yang terbelenggu, tidak dapat bergerak hanya untuk mencari nafkah, salat berjamaah di masjid, kebaktian di gereja dan tempat ibadah lainnya.

Pilih mana? Kita selalu berada di antara dua pilihan, masing-masing sisi menimbulkan akibat. ***