Bareskrim Harus Proporsional Jangan Takut Sama Luhut Atau Didu

6

BISNIS BANDUNG – Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), Mahfud MD angkat bicara mengenai kasus yang dialami sahabatnya mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu. Didu dituduh mencemarkan nama baik Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Menurut dia, penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri harus menangani kasus tersebut secara profesional dan proporsional. Artinya, jangan takut dengan Luhut sebagai pelapor maupun Said Didu selaku terlapor.

Hal itu disampaikan Mahfud saat diwawancarai oleh Deddy Corbuzier yang diunggah ke Youtube pada 18 Mei 2020 lalu dengan judul Kenapa Harus Takut Luhut . “Dua-duanya sahabat baik saya. Saya bilang begini, siapa pun jangan takut dengan Pak Luhut. Kalau tidak benar dia laporannya, ya dibebaskan. Tapi juga siapa pun jangan takut dengan Said Didu, meskipun dia dikawal beberapa purnawirawan. Kalau salah ambil saja, ini hukum,” kata Mahfud , Selasa (19/5/2020).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menegaskan bahwa hukum itu panglima tertinggi di republik ini, sehingga hukum tidak boleh takut pada Luhut maupun Said Didu. Hukum harus berjalan sesuai aturan yang berlaku. Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), Mahfud MD angkat bicara mengenai kasus yang dialami sahabatnya mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu. Didu dituduh mencemarkan nama baik Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Menurut dia, penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri harus menangani kasus tersebut secara profesional dan proporsional. Artinya, jangan takut dengan Luhut sebagai pelapor maupun Said Didu selaku terlapor.

Itu kritikan

Hal itu disampaikan Mahfud saat diwawancarai oleh Deddy Corbuzier yang diunggah ke Youtube pada 18 Mei 2020 dengan judul Kenapa Harus Takut Luhut? Dan Corona Gimana Pak?.

 Mahfud menilai kasus Said Didu yang menyebut Luhut pikirannya hanya uang itu sebenarnya kritikan. Akan tetapi, kebenaraan itu harus dibuktikan melalui proses hukum yang sedang ditangani oleh kepolisian saat ini.

“Proses pembuktian nanti. Misalnya kasus Luhut, kalau bicara Luhut itu pikirannya uang, uang dan uang. Mungkin itu kritikan,” ungkap Mahpud.

Namun, lanjut Mahfud, beda halnya apabila dikatakan, misalnya Luhut memaksa Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk menyediakan dana proyek pembangunan untuk ibu kota baru di Kalimantan Timur. Itu jadi masalah, bukan kritikan. Karena ada kata memaksa, kapan dan di mana. Wong anggarannya tidak ada kan, tahun 2021 tidak ada anggaran untuk ibu kota baru, dari mana masuknya. Misalnya, mungkin Didu benar. Kebenaran itu harus dibuktikan di polisi nanti. Gitu aja kalau saya,” ujar Mahfud.

Diketahui, Luhut melaporkan Said Didu ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik. Sebab, Said Didu menyebut Luhut hanya memikirkan uang. Hal itu diunggah ke akun Youtube MSD, yang berdurasi 22:45 menit dengan judul MSD: Luhut Hanya Pikirkan Uang, Uang dan Uang. (B-003) ***